
nafas bunda hasna dan ayah afif masih naik turun, baru kali ini mereka tidak bisa menahan emosi mereka bahkan sampai mengeluarkan kata-kata kasar kepada anak kandung mereka sendiri, mungkin karena sangat kecewa dengan apa yang sudah tama lakukan bunda hasna sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas di ucapkan oleh seorang ibu kepada anaknya tapi mau bagaimana lagi bunda hasna terlanjur kecewa kepada Tama
hari itu pun bunda hasna dan ayah afif langsung menemui Jingga dan Sabia, selain ingin minta maaf karena perbuatan Tama, bunda hasna dan ayah afif juga sangat merindukan Jingga apalagi Sabia cucu mereka satu-satunya
ketika sudah sampai di rumah Jemi dan bertemu dengan Jingga, bunda hasna langsung memeluk Jingga sambil berutai airmata, rasanya begitu menyakitkan melihat menantu yang selama ini dia sayangi dan dia banggakan sudah di sakiti oleh anaknya sendiri, bunda hasna merasa sudah gagal mendidik Tama untuk menjadi seorang suami yang baik
"maafkan bunda sayang, maafkan bunda. bunda baru tahu tentang perceraian kamu dengan Tama tadi pagi nak, maafkan bunda dan ayah yang tidak tahu apa-apa tentang permasalahan rumah tangga kalian selama ini" ucap bunda hasna terisak di pelukan Jingga
"bunda tidak salah apa-apa seharusnya Jingga yang minta maaf karena sudah sekian lama belum sempat mengunjungi ayah dan bunda, maafkan Jingga bunda" sahut Jingga Lirih
"tidak nak, ayah dan bunda merasa sudah gagal mendidik Tama sampai memperlakukan kamu seperti ini. tolong jangan benci ayah dan bunda" seru ayah afif menimpali dan ikut duduk di samping bunda
"tidak ayah, Jingga sangat menyayangi ayah dan bunda. Jingga tidak mungkin membenci kalian, maaf Jingga tidak bisa mempertahankan pernikahan Jingga dengan mas Tama, Jingga tidak sanggup untuk bertahan lebih lama hati Jingga tidak sekuat itu" ucap Jingga sesenggukan
bunda hasna melepaskan pelukan Jingga menatap wajah cantik Jingga yang sudah sangat sembab namun terlihat masih sangat cantik
Jingga saat ini duduk di antara bunda hasna dan ayah afif, Jingga bisa merasakan betapa kedua orang tua Tama sangat menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri namun Jingga sama sekali tidak pernah menyesali perceraiannya dengan Tama karena Jingga yakin meskipun saat ini Jingga dan Tama sudah bercerai ayah afif dan bunda hasna masih sangat menyayangi mereka dan menerima kehadiran Jingga dengan tangan terbuka
"menangislah nak, bunda sangat tahu apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Bunda tidak bisa menyalahkan kamu karena mengambil keputusan untuk bercerai dengan Tama karena di dunia ini tidak ada satupun wanita yang mau berbagi suaminya dengan wanita lain. bunda hanya tidak rela kehilangan menantu sesempurna kamu" ucap bunda hasna menggenggam tangan Jingga dengan erat
"bunda dan ayah masih mertuaku kok bahkan udah seperti kedua orang tua kandungku sendiri, aku masih tetap akan menyayangi ayah dan bunda dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun" sahut Jingga memaksakan senyumnya
"kamu memang baik nak, bunda mau tanya sesuatu tapi kamu jangn tersinggung ya" ucap bunda hasna
__ADS_1
"apa itu bunda?" tanya Jingga
"apa kamu masih mencintai Tama?" tanya balik bunda hasna
"kalau aku tidak mencintai mas tama, gak mungkin aku merasakan sakit yang begitu dalam saat tahu mas Tama mempunyai istri lain selain aku bun tapi mau seberapa besarpun aku mencintai mas Tama aku tetap gak bisa melanjutkan pernikahanku dengan mas Tama" jawab Jingga
"apa tidak ada kesempatan kedua untuk putra bunda nak? bunda benar-benar tidak mau kehilangan kamu sebagai menantu bunda"
"bagiku tidak ada toleransi untuk pria yang sudah membagi hati dan tubuhnya dengan wanita lain bun, sekalipun itu istrinya sendiri, maaf aku harus mengecewakan ayah dan bunda"
"bunda mengerti perasaan kamu, tapi kamu mau kan memaafkan Tama setidaknya demi Sabia"
"aku sudah memaafkan mas Tama bu mungkin dengan cara memaafkan aku bisa lebih mudah berdamai dengan keadaan"
bunda hasna maupun ayah afif tidak akan bisa memaksa jika memang Jingga tidak mau rujuk dengan Tama karena sebagai seorang wanita, bunda hasna bisa merasakan bagaimana sakit dan kecewanya saat mengetahui jika suami sendiri kita mengkhianati kita.
