Jodoh Di Dalam Mimpi

Jodoh Di Dalam Mimpi
Inah dan Rosa


__ADS_3

Sepulang dari masjid tempatnya melakukan solat magrib berjamaah, hp Nando berdering dari Doni.


"Halo bos Nando, kerjaan beres, tapi bau perabotan baru belum bisa diminimalisir. perlu beberapa hari buat ilang total"


"hmmm baiklah, kerja bagus, sekarang kamu boleh pulang Don"


"oke, aku rasa mulai besok aktifitasmu mulai normalkan, apa perlu aku jemput sebelum ke kantor?"


"oke, sampai jumpa besok"


...........


setelah makan malam bersama keluarga, akhirnya Nando, Marsya dan Denis bersiap pulang. serta di mobil lain sudah ada bik sum, inah dan rosa yang akan diantar mang Damin menuju kediaman Nando


barang bawaan Nando banyak sekali, aku bahkan tidak melihatnya packing barang seharian tadi, huuft gausah tanya siapa yang bereskan, sudah pasti Nando hanya tunjuk tunjuk saja kerjanya


Dalam perjalanan pulang Denis ketiduran di pangkuan Marsya, anak itu kelelahan setelah seharian bermain bersama keluarga baru nya, apalagi keadaan rumah nando yang besar membuatnya bebas berlari kesana kemari


"Nando, Denis tidur dia pasti kelelahan, untung aku tadi bawa baju ganti, jadi Denis sempat mandi dan ganti baju dulu"


"gak apa apa, nanti aku gendong dia ke kamar" ucap nando sambil tersenyum melirik Denis


"Nando, aku bisa ngerti kalo km bawa bik Sum, tapi Inah da Rosa kenapa harus ikut juga"


"oohh mereka keponakan Bik Sum dari desa, usianya masih belasan baru lulus SMA, datang ke kota ini mau cari kerja, tapi karena gak punya tempat tinggal makanya mama bolehin mereka tinggal di rumah"

__ADS_1


"ooh jadi mereka kerja dirumah kamu gitu?"


"sebenarnya rumah ku gak kekurangan ART, mungkin mama kasihan jadinya ikut kerja juga sama Bik Sum dan sekarang mereka ikut kita"


"tapi kerjaan dirumah kita apa, sampai harus punya 3 ART"


"dasar bodoh, kaya gitu aja kamu fikirin. Inah dan Rosa kan bisa jadi baby sitter nya Denis, bagus juga kan aku jadi gak repot cari lagi, lagian mereka keponakan Bik Sum, beliau sudah jadi pengasuhku dari aku bayi, mungkin saat itu usia Bik Sum sama seperti Inah dan Rosa sekarang"


"trus gaji nya?"


"nyonya Marsya, gausah cerewet itu biar urusanku saja okey. lebih baik kamu jelasin yang tadi kamu bilang di food court, apa betul kata Doni kamu menyesal menikah sama aku?"


"yang mana sih" marsya berfikir sejenak lalu ingat "ooohhh itu, bukan menyesal kok hanya sedikit menyesal aku terlambat tau soal siapa kamu sebenarnya"


"sama saja ada kata menyesal. Marsya aku tau yang ada difikiranmu jadi dengar aku baik baik, jangan merasa rendah diri sedikitpun, aku tidak peduli soal masa lalu serta latar belakang mu, yang aku mau cuma kamu, jadi tegakkan kepalamu mulai sekarang, bila ada sesuatu yang menggoyahkanmu, cukup lihat aku, sebut namaku dalam doamu dan semua akan baik baik saja."


..........


mobil berhenti di tempat tujuan, smua sibuk menurunkan barang bawaan didalam mobil, mang Damin pun ikut membantu setelah selesai baru dia kembali ke rumah utama yaitu kediaman Alfariz Syech.


Marsya yang masuk rumah lebih dulu, merasa takjub dengan hasil kerja Doni, dan berfikir mungkin dia betulan Sangkuriang abad ini. semua bersih tanpa cela, walaupun lemari kaca masih kosong tanpa hiasan, tapi sepertinya sebutir debu pun tidak ada disana.


Marsya masih sibuk mengagumi kondisi rumahnya yang baru, bahkan 3 kamar di lantai 2, mendadak sudah tertata rapi. satu untuk Denis, satu untuk ART, dan satu lagi untuk tamu, Nando benar mempersiapkan semuanya, ketika di Toko Furniture Marsya bingung kenapa Nando beli tempat tidur banyak sekali. tapi ternyata ini hasilnya.


Nando keluar dari kamarnya setelah meletakan Denis di tempat tidur, lalu dia duduk di sofa baru di depan kamar itu yang kini bisa di sebut ruang keluarga. lalu memanggil Marsya yang masih sibuk di lantai dua, entah sedang apa.

__ADS_1


akhirnya Marsya turun dan duduk di sebelah Nando, sedangkan Bik Sum dan yang lainnya masih sibuk memasukan koper koper Nando dan milik mereka sendiri


"Bik, punyaku simpan disini saja, besok tolong rapikan ke kamarku ya, oiya kamar Bik Sum di atas yang paling kiri sebelah kamar tamu"


"iya mas Nando, sudah jangan pedulikan bibik, silahkan dilanjut ngobrolnya" ucap Bik Sum sambil berlalu


"kenapa kamu ikut sibuk sih, sini aja temanin aku" ucap Nando pada Marsya


"aku cuma mengagumi perubahan besar besaran ini, semuanya sangat sempurna"


"sempurna apanya, liat ni ruangan ini, gada Tv sama sekali" ucap Nando sambil menunjuk lemari TV di depan nya


"itu kita beli belakangan aja, kalo mau nonton sementara di kamar aja ya"


ayolah kasih nafas sedikit untuku, seharian ini kita sudah mengeluarkan banyak uang


"gak bisa, mataku sakit seperti ada yang kurang, ayo besok kita belanja elektronik"


"Nando, waktu kita masih panjang, kita bisa mencicil satu satu, sambil kita berkencan, kenapa harus sekaligus sepertinya rumah ini ada batas waktunya saja, lagi pula besok aku kerja gak kaya kamu yang bisa bolos melulu"


Berkencan, benar juga. aah kenapa aku gak kefikiran, hingga saat ini aku belum pernah berkencan dengan benar sama Marsya. kapan dia mulai bisa mencintaiku bila sehari hari kami hanya sibuk dengan pekerjaan dan hal rumah tangga.


"berhenti menggunakan kata mencicil,membosankan, dan jangan kamu fikir ini suatu pemborosan, ini semua kebutuhan dasar yan wajib aku penuhi sebagau kepala keluarga, Sandang,Pangan, Papan, km belajar kan di sekolah"


"oiya satu lagi, ayo kita lakukan...'Berkencan' "

__ADS_1


..............


__ADS_2