JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
mengkhawatirkan jingga


__ADS_3

hari ini jingga nampak tak bersemangat tidak seperti hari-hari biasanya hal itu tak luput dari perhatian arthur, ingin bertanya namun rasa gengsi di dalam dirinya terlalu menguasainya namun jika tidak bertanya arthur pun penasaran apa yang sedang terjadi kepada mantan kekasihnya itu


arthur mengetuk-ngetuk meja kerjanya berusaha mencari alasan untuk mengetahui penyeban jingga terlihat murung saat ini


"ehemm, jingga bisa buatkan saya kopi lagi" perintah arthur seakan jingga tak bisa menolaknya


"baik pak" jawan jingga patuh


jingga langsung berjalan menuju pantry untuk membuat arthur kopi untuk yang ketiga kalinya siang ini, entah Arthur sedang mengerjainya atau itu memang kebiasaan arthur yang suka meminum kopi sampai menghabiskan beberapa gelas dalam sehari padahal setau jingga dulu arthur tidak begitu suka dengan minuman berjenis kopi


"silahkan pak" jingga menyimpan kopi di atas meja kerja arthur


"terima kasih" ucap arthur di balas senyuman kecut oleh jingga


pada jam makan siang jingga memilih untuk berdiam diri di ruangan, jingga tak berselera untuk makan, jingga memilih untuk menelfon rumahnya dan menanyakan keadaan sabia apakah rewel atau tidak kepada bi idah, beruntung sabia anak yang mengerti dengan kesibukan kedua orang tuanya. sabia sama sekali tidak merengek ataupun menuntut agar jingga selalu ada bersamanya setiap waktu


sedangkan tama saat ini sedang resah karena sejak pagi jingga tidak mau membalas pesan ataupun menjawab telfon dari tama, tama sampai tidak nafsu untuk makan siang karena takut jingga kembali marah padanya, padahal tadi pagi tama juga belum sempat sarapan apapun e


"pak tumben belum makan siang" seru tama yang janya duduk menatap ponselnya


"saya aedang tidak selera makan lex" sahut tama lemas


"kok lemas gitu padahal sepertinya semalam bapak sudah lembur" sindir alex karena melihat tanda merah di leher tama yang belum tama sadari sampai saat ini


"maksud kamu?" tanya tama mengernyitkan keningnya


"itu tanda merah di leher bapak" tunjuk alex membuat tama reflek memegang lehernya dan langsung berlari ke dalam kamar mandi untuk memastikannya di balik cermin


"ya Tuhan... pasti ini alasan kenapa jingga kembali bersikap dingin tadi pagi" ucap tama sambil mengusap-ngusap tanda merah di lehernya


tama langsung mencari ponselnya setelah keluar dari kamar mandi dan langsung menelfon jingga namun sayang nomor jingga malah tidak aktif membuat tama semakin frustasi. tama benar-benar merutuki kebodohannya sampai tidak menyadari jika semalam laras membuat kiss*markdi lehernya, tama tidak tahu saja bahkam laras membuat tanda itu bukan hanya di lehernya tapi di dadanya juga


tangan tama mengepal kuat dia baru menyadari jika semalam laras sengaja menjeratnya dengan memberikannya minuman yang sudah di campurkan dengan obat lucknut itu


"benar-benar keterlaluan kamu laras" geram tama manahan kekesalnnya

__ADS_1


siang ini jingga benar-benar melewatkan makan siangnya, jingga memilih berdiam diri di meja kerjanya sambil mengecek ulamg profosal yang akan di tanda tangani oleh arthur setelah beberapa saat yang lalu jingga menangisi nasib rumah tangganya yang sudah benar-benar di ujung tanduk.


arthur masuk kembali ke dalam ruangannya setelah selesai makan siang bersama dimas, arthur mengernyitkan keningnya ketika melihat mata jingga yang sembab seperti habis menangis


