
Tama membawa Laras ke apartemen, masih dengan menahan amarahnya Tama menyeret Laras masuk ke dalam apartemen tidak peduli dengan teriakan Laras yang minta di lepaskan karena cengkraman tangan Tama begitu kencang semua mata memandang dan saling berbisik ke arah Tama dan Laras namun tidak ada yang berani ikut campur ataupun melerai.
Sesampainya di apartemen Tama membanting tubuh Laras di atas sofa sampai Laras memekik kesakitan karena dahinya terbentur ujung nakas yang berada di samping sofa
"aww..." ringis Laras
"kenapa sakit?" tanya Tama dengan tatapan tajamnya
"kamu kenapa kejam sekali sama aku mas? salah aku apa sama kamu?" tanya balik Laras
"kamu tidak ada salah sama aku justru kamu melakukan kesalahan fatal karena sudah mempermalukan Jingga di depan umum" sentak Tama dengan mata yang semakin menyorot tajam seperti seekor macan yang siap menerkam mangsanya
"kenapa kamu sampai semarah ini sama aku mas? salah aku dimana?" sahut Laras tak kalah menyentak
"jelas aku marah karena Jingga bukan pelakor seperti yang kamu tuduhkan, ingat Laras jangan sekali-kali kamu mencoba menyakiti fisik ataupun batin Jingga, Jingga tidak salah sama sekali, aku yang memaksanya masuk ke dalam hubungan kita jadi stop untuk terus menyalahkan Jingga" ucap Tama memperingati Laras
"apa sih hebatnya Jingga di banding sama aku mas, sampai kamu bisa tergila-gila seperti ini sama dia?" Tanya Laras emosi
"sudah sangat jelas Jingga wanita hebat, Jingga wanita istimewa bahkan Jingga rela dirinya terluka dan memilih mundur karena tidak ingin di anggap sebagai perusak rumah tangga orang" jawab Tama lantang
"maksud kamu apa mas?" Tanya Laras lagi
"aku dan Jingga sudah resmi bercerai, puas kamu sekarang laras?" jawab Tama membuat Laras tercengang
__ADS_1
Laras sangat terkejut dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui ternyata Jingga lebih memilih untuk mundur tanpa bersusah payah menyingkirkannya, Laras tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena sekarang hanya Laras lah satu-satunya istri Tama, jalan Laras untuk membuat Tama kembali bertekuk lagi padanya menjadi lebih mudah tanpa kehadiran Jingga di hidup Tama.
Laras mendekati Tama dengan wajah yang berbinar, rasanya sudah tidak sabar untuk memeluk tubuh kekar suaminya yang sudah beberapa bulan ini tidak pernah menyentuhnya, Laras sangat merindukan sentuhan-sentuhan Tama yang selalu membuatnya melayang dan mendesaahh penuh nikmat.
