JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
liciknya laras


__ADS_3

Tama terdiam mendengar ucapan Laras yang memang benar adanya, selama ini Tama terlalu fokus pada permasalahan rumah tangganya dan Jingga sehingga Tama melupakan keberadaan laras dan calon anak kedua mereka, tama merasa sudah gagal untuk menjaga calon buah hatinya meskipun saat ini erasaan Tama kepada Laras memang sudah hambar tapi tetap saja tama harus bertanggung jawab terhadap darah dagingnya sendiri sekalipun suatu saat nanti Tama akan bercerai dengan Laras. Tama masih berharap pernikahannya dengan Jingga masih bisa di selamatkan meskipun harapannya cuma seujung kuku tapi Tama tetap akan berusaha menyelamatkan rumah tangganya dengan Jingga apapun rintangannya, maka dari itu Tama belum memberitahu Laras jika Jingga telah menggugat cerai dirinya


"mas ingin bertemu dengan dokter yang menangani kamu" ucap tama


"jangan mas" cegah laras dengan sedikit ketakutan


"kenapa? Bukanya wajar mas ingin tahu kondisi kamu setelah proses kuretase semalam?" tanya tama mengernyitkan keningnya


"aku sudah baik-baik saja lagipula janinnya masih berbentuk gumpalan darah dan sepertinya dokter yang menanganiku juga belum datang" jawab Laras


"memangnya siapa dokter yang menangani kamu? Kapan dia akan visit? Mas ingin tahu kondisi kamu sekarang soalnya mas masih banyak pekerjaan di kantor kalau keadaan kamu sudah membaik mas tenang kalau harus meninggalkanmu ke kantor" seru tama yang fokus dengan ponsel di tangannya


"siaalann, ternyata kamu lebih mementingkan pekerjaan daripada aku. Aku harus menghubungi dokter andi terlebih dahulu sebelum tama bertemu dengan dokter obgyn yang lain" batin Laras sambil mengedarkan pandangannya mencari ponselnya


"kamu cari apa?" tanya Tama melihat Laras celinguk celinguk seperti mencari sesuatu


"ponselku mas" jawab laras


"kamu sedang sakit ras buat apa pegang ponsel" protes tama


"aku mau menanyakan kabar daren, semalam aku meninggalkannya dengan tetangga apartemen mas. Aku khawatir daren akan rewel" sahut Laras berbohong


Tama pun ikut mencari dimana ponsel Laras berada karena Tama juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan putra pertamanya.


Setelah menemukan ponselnya, Laras langsung menghubungi dokter Andi untuk mengikuti semua rencana yang sudah dia bicarakan semalan dengan dokter obgyn itu


"kenapa?" tanya Tama melihat Laras masih mengotak-ngatik ponselnya


"telfonnya tidak di jawab biar aku kirim pesan saja" jawab Laras


"ya sudah"

__ADS_1


Sedangkan di ruangan lain saat ini Jingga sedang menemani hana untuk melakukan pemeriksaan dan USG oleh dokter obgyn yang kebetulan dokternya adalah dokter andi dokter yang sama yang menangani laras, selama menunggu Regan datang Jingga selalu setia menemani sahabatnya itu untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.


Setelah Hana selesai di periksa Jingga meminta ijin untuk mengurus biaya administrasi terlebih dahulu, namun saat sedang berjalan samar-samar Jingga mendengar obrolan sepasang dokter yang berjalan di belakangnya,


"ada apa dokter Andi?" tanya seorang dokter bedah kepada dokter obgyn itu


"tapi dokter jangan bilang kepada siapapun ya, ini rahasia kita berdua"


"memangnya ada apa?"


"ada salah satu pasien yang meminta saya untuk memalsukan hasil diagnosa dan harus mengatakan kepada suaminya jika pasien itu baru saja mengalami keguguran dan sudah melewati proses kuretase padahal sebenarnya pasiean itu tidak sedang hamil dia hanya berpura-pura saja untuk membohongi suaminya" bisik dokter Andi kepada teman dokternya itu namun masih bisa terdengar oleh Jingga


"wah hati-hati dok kalau sampai ketahuan oleh kepala rumah sakit, dokter Andi bisa jena sanksi yang cukup berat" sahut dokter bedah yang bernama heru


"makanya jangan sampai ada yang tahu dok cukup dokter heru saja yang tahu. Dokter heru bisa di percaya kan?"


"saya tidak akan ikut campur urusan dokter Andi tapi saya heran kenapa dokter Andi mau melakukan ini semua untuk seorang pasien yang baru saja anda temui"


"ya Tuhan masih ada orang yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya" batin dokter heru


"ya sudah dok, hati-hati saja jangan sampai semua ini terdengar oleh pihak rumah sakit yang lain apalagi oleh kepala rumah sakit. Saya duluan masih ada operasi"


Jingga mengerutkan keningnya mendengar ucapan kedua dokter itu, Jingga sengaja memelankan langkahnya dan berpura-pura menjawab panggilan telefon untuk melihat siapa dokter yang sudah berani berbuat curang hanya demi kepuasan birahiinya.


Mata jingga terbelalak ketika melihat dokter itu adalah dokter yang baru saja memeriksa hana.


"aku harus bilang sama hana kalau harus ganti dokter obgyn yang lain, masa hana mau di tangani dokter mesum kayak begitu" gumam jingga bergidik ngeri


Jingga berjalan terburu-buru menuju pihak administrasi karena ingin segera kembali ke ruangan hana untuk membicarakan tentang dokter Andi, namun di tengah perjalanan tanpa sengaja Jingga menabrak seseorang sampai terjatuh


brugh....

__ADS_1


"aww...." jingga meringis karena pantatnya terasa ngilu karena terbentur lantai rumah sakit


"maaf saya tidak sengaja" ucap seorang pria yang menabrak Jingga


"tidak apa-apa saya yang salah, saya jalan terlalu terburu-buru" sahut jingga berusaha untuk berdiri dengan sigap pria itu membantu Jingga untuk berdiri


"Jingga, ternyata kamu" sahut pria itu setelah dengan jelas melihat wajah Jingga


"ya Tuhan Arthur... Aku kira siapa" sungut jingga yang masih merasakan ngilu sekitaran pinggangnya


"kamu kenapa jalannya buru-buru gitu? mana yang sakit?" tanya Arthur meneliti setiap inci tubuh jingga


"pinggangku sedikit sakit, kamu kok sendirian dimas mana?" tanya jingga


"dia sedang ke toilet"


Arthur memapah tubuh Jingga dengan hati-hati karena takut tubuh jingga semakin terasa sakit, Arthur mendudukan jingga di atas kursi tepat di depan ruangan Hana di rawat


"lho Ji kamu kenapa?" tanya Regan yang baru saja datang


"jatuh Re, sudah masuk saja aku gak apa-apa. Hana sudah menunggu kamu sejak tadi" titah Jingga


"ya sudah aku masuk ya, Ar jagain Jingga ya" pinta Regan dengan senyuman jahilnya


"iya, sudah masuk sana" Arthur mendorong tubuh Regan agar segera masuk ke dalam ruangan Hana


Sedangkan Dokter Andi yang baru saja masuk ke dalam ruangan Laras tidak terkejut ketika melihat seorang pria tampan berjas abu-abu sedang duduk di samping Laras, siapa lagi kalau bukan suami dari Laras yaitu Tama.


Dokter Andi langsung menyunggingkan senyumnya dan berjalan mendekati Laras dan Tama


"selamat siang ibu Laras, bagaimana keadaan ibu? Apa sudah lebih baik?"

__ADS_1


__ADS_2