
saat ini Jingga sudah berada di kediaman Hana untuk membahas hasil sidang mediasi tadi pagi.
sebenarnya jika bisa Jingga tidak ingin ada sidang nediasi, Jingga ingin urusan perceraiannya dengan Tama segera selesai dan Jingga bisa hidup tenang tanpa gangguan dari Tama lagi dan terbebas dari statusnya yang sebagai istri kedua.
Jika mengingat bahwa Jingga adalah istri kedua dadanya kembali terasa sedak, sangat sulit untuk melupakan semua perlakuan yang di telah di lakukan oleh Tama dan ayah Salim kepadanya
"jadi hasilnya gimana Re?" tanya Jingga to the point
"masih ada sidang mediasi yang kedua Ji karena sidang mediasi yang pertama gagal jadi harus melakukan sidang mediasi yangbkedua" jawab Regan sambil menikmati kopi hitam yang di buatkan oleh Hana
"apa aku harus menghadirinya?" tanya Jingga
"terserah kamu tapi menurut aku lebih baik jangan, aku takut Tama akan memberikan keterangan palsu jika kamu hadir dan akan sulit untuk melanjutkan ke tahap sidang selanjutnya" usul Regan
"ya sudah kalau begitu aku tidak akan hadir saja, semoga saja ada pekerjaan yang mengharuskan aku pergi ke luar kota" gumam Jingga yang masih bisa terdengar oleh Hana dan Regan
"kamu tinggal bicara saja dengan Arthur Ji, kalau gak salah perusahaan sedang mendapatkan proyek di Raja Ampat untuk membuat resort dan bekerja sama dengan pengusaha disana" sahut Hana
"kamu yakin Arthur akan mendengarkan aku?" tanya Jingga
"biar aku yang bicara nanti" putus Hana
"oh ya Ji, tadi Tama sempat menanyakan keberadaan kamu sama aku dan menanyakan kenapa nomor ponsel kamu tidak bisa di hubungi" sela Regan
"terus kamu jawab apa?" tanya Jingga penasaran
"ya aku jawab saja nomor kamu masih yang lama dan selalu aktif, urusan kamu berada dimana aku pura-pura tidak tahu saja" jawab Regan terkekeh
"baguslah aku sudah malas bertemu dengannya, Tama pasti membahas hal yang itu-itu saja sampai telingaku bosan mendengarnya" sahut Jingga
hampir dua jam mereka berbincang dan di selingi dengan candaan akhirnya Jingga pamit pulang karena takut Sabia akan mencarinya, Jingga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ingin segera sampai di rumah Jemi.
sesampainya di rumah Jemi, Jingga mengernyitkan keningnya karena melihat ada sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah Jemi dan tentu saja Jingga sangat hapal dengan sang pemilik mobil itu.
