
satu minggu berlalu setelah perceraiannya dengan Jingga, Tama memberanikan diri untuk datang ke rumah orang tuanya. Tama sudah siap jika dirinya mendapatkan amukan dari kedua orang tuanya karena sudah melepas wanita sesempurna Jingga.
Tama memencet bel rumah kedua orang tuanya dan munculah sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan hijab yang melekat di kepalanya
"assalamulaikum bunda" ucap Tama mencium punggung tangan sang bunda
"wa'alikum salam Tama, kamu sendirian nak? Jingga sama sabia mana? bunda rindu sama mereka berdua" tanya bunda mencari keberadaan cucu dan menantunya
"Tama sendiri bun, boleh Tama masuk?"
"yaa ampun bunda sampai lupa, ayok masuk nak kita ngobrol di dalam" ajak bunda
"ayah kemana bun kok sepi?" tanya Tama
"ayah di taman belakang Tama, sudah beberapa bulan ini ayah kamu punya hobi berkebun" jawab sang bunda
"ada sesuatu yang mau Tama sampaikan kepada ayah dan bunda" ucap Tama serius
"ada apa? sepertinya serius sekali" tanya bunda Hasna
"bunda panggilkan ayah dulu ya, nanti aku ceritakan semuanya" pinta Tama
bunda hasna langsung memanggil suaminya yang sedang asyik menyiram tanamanya di taman belakang rumah mereka, rumah kedua orang tua Tama memang sangat besar di tambah dengan halaman rumah depan dan belakang yang begitu luas, sehingga terasa leluasa jika ayah Tama sekedar ingin membuat kebun mini
Tama menunggu ayah dan bundanya di ruang keluarga, Tama memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai menceritakan semuanya kepada bunda hasna dan ayah afif, ketika tama sedang sibuk dengan pikirannya Tama melihat bingkai foto keluarga yang terpajang di atas nakas, ada kedua orang tua tama, dirinya, jingga dan sabia yang masih berusia 3 tahun di dalam bingkai foto itu. tiba-tiba merasakan sesak di dalam dadanya mengingat semua kenangan indah yang sudah mereka lalui selama tujuh tahun pernikahan mereka.
airmatanya menetes karena merindukan saat-saat bersama dengan keluarga kecilnya yang sekarang hanya menjadi kenangan semata
"Tama kamu baik-baik saja nak?" tanya ayah afif menepuk pundak Tama
__ADS_1
"ayah" gumam Tama dengan matanya yang sudah memerah akibat menangis
Tama bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya sambil menangis sesenggukan, Tama sudah tidak bisa menyembunyikan kesedihannya di hadapan kedua orang tuanya.
"maafkan Tama ayah, bunda" ucap Tama
"ada apa sebenarnya? kenapa kamu menangis? Jingga dan Sabia baik-baik saja kan?" tanya bunda hasna yang sidah sangat penasaran dengan apa yang terjadi
"Tama dan Jingga sudah bercerai sejak satu minggu yang lalu" jawab Tama dengan sesenggukan
"APA???" pekik ayah afif dan bunda hasna bersamaan
"maafkan Tama, ini semua salah Tama makanya Jingga memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kami" ucap Tama masih bersimpuh di kaki bunda hasna
"kenapa? apa alasan kalian sampai mengambil keputusan untuk bercerai, kamu menyakiti menantu bunda?" sentak bunda Tama dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis
dengan berat hati Tama menceritakan semuanya, dari awal perkenalan dengan Jingga sampai menjadikan Jingga istri keduanya sehari setelah Tama menikah siri dengan Laras.
tangan ayah afif meremat kerah kemeja Tama dan memintanya untuk berdiri
plak
plak
Dua tamparan melayang di kedua pipi Tama membuat wajah Tama yang putih bersih menjadi memerah, ayah afif kembali mencengkram kerah kemeja yang Tama kenakan sambil menatapnya tajam sangat terlihat sorot kemarahan yang tersirat dari mata ayah afif mendengar pernyataan yang Tama utarakan
"kenapa kamu tega melakukan itu semua terhadap menantu kami hah?" sentak ayah afif tepat di wajah Tama
"kamu mati-matian mempertahankan wanita ular itu sampai tega menjadikan Jingga istri kedua kamu tanpa sepengetahuan kami? benar-benar keterlalun kamu Tama" Lanjut ayah afif dengan nafas yang memburu karena menahan amarah
__ADS_1
"dari awal ayah dan bunda tidak setuju kamu mempunyai hubungan dengan wanita itu kenapa kamu nekad sampai membuatnya hamil di luar nikah dan menyakiti Jingga hah? bunda sangat kecewa sama kamu Pratama"
"kamu menganggap kami ini apa? sampai membuat keputusan besar seperti ini tidak melibatkan kami di dalamnya, Jingga pasti sangat terluka dengan kenyataan ini Tama. kenapa kamu tega menghancurkan perasaan wanita sempurna seperti Jingga dan menjadikan cucu bunda korban keegoisan kamu" bentak bunda hasna menunjuk-nunjuk wajah Tama sambil menangis
Tama bisa merasakan kekecewaan yang di rasakan oleh kedua orang tuanya karena baru kali ini Tama melihat ayah afif dan bunda hasna marah besar kepadanya bahkan sampai menampar wajah Tama.
Jingga memang menantu idaman bagi semua mertua, pantas saja bunda hasna sampai sebegitu kecewanya mendengar Tama dan Jingga sudah bercerai
"jadi sampai sekarang kamu masih mempertahankan wanita ular itu hah?" tanya ayah afif dengan nada tinggi
"ii..iya ayah" jawab Tama gugup
"pantas saja jika Jingga memilih untuk bercerai karena kamu memang badjingan Tama, bunda tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi laki-laki brengsekk seperti ini" maki bunda hasna seakan belum puas mengungkapkan rasa kecewanya kepada anak semata wayangnya itu
"maafkan Tama ayah, bunda. Tama menyesal sebenarnya Tama sudah berniat menceraikan Laras sebelum Jingga mengetahui semuanya namun ternyata dugaan Tama salah ternyata Jingga diam-diam sudah mencari tahu semuanya dan berkahir mengguamgat cerai Tama" ucap Tama
"sudah hancur begini kamu baru menyesal?" sindir ayah afif
"sampai kapan kamu akan terus mempertahankan wanita itu Tama? kamu rela kehilangan berlian hanya untuk sebuah batu kerikil? bunda sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu" timpal bunda hasna yang masih belum bisa menerima semuanya
"secepatnya Tama akan menceraikan Laras yah, bun tapi Tama dan Laras mempunyai seorang anak. usianya selisih satu tahun dengan sabia namanya daren"
"kamu yakin kalau anak itu anak kandung kamu?"
Tama termenung mendengar pertanyaan ayah afif, dulu memang dia sempat melakukan tes DNA dengan daren dan hasilnya 99% cocok kalau Tama adalah ayah biologis daren tapi apa mungkin semua data itu di manifulasi oleh laras?
selama ini Tama tidak mendapatkan kesamaan antara dirinya dan daren bahkan dari wajah saja sangat berbeda jauh
"kenapa diam? ragu kalau anak itu anak kandung kamu sendiri?" tanya ayah afif membuat tama bungkam tak bisa berkata apapun
__ADS_1
"sekarang dimana menantu dan cucu bunda? bunda ingin bertemu dengan mereka" tanya bunda hasna ketus
"di rumah kak Jemi bun"