"kamu tidak makan siang?" tanya arthur


"lagi gak selera pak" jawab jingga


"harusnya sedikit saja kamu mengisi perut kamu tidak baik bekerja dalam keadaan perut kosong" nasehat arthur membuat jingga menatap wajah arthur yang terlihat salah tingkah


"iya saya sudah suruh ucup untuk beli cemilan" ucap jingga merasa aneh kepada arthur yang sedikit lebih cerewet dari biasanya


"ya sudah terserah kamu saja"


arthur duduk di kursi kebesarannya masih dengan menatap wajah jingga, entah mengapa apapun yang berhubungan dengan jingga arthur tidak ingin melewatkannya barang sedetikpun


arthur mengirim pesan kepada hana untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi kepada jingga hari ini, karena sejak kedatangan jingga tadi pagi jingga terlihat murung tidak bersemangat sama sekali


jingga menyerahkan beberapa proposal yang sudaj dia pelajari untuk di tanda tangani oleh arthur sekalian jingga meminta ijin kepada arthur untuk membuat kopi untuk dirinya, arthur pun mengijinkan karena pekerjaan sudah selesai dan tidak ada kesalahan


"boleh tapi mau kopi yang di cafe sebrang kantor" sahut arthur membuat jingga mengernyitkan keningnya


"tumben" celetuk jingga


"sedang minum yang dingin-dingin saja" sahut arthur


"mau sekalian pesan yang lain?" tawar jingga lagi


"tidak, kamu bisa meminta hana untuk menemani kamu ji" titah arthur


"baik pak, saya permisi dulu" pamit jingga


jingga keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruangan hana untuk meminta menemani ke cafe sebrang kantor


"na sibuk tidak?" tanya jingga dari ambang pintu

__ADS_1


"sedikit, kenapa ji?" tanya balik hana


"pak bos minta di belikan kopi di cafe sebrang, bisa temenin aku gak"


"ayok, bentar aku matikan komputer dulu"


jingga dan hana berjalan beriringan menuju cafe, ada yang beda dengan jingga hari ini. ternyata yang di katakan arthur memang benar batin hana


"ji kamu baik-baik saja kan? kok matanya sembab? habis nangis ya?" tanya hana hati-hati takut menyinggung perasaan jingga


"nanti aku cerita setelah pulang kerja ya" jawab jingga lesu


"baiklah, kamu sudah makan? kata arthur yadi kamu gak sempat makan siang"


"lagi gak selera na"


"jangan begitu ji, kalau sakit bagaimana? aku pesankan makan dulu ya nanti makan nya di kantor saja, arthur pasti ngerti kok"


hana memesankan makanan kesukaan jingga dan empat cup ice cappucino untuk dirinya, jingga, arthur dan dimas


hana benar-benar tidak tega melihat kondisi jingga yang benar-benar membuat iba, jingga wanita yang nyaris sempurna tapi mengapa masih saja ada pria yang menyakiti jingga bahkan sampai sedalam ini.


"kamu gak apa-apa kalau lanjut kerja ji?" tanya hana memastikan


"yakin na, ayok sudah selesai kan? aku gak mau arthur sampai ngamuk karena kita terlalu lama disini" ucap jingga membayangkan wajah arthur yang menyeramkan saat marah-marah


di saat akan menyebrang tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju begitu kencang, jingga yang kebetulan berjalan lebih dulu dari pada hana tidak memperhatikan kiri kanan dan jiksa saja hana tidak menarik tubuh jingga sampai terjerambat ke atas tanah mungkin saat ini jingga sudah terkapar di ranjang rumah sakit


"ji kamu baik-baik saja?" tanya hana khawatir


"ya Tuhan siku kamu berdarah" ucap hana kaget


"tidak apa-apa na hanya lecet sedikit" sahut jingga tersenyum


"harus cepat-cepat di obati nanti lecetnya infeksi kalau di diamkan" hana menggandeng tubuh jingga sampai masuk ke dalam kantor

__ADS_1


__ADS_2