JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
masih sangat mencintaimu


__ADS_3

"ini kopinya pak" jingga meletakan kopinya di atas meja kerja arthur


"terima kasih" ucap arthur dan hanya di balas anggukan kepala oleh jingga


jingga kembali ke meja kerjanya untuk mempelajari semua jadwal arthur seminggu ke depan yang sudah dimas berikan padanya, jingga terlihat sangat serius dengan pekerjaannya itu membuat arthir menatap jingga tanpa berkedip, ya jingga terlihat sangat cantik ingin rasanya arthur memuji jingga secara terang-terangan namun dia tidak ingin terlalu memperlihatkan perasaannya terhadap jingga terlebih saat ini jingga masih berstatus sebagai istri orang


"kok kopinya rasanya seperti ini" protes arthur saat meminum kopi buatan jingga


"kenapa pak? ada yang salah dengan rasa kopinya? saya sudah buatkan kopi dengan takaran seperti yang biasa bapak buat"


"kamu rasakan saja sendiri ini rasanya terlalu pahit jingga" arthur menyodorkan cangkir yang berisi kopi itu ke hadapan jingga


"manis kok pak, apanya yang pahit" sela jingga mengernyitkan keningnya


"mungkin saya meminumnya sambil melihat kamu jadi rasanya terasa pahit" celetuk Arthur membuat jingga menggeram kesal


jingga mengusap dadanya berusaha menekan kesabarannya menghadapi sang bos yang mulai bersikap semaunya sendiri, jingga bisa melihat jika masih ada rasa dendam di dalam tatapan arthur untuknya. jika ingin berusaha profesional dalam bekerja tidak ingin mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan namun sepertinya arthur sengaja memanfaatkan keadaan ini untuk membuat jingga kesal dan mungkin berakhir dengan mengundurkan diri dari perusahaan yang di pimpin oleh mantan kekasihnya itu


jingga sempat berpikir sebenci itukah arthur kepadanya bahkan jika berbicara dengan jingga pun arthur selalu bersikap ketus berbeda jika berbicara dengan karyawan yang lain sangat ramah dan selalu tersenyum


"jadi bagaimana pak kopinya mau saya ganti saja?" tawar jingga memberanikan diri


"tidak usah, kamu pelajari saja semua jadwalku yang sudah di berikan oleh dimas, awas jangan sampai ada yang keliru setelah itu pelajari semua proposal yang ada di meja saya, setelah selesai kamu periksa serahkan kepada saya" titah arthur dengan nada suara yang sangat datar


"baik pak" sahut jingga


arthur menyunggingkan senyumnya melihat wajah jingga yang menahan rasa kesalnya, sejak dulu arthur sangat suka jika jingga sedang merajuk kepadanya dengan wajah cemberut jingga terlihat sangat menggemaskan di mata arthur. sungguh arthur sangat merindukan masa-masa itu seandainya dulu jingga tidak memutuskan hubungan di antara mereka mungkin saat mereka sudah menikah dan mempunyai anak yang lucu namun sayangnya takdir berkata lain jingga memilih menikah dengan pria lain dan sialnya sampai detik ini arthur belum bisa menghilangkan rasa cintanya terhadap wanita yang saat ini sedang duduk tak jauh dari meja kerjanya


"cantik, dan rasaku masih sama seperti tujuh tahun lalu ji.

__ADS_1


aku masih sangat mencintaimu" batin arthur yang terus memandangi wajah jingga tanpa ada kata bosan


sementara di perusahaan milik pratama, alex sedang di landa kebingungan pasalnya ada seorang wanita yang mengaku sebagai istri bosnya sedangkan yang alex tahu istri bosnya adalah jingga, lalu siapa wanita yang mengaku-ngkau sebagai istri pak pratama? itulah yang ada di pikiran alex saat ini


dengan langkah gontai alex berjalan menuju ruangan tama


"kenapa lex?" tanya tama


"ada seorang wanita yang mengaku-ngaku istri bapak dan dia ingin bertemu dengan bapak sekarang juga" jawab alex


