JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
tidak ada yang mendukung Tama


__ADS_3

Arthur tertawa begitu kencang melihat wajah Jingga yang sudah sangat memerah seperti kepiting rebus. Arthur yakin di sudut hati terdalam milik Jingga masih ada sisa cinta untuknya, Arthur hanya butuh waktu untuk lebih bersabar lagi agar Jingga bisa kembali mencintainya seperti dulu.


Hanya menunggu sebentar lagi Arthur akan kembali memperjuangkan cintanya yang sempat hilang, seperti yang pernah di ucapkan Dimas, Arrlthur sudah tidak bisa berpaling lagi kepada wanita lain hanya Jingga yang bisa membuat dirinya tergila-gila dan jatuh cinta sampai sedalam itu tak peduli jika setelah ini Jingga akan menyandang status sebagai janda anak satu.


Arthur terus menyunggingkan senyumnya membuat Jingga heran


"kenapa menatapku seperti itu Ji?" tanya Arthur


"kamu aneh" jawab Jingga membereskan bekas makan dirinya dan Arthur


"tidak ada yang aneh kalau itu berhubungan sama kamu Ji, aku bahagia bisa kembali sedekat ini sama kamu meskipun hubungan kita saat ini masih sebatas sekretaris dan atasannya tapi untuk sekarang itu sudah cukup untukku" ucap Arthur membuat Jingga menghentikan aktifitasnya dan menatap atasannya itu


"kenapa kamu masih sendiri sampai sekarang Ar? menikahlah umurmu sudah cukup untuk menikah bahkan untuk memiliki anak" cetus Jingga tiba-tiba mengalihkan pembicaraan membuat Arthur mengerutkan keningnya


"sebentar lagi aku akan menikah dan langsung mendapatkan bonus satu anak yang cantik dan menggemaskan" sahut Arthur percaya diri namun Jingga sama sekali tidak peka dengan apa yang Arthur ucapkan


"maksud kamu apa?" tanya Jingga tak mengerti


"tunggu beberapa bulan lagi nanti kamu juga akan mengerti maksud dari ucapanku Ji" jawab Arthur membuat Jingga semakin bingung


"ngomong sama kamu itu sama kayak lagi ngisi soal ujian bikin pusing" gerutu Jingga lalu kembali ke meja kerjanya sedangkan Arthur hanya tergelak melihat kelakuan pujaan hatinya itu


baru saja Jingga duduk ponselnya sudah berdering, jingga melihat nama Regan di layar ponselnya. Jingga langsung menjawab panggilan telefon dari Regan karena sangat penasaran dengan hasil sidang mediasi tadi pagi


"Hallo re"


^^^"iya Ji, apa sepulang kerja kita bisa bertemu?"'^^^


"kita ketemu di rumah kamu saja ya, nanti aku pulang bareng Hana"

__ADS_1


^^^"baiklah, aku tunggu"^^^


"oke, bye"


"siapa?" tanya Arthur setelah jingga mematikan panggilan telfonnya


"kepo" jawab Jingga membuat Arthur memberengut kesal


"nyebelinnya gak ilang-ilang dari dulu" gerutu Arthur dan terdengar jelas di telinga jingga


"tapi cinta kan" goda Jingga dengan mengulum senyumnya


"ENGGA" sahut Arthur kesal


"cieee, ngambek kayak anak kecil" ledek Jingga


"berisik, cepat selesaikan pekerjaan kamu. sebentar lagi meeting di mulai" titah Arthur


sedangkan di tempat lain Tama sedang menunggu Regan yang masih berbincang dengan rekan sesama pengacara di dalam ruangan persidangan, Tama berharap Regan bisa di ajak kerjasama dan mau membujuk Jingga agar mencabut gugatan perceraiannya sebelum sidang berikutnya di gelar


"pak Regan tunggu sebentar" teriak Tama sedikit berlari melihat Regan keluar dan berjalan dengan terburu-buru


"ada apa pak Pratama?" tanya Regan setelah Tama berada di hadapannya


"kenapa Jingga tidak hadir pak? sengaja atau memang ada kepentingan yang lain?" tanya balik Tama kepada Regan


"saya kurang tahu pak, yang jelas Bu Jingga menyerahkan semua urusannya kepada saya" jawab Regan berkilah


