Jodoh Di Dalam Mimpi

Jodoh Di Dalam Mimpi
Apa Pemicunya?


__ADS_3

Kronologi kejadian sudah di jabarkan dengan rinci dengan versi nya masing masing, Alfaridz memberikan kesempatan pada Nando untuk memberikan komentar nya.


hatinya sangat ingin membela Marsya, namun cerita yang dihadirkan didepannya sangat menyudutkan istrinya, seperti tidak ada celah melawan keinginan Eliza untuk melakukan tuntutan itu.


sebelum menjawab Nando menatap Doni, teringat dengan ucapan sahabatnya itu saat dimobil tadi


Pemicu, pasti ada pemicunya kenapa Masya bisa bertindak demikian tapi apa itu? ada yang aku lewatkan dari cerita mereka


"Nando" Papa Faridz mengingatkan lagi agar Nando berkomentar


"ya papa, terimakasih sudah mengambil tindakan secara cepat, karena hanya 2jam saja berlalu, cerita mereka sudah berbeda.. aku tidak bisa membayangkan bila hal ini dibiarkan belarut2, Mungkin istriku akan semakin disudutkan" umpan pertama yang diucapkan Nando


"heii Nando, cerita kami tidak ada yang berbeda, kami menceritakan kejadian sebenarnya" ujar ima membantah pernyataan Nando


"Benarkah? kalian yakin hanya membahas soal perceraian Adik Tania, lalu Marsya marah karena kalian membicarakan soal menjadi Janda? kalian fikir istriku gila"


"itu benar, dia marah karena kami membahas soal janda, dia fikir kami membahas masa lalu nya" ujar Eliz membela diri


"lalu dia bilang tidak mau menjadi janda dan ingin menukar semua dengan nyawa suaminya yang dulu"


hatiku bahkan sakit mengucapkan itu dengan mulutku sendiri


"Benar Nando, dia tidak bersyukur bisa menikah dengan mu, dia lebih memilih hidup dengan mantan suaminya itu"


"kalian mengatakan itu padanya? membandingkan aku dengan Almarhum suaminya??"


"tidak, kami tidak membandingkan kalian, kami hanya bilang tidak ada salahnya menjadi janda karena hidup Marsya saja berubah setelah dia menjadi janda, karir dan suami sepertimu, semua dia dapatkan setelah menjadi janda" Ima menambahkan kembali

__ADS_1


"ya benar, setelah itu dia marah dan mengatakan aku kurang ajar, tidak ada yang pernah berkata kasar padaku, bahkan papa mamaku saja tidak pernahh" Eliz tersulut emosi mengingat tamparan yang diterimanya


"Nando, mereka seperti itu hanya ingin menyemangati aku, agar adik ku bisa melangkah bebas dari rumah tangga nya yang tidak sehat saat ini"


Nando menggerbrak meja ruang tamu di depannya, dia berkata dengan sangat marah


"apa pantas Marsya di jadikan contoh untuk kalian? dia menjadi janda bukan hasil perceraian tapi takdir Tuhan"


"Janda tetap saja janda, mau hasil cerai atau meninggal, tetap saja janda...aku sudah bilang seharusnya dia bersyukur suaminya meninggal jadi dia bisa menikah dengan kamu"


"KAU GILA ELIZA!!!!! kau bilang begitu padanya??? kalian semua.... jawab aku, benar Eliza bilang begitu pada Marsya??"


semua pun kompak menganggukan kepalanya


"Papa, lihat sendiri kan..hanya dua jam, cerita mereka sudah berubah versi, mereka menyudutkan istriku seolah dia wanita gila yang tidak bisa menahan amarah, tapi sebenarnya mereka lahh orang orang yang gila itu, Kak Nisya kenapa kakak menyembunyikan hal terpenting ini?"


"dengar kalian semua para wanita" sambil menunjuk Kak Nisya, Tania, Liza, Ima dan Nazwa "aku ingin tahu, apakah kalian masih bisa bersyukur bila suami kalian mati mendadak nanti? oohh aku penasaran, mau aku bantu biar proses kematiannya lebih cepat??biar kalian tahu rasanya menjadi Marsya seperti apa"


Papa Faridz pun akhirnya bisa tersenyum ada kebanggan terpancar disana


Bagus seperti itu lah anakku seharusnya, bila kau ingin mempertahankan istrimu, kamu harus bisa membelanya dengan seluruh jiwa ragamu. Walau sebenarnya bila kamu tidak berhasil membalikkan keadaan, papa akan tetap berdiri mendukungmu.. tapi kamu memang tidak pernah mengecewakaku Nando


Para wanita yang ditunjuk Nando pun melirik pasangannya masing2 lalu mulai menangis dan Eliz lah yang paling histeris, menyadari kesalahannya


"tidakk Nando jangan bunuh suamikuu, jangan bunuh suamiku aku mohon" Eliz seperti itu karena tahu akan ucapan Nando yang tidak pernah main main


"kamu fikir aku manusia tidak beriman bisa membunuh orang? aku akan melakukan dengan cara lain"

__ADS_1


Eliz teringat dengan ucapan Papa Farhan dikamarnya, tentang saham Alfas Pharma yang 51% adalah milik Nando, tentu saja dia takut Nando akan mengambil alih perusahaan Papanya, membunuh keluarga mereka secara perlahan karena kebangkrutan


AlFarhan diam, pasrah dengan kelanjutan hidup mereka, menentang Kakak nya bukan lah hal bijak, terlebih lagi kakak nya sangat mendukung Nando dari belakang.


"Tidakk Nando, aku bersalah, aku bersalah, jangan lakukan apapun pada keluarga kami, aku minta maaf"


"kamu bersalah? bagaimana bisa, bukankah tadi kamu bilang ingin menuntut istriku, ayoo cepat lakukan, maka aku akan menuntut balik dengan semua pasal yang bisa menjatuhkanmu, kita akan selesaikan ini di pengadilan"


Mama Nadia memandang suami dan anaknya secara bergantian, tampak dari raut wajah mereka seperti siap untuk berperang. sedangkan keluarga Alfarhan seperti pasrah dan tidak ingin masalah ini melebar kemana2


tidak bisa, keluarga ini bisa hancur dan terpecah belah bila Nando dan suamiku bersikeras. Cinta bisa mejadikan seseorang kejam, tapi cinta juga yang akan meluluhkannya.. Marsya, mama akan coba membawa namamu untuk menenangkan amarah lelaki ini, lelaki yang tergila gila kepadamu.


"Nando, bila kalian saling menggugat ke pengadilan, kabar keretakan keluarga besar akan tersebar kemana2 dan pada akhir nya nama Marsya pasti muncul, entah dia bersalah atau pun benar tp media akan menyebarkan bahwa Marsya lah penyebabnya, kamu yakin menginginkan itu?"


"Mama, bila aku memaafkannya kali ini, mereka sewaktu waktu bisa kurang ajar lagi pada istriku"


"kamu mengenal istimu, apa Marsya sanggup menahan rasa bersalahnya bila dia menjadi penyebab keretakan keluarga besar kita?"


pertanyaan Mama menyadarkan Nando, dia tahu bila hal itu terjadi, rumah tangga mereka pasti kembali berjalan seperti semula dengan Marsya pasti akan selalu tersenyum di hadapannya, tapi menangis diam diam karena kehancuran keluaraga besar Nando.


"Pa, aku serahkan keputusan akhir pada Papa"


"kamu yakin tidak menyesal menyerahkan nya pada Papa"


"tidak akan, Papa yang paling realistis disini, baik buruk nya untuk kita, papa yang lebih tahu"


............

__ADS_1


__ADS_2