Dengan tidak tahu malu Laras meraba leher Tama kemudian turun ke dada bidang Tama,Laras sudah tidak tahan ingin mengecupp bibir seksi milik Tama namun sebelum bibir mereka benar-benar bersentuhan Tama sudah mendorong tubuh Laras sampai terduduk di atas sofa
"kamu kenapa sih mas? gak kangen sama aku?" ucap Laras memandang Tama dengan tatapan menggoda dan sengaja membuka satu persatu kancing bajunya dan memperlihatkan dua aset montok miliknya
"aku sedang tidak ingin main-main Laras, jaga sikap kamu" sentak Tamako yang saat ini memang sedang tidak bernafsuu untuk berhubungan intimm dengan Laras
"kamu udah lama lho mas gak mainin ini, dia kangenUut pengen di remass sama kamu" bisik Laras menuntun tangan Tama untuk meremass dua buah dadanya yang sudah menyembul dan hanya terhalang braa merah miliknya
"ayok remass mas, mainin putiingnya... aahhh mas aku udah gak tahan" desaah Laras sengaja ingin membuat Tama bergairahh
Tama menyeringai melihat Laras yang sudah seperti jalangg yang sangat membutuhkan belaian, Laras tersenyum mengira Tama akan segera menerkamnya dan akan saling memuaskann satu sama lain namun di luar dugaan, Tama malah mendorong kasar tubuh Laras sampai terjerambab ke atas lantai, membuat gairahh Laras yang tadinya sudah meninggi lenyap begitu saja
"kamu seperti jalangg yang haus sentuhann Laras, menjijikan" bisik Tama di telinga Laras yang masih duduk di atas lantai
"apa aku salah ingin di sentuh dan di puaskan suami sendiri?" tanya Laras dengan nada suara meninggi
"tidak salah sama sekali tapi aku sedang tidak bernafsuu menyentuh kamu, aku membawa kamu kesini hanya sekedar ingin memberikan peringatan sama kamu, mulai sekarang jangan sekalipun kamu menganggu kehidupan Jingga ataupun Sabia kalau sekali saja aku mendengar kamu mengusik hidup mereka aku gak akan segan-segan menceraikan kamu" ancam Tama membuat Laras membisu
Laras tidak ingin Tama menceraikannya sebelum rencananya untuk menguasai seluruh aset milik Tama berhasil, Laras harus bertahan lebih lama lagi demi menjamin kehidupannya setelah lepas dari Tama nantu.
__ADS_1
bukan Laras sudah tidak mencintai Tama namun rasa dendam di dalam hatinya lebih mendominasi, apalagi sekarang Tama sudah sangat berubah dan mungkin saja perasaan Tama kepadanya sudag hilang tanpa sisa namun Laras sudah tidak peduli lagi tentang itu, yang jadi tujuan utama Laras sekarang hanya menguasai seluruh kekayaan Tama dan membuat hidup Tama hancur-sehancurnya
sementara itu Jingga yang saat ini sudah di bawa pulang oleh Jemi dan Maya sedang mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun, semua orang mencoba mengerti dan membiarkan Jingga untuk menenangkan pikirannya.
bunda hasna dan ayah afif yang juga ikut mengantar Jingga karena khawatir menanyakan apa yang sbeenarnya terjadi antara Jingga dan Ayah salim karena sangat terlihat jelas jika Jingga sangat kecewa kepada ayah kandungnya.
karena tidak ingin terjadi kesalahpahaman akhirnya Jemi menjelaskan semuanya tentang rencana ayah Salim yang sejal awal bersikeras ingin tetap menjodohkan Jingga dengan Laras meskipun ayah Salim tahu bahwa Tama sudah mempunyai pasangan.
bunda hasna dan ayah afif mendengarkan tanpa mencela setiap ucapan Jemi
"ya ampun Jingga pasti kecewa sekali Jem" ucap bunda hasna
"sangat kecewa tante itu alasannya kenapa Jingga memilih tinggal disini daripada harus tinggal bersama ayah, Jingga masih belum bisa kembali bersikap seperti dulu sama ayah" sahut Jemi lesu
"tidak apa-apa Jem biarkan Jingga tinggal disini dulu saja untuk sementara waktu pasti gak mudah buat Jingga buat menerima kenyataan yang membuatnya sangat kecewa dan terluka"
"iya tante"
"ya sudah kalau begitu kami pamit dulu ya Jem sudah hampir magrib, titip Sabia ya"
"pasti, Sabia sudah Jemi anggap seperti anak Jemi juga"
"kami pulang ya Jem"
__ADS_1
"hati-hati tante, om"
setelah mengantar bunda hasna dan ayah afif sampai teras rumah, Jemi memeriksa keadaan Jingga dibdalam kamarnya, Jemi takut Jingga akan semakin terpuruk karena sudah di permalukan di depan umum. Jemi bertekad untuk membersihkan kembali nama Jingga seperti dulu lagi, Jemi juga berjanji akan mengembalikan kebahagiaan Jingga yang sempat hilang