__ADS_1
Jingga berjalan dengan malas, niat hati ingin segera bertemu sang putri namun malah di suguhkan dengan kedatangan tamu yang sama sekali tidak Jingga harapkan untuk bertemu dengannya
"Assalamualaikum" ucap Jingga saat masuk ke dalam rumah
"Wa'alaikum Salam, akhirnya kamu pulang juga Ji" sahut Jemi dan Maya
"habis ketemu pengacara ku dulu kak, makanya pulangnya agak terlamabat" ucap Jingga jujur
"bukan bertemu dengan mantan kekasihmu yang tidak berguna itu hah?" sentak ayah Salim yang membuat Jingga mengerutkan keningnya
"maksud ayah apa?" Jingga langsung memandang tak suka ke arah ayah Salim
"tidak usah pura-pura kamu, ayah tahu selama ini kamu sering pergi dengan Arthur kan? sudah berapa kali ayah bilang dari dulu ayah tidak suka dan tidak akan pernah merestui kamu menjalin hubungan apapun dengan lelaki itu" ucap ayah Salim membuat Jingga menghembuskan nafasnya dengan kasar
"sampai kapan ayah akan terus mengatur hidupku? apa belum cukup dengan aku yang sengaja ayah jadikan sebagi istri kedua selama ini? apa ayah masih belum puas menyiksa putri kesayangan ayah ini?" sindir Jingga
"ayah hanya ingin yang terbaik buat putra-putri ayah, ayah tidak ingin kamu mendapatkan pasangan hidup yang salah sampai membuat kamu menderita dan tidak bahagia" sahut ayah Salim
"aku mohon untuk kali ini saja biarkan aku memilih jalanku sendiri, biarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri tanpa harus di atur oleh ayah" lanjut Jingga
"tapi tidak dengan Arthur, sekalipun kamu bercerai dengan Tama ayah tidak akan merestui hubungan kalian" kekeuh ayah Salim tetap dengan pendiriannya
"bisakah ayah memberi alasan kenapa ayah tidak akan merestui jika aku kembali berhubungan dengan Arthur?" tanya Jingga
"karena Arthur tidak cukup baik buat kamu Jingga" jawab ayah Salim
"apa di mata ayah hanya Tama satu-satunya pria yang baik yang pantas menjadi suamiku?" tanya Jingga lagi
"bukan begitu Ji...."
"sudahlah ayah, jika ayah datang kemari hanya untuk menambah suasana semakin runyam lebih baik ayah tidak usah datang karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah merubah keputusanku"
"kenapa kamu jadi kurang aja seperti ini kepada ayah?"
__ADS_1
"bukan bermaksud untuk kurang ajar aku hanya ingin ayah mengerti jika sekarang aku sudah dewasa aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri dan memilih apapun yang membuatku bahagia"
setelah mengucapkan kata yang cukup membuat hati ayah Salim tersentil Jingga segera masuk ke dalam kamar Sabia karena sudah merindukan putri kecilnya yang sudah seharian ini tidak bertemu dengannya
"sayang sedang apa? kenapa melamun?" tanya Jingga melihat Sabia yang sedang melamun di atas tempat tidur
"mami kenapa bertengkar dengan eyang?" bukannya menjawab Sabia malah bertanya balik kepada Jingga
"kata siapa mami bertengkar dengan eyang sayang?" jingga mengusap rambut Sabia yang mulai panjang
"barusan bia lihat eyang marah-marah sama mami, kenapa eyang jahat sama mami?" tanya Sabia lagi hpdengan mata yang sudah berkaca-kaca
"eyang tidak jahat sayang, eyang hanya menyuruh mami untuk tidak pulang terlalu malam karena bia selalu nungguin mami di rumah" Jingga mencoba memberikan pengertian kepada Sabia
"bia sudah makan malam belum?" tanya Jingga di balas gelengan kepala oleh Sabia
"makan dulu ya sayang, ayok mami temani"
tanpa di duga Sabia langsung memeluk Jingga begitu erat membuat Jingga merasa heran dengan sikap putrinya
"bia sayang sekali sama mami, mami jangan sering pergi-pergi ya bia tidak mau di tinggal sendirian" ucap Sabia terisak
"mami juga sayang sekali sama bia, maafin mami ya nak akhir-akhir ini mami sering ninggalin bia tapi mami janji setelah urusan mami selesai mami tidak akan pernah ninggalin Sabia lagi" Jingga mengecup kening Sabia dan kedua pipi gembul Sabia
"janji ya mi" ucap Sabia
"mami janji sayang, ya sudah sekarang kita makan dulu ya bia pasti laper" ajak Jingga
"bia mau di suapi sama mami" Pinta Sabia
"siap sayang"
Jingga menggendong Sabia menuju ruang makan, jingga melihat masih ada ayah Salim yang sedang berbicara serius dengan Jemi dan Maya tanpa memperdulikan kehadiran ayah Salim, jingga langsung berjalan dan menemani Sabia makan malam
__ADS_1