"masa tidak ada konfirmasi apapun sama bapak, kan bapak pengacara sekaligus suami dari sahabat Jingga sendiri" ucap Tama yang tidak percaya dengan jawaban Regan

__ADS_1


"itu bukan hak saya untuk menanyakan hal yang bersifat pribadi kepada klien saya pak, saya hanya berkomunikasi jika membahas masalah perceraian saja tidak lebih dari itu, jika tidak ada yang mau di tanyakan saya permisi masih ada urusan yang lain" pamit Regan karena tidak ingin terlibat pembicaraan cukup lama dengan Tama


"kenapa nomor ponsel Jingga tidak bisa di hubungi? pasti pak Regan selalu komunikasi dengan Jingga kan? apa Jingga mengganti nomor ponselnya?" tanya Regan yang masih penasaran


"nomor Bu Jingga masih nomor yang lama pak Pratama, permisi saya duluan" Regan segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Tama yang kesal karena tidak puas dengan jawaban Regan


"brengsekkk" umpat Tama yang tidak mendapatkan informasi apapun dari Regan


Tama tak henti-hentinya mengumpat niat hati ingin meminta bantuan untuk membujuk jingga malah berakhir dengan kekesalan di hatinya, Regan terlihat seperti menutup informasi tentang Jingga kepada Tama.


Tama berjalan menuju dimana mobilnya terparkir, Tama mengetuk-ngetuk setir mobilnya memikirkan bagaimana caranya untuk menyelamatkan rumah tangganya yang sudah di ambang kehancurab, tidak ada yang membantunya seorang pun hanya ayah Salim yang sampai saat ini masih berpihak padanya


"sepertinya aku harus menemui ayah Salim lagi" gumam Tama sambil menyalakan mesin mobilnya


sedangkan Laras yang baru saja melakukan pergumulan panasnya dengan dokter Andi kini sedang duduk manis di depan meja rias dengan masih mengenakan handuk kimononya, sejak kejadian waktu itu di rumah sakit hubungan tanpa status antara Laras dan Dokter Andi berlanjut sampai sekarang meskipun tidak adanya komitmen ataupun status hubungan yang jelas di antara keduanya tapi dalam urusan ranjang keduanya sama-sama saling membutuhkan bahkan hampir setiap hari dokter Andi datang ke apartemen Laras untuk sekedar menyalurkan nafsuu birahinyaa


"terima kasih ya ras kamu selalu memuaskanku" bisik Andi memeluk tubuh Laras dari belakang


"kamu juga selalu memuaskanku mas, makasih ya karena kamu, aku sudah tidak pernah kesepian lagi" sahut Laras membalikan tubuhnya menghadap dokter Andi


"kamu masih menggunakan pil kontrasepsi kan?" tanya dokter Andi


"tenang saja aku pastikan kalau darah dagingmu tidak akan tumbuh disini mas, kita melakukan semua ini hanya untuk senang-senang tidak lebih dari itu kan" jawab Laras sambil mengelus-elus perutnya


"cerdas" ucap dokter menjawil dagu Laras


"satu ronde lagi ya sebelum aku kembali ke rumah sakit" pinta dokter Andi mengecup tengkuk leher Laras


"as you wish honey" sahut Laras langsung mengalungkan tangannya di leher Andi

__ADS_1


dan terjadilah pergumulan panas dan liar di antara keduanya, Laras dan dokter Andi sudah tidak memikirkan tentang dosa lagi, yang ada di dalam benak mereka hanya memikirkan tentang kepuasan ranjang saja tidak peduli dengan hukum karma yang bisa kapan saja datang menghampiri mereka. hukum tabur tuai itu pasti ada namun kita tidak pernah tahu kapan masa itu akan datang.


dokter Andi yang sudah tidak memikirkan kondisi istrinya yang terbaring sakit tak berdaya, saat ini hanya memikirkan kepuasan dirinya saja bahkan jika istrinya sekarat meregang nyawa pun sepertinya dokter Andi tidak akan pernah peduli sedangkan Laras yang memang sudah terbiasa berhubungan badan dengan pria selain Tama sudah merasa tidak berdosa lagi karena sudah berkhianat kepada suaminya, Laras melakukan itu semua sebagai bentuk pelampiasan atas perilaku Tama yang sudah mengkhianati Laras dengan menikahi Jingga


__ADS_2