"jingga?" tanya tama


"bukan" jawab alex membuat hati tama mulai resah


"laras berani sekali dia datang lagi ke kantor dan mengatakan dia istriku, kalau ayah sampai tahu bisa bahaya" gumam tama yang tidak dapat di dengar oleh alex


"baik pak"


alex langsung menghubungi resepsionis yang bertugas di lobi kantor untuk menahan laras agar tidak masuk ke ruangan tama


"ikut aku" tama menarik tangan laras agar ikut dengannya


"mas lepaskan, tanganku sakit" protes laras karena tama setengah menyeret lengan jingga dengan memegangnya begitu kuat


"kenapa kamu datang lagi kesini? sudah aku katakan jangan pernah datang ke kantor apalagi bilang kalau kamu adalah istriku" sentak tama menghempaskan tangan laras penuh emosi


"kamu itu sebenarnya kenapa sih mas, aku memang istrimu kan kenapa harus di tutup-tutupi?" tanya laras tak terima dengan ucapan


"tapi semua karyawanku tahu kalau istriku hanya jingga bukan kamu" bentak tama dengan mata melotot

__ADS_1


"selalu saja kamu membanggakan jingga padahal sudah jelas aku ini istri pertama kamu, dan apa aku salah jika ingin bertemu dengan suamiku sendiri hah? apa sekarang sesulit ini untuk bertemu dengan suamiku sendiri?" teriak laras yang tak kalah emosi


"kamu masih bisa menungguku di apartemen tanpa harus datang kemari kan"


"selalu seperti itu tapi kenyataannya sidah satu bulan lebih kamu tidak pernah menemuiku di apartemen jika bukan aku yang memaksa menemui kamu pasti gak akan pernah datang untuk menemuiku"


"jadi mau kamu apa sekarang? aku masih banyak pekerjaan"


"aku kangen mas, bisakah malam ini kamu menginap di apartemen? dedek bayi kangen di jenguk papinya" laras menarik tangan tama untuk mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit


"iya aku usahakan" ucap tama malas


"harus bisa dong mas, apa kamu gak kangen sama aku?" bisik laras dengan sengaja mengigit kecil telinga tama dan meluumatnyaa


"jangan seperti ini ras, nanti aku akan ke apartemen tapi agak malam" tama sedikit mendorong tubuh laras karena aaat merek sedang berada di parkiran kantor


"baiklah aku tunggu nanti malam ya mas" ucap laras dan dengan sengaja meremas benda pusaka milik tama yang sedang tertidur di balik celananya


"laras jangan gila kamu" sentak tama namun di balas dengan kecupan singkat di bibir tama


"aku akan berikan service terbaik malam ini kalau kamu datang ke apartemen"


setelah mengatakan itu laras segera pergi meninggalkan tama yang diam membeku karena sentuhan yang di berikan oleh laras membuat sesuatu yang di bawah sana menegang. jujur saja tama sudah lumayan lama tidak bergulat di aras ranjang dengan laras ataupun jingga dan sentuhan yang laras berikan barusan seakan memancing hasratt tama untuk segera di salurrkan


"aahhh si*al kenapa langsung jadi on gini sih" tama mengacak rambutnya frustasi


"apa nanti malam aku nginap di apartemen saja ya, bilang saja aku lembur kepada jingga pasti jingga gak curiga" gumam tama dengan otaknya yang berfantasi liarr dengan laras


tama kembali ke ruangannya dan meminta alex membacakan jadwalnya hari ini, tama bisa bernafas lega karena memang hari ini jadwalnya begitu padat dan tama bisa menggunakan alasan itu kepada jingga. sungguh tama sudah tidak tahan ingin segera ber*cintaa dengan laras meskipun rasa cintanya kepada laras mulai berkurang tapi jika terus di goda seperti itu tama mana tahan lagipula jika tama meminta untuk di layani oleh jingga pasti jingga akan menolak

__ADS_1


__ADS_2