seperti kata Jingga bunda hasna berusaha berdamai dengan keadaan dan mencoba mengeikhlaskan semuanya meskipun berat tapi bunda hasna yakin akan ada hikmah di balik semua kejadian yang menimpa Tama dan Jingga
"nak apa boleh bunda bertemu dengan sabia? bunda sangat rindu dengan cucu cantik bunda" tanya bunda hasna yang sudah berhenti menangis
"tentu saja bunda, ayok sabia sedang belajar di kamarnya" ajak Jingga kepada bunda hasna dan ayah afif
bunda hasna dan ayah afif berjalan mengekori Jingga menuju kamar sabia, bunda hasna tidak menyangka jika semua ini akan terjadi pernikahan Jingga dan Tama yang dia harapkan akan bertahan sampai maut memisahkan mereka namun kenyataannya harus kandas karena ada orang ketika dan lebih mirisnya lagi disini Jingga selaku istri kedua merasa menjadi penggangu hubungan antara Tama dan Laras meskipun sejak awal Jingga tidak mengetahui tentang hubungan Tama dan Laras namun tetap saja di mata-mata orang-orang yang tidak mengetahui dengan jelas permasalahan mereka akan menganggap Jingga sebagai pelakor
__ADS_1
"bia sayang" panggil bunda hasna
"nenek" pekik sabia girang dan berlari ke arah bunda hasna
"kakek gak di sapa juga? bia gak kangen ya sama kakek?" ucap ayah afif pura-pura merajuk
"kangen dong, bia kangen sama nenek sama kakek juga" sahut sabia mengecup pipi bunda hasna dan ayah afif
"sini peluk dulu" bunda hasna memeluk sabia dan mengecup setiap inci wajah sabia dengan gemas
"nenek sama kakek kesini sama papi juga?" tanya sabia polos
"tidak sayang, papi gak tahu kalau nenek sama kakek kesini" jawab bunda hasna
"katanya papi mau kesini mau ajak bia jalan-jalan soalnya hari ini bia libur sekolah tapi kok papi gak datang-datang" sabia mengerucutkan bibirnya lucu
"gimana kalau jalan-jalannya sama nenek sama kakek aja, bia mau?" tawar ayah afif
"mau... tapi beliin es krim ya kek?" pinta sabia
"apapun untuk cucu kesayangan kakek" ayah afif langsung menggendong sabia dan keluar dari kamarnya
Jingga tersenyum melihat sabia yang terlihat bahagia karena bertemu dengan kakek dan neneknya, Jingga bersyukur karena kedua orang Tama tidak menghakimi Jingga karena perceraian di antara mereka.
__ADS_1
ada sedikit rasa bersalah di hati Jingga karena membuat bunda hasna dan ayah afif kecewa namun Jingga tidak ada pilihan lain selain mengakhiri pernikahannya dengan Tama