
Nando tiba dikamar hotel orang tuanya, Kamar president suite yang dilengkapi dua kamar tidur, ruang tamu dan ruang makan sendiri.
di ruang tamu kamar itu anggota keluarga inti masih berkumpul menunggu kehadirannya, tampak raut wajah cemas dari Mama Nadia, dan kedua kakak nya, sementara Papa Faridz menatap nya dengan dingin.
Nando datang langsung bersimpuh di lutut Mama Nadia yang sedang duduk, tanpa berkata apa apa Nando hanya menunggu untuk interogasi dari kedua orangtuanya. mempertanggung jawabkan ucapan seorang wanita yang dia pilih untuk dijadikan istri.
"setelah kejadian hari ini, kamu masih ingin bersamanya?" Mama Nadia membuka pembicaraan
"kenapa sepertinya dia tidak menginginkanmu menjadi suaminya, apa seperti itu caranya mencintai anak Mama"
tidak ada jawaban dari mulu Nando, dia masih bersimpuh dan memeluk lutut mamanya
"kebahagiaan kamu prioritas kami, kami tidak menentang sedikitpun saat kamu ingin dia menjadi pendampingmu, tapi hari ini didepan semua keluarga dengan mudahnya dia berkata seperti itu, memang nya siapa dia bisa memperlakukan anak Mama seperti itu?"
Doni yang ada diruangan yang sama pun hanya bisa diam menatap apa yang dilakukan Nando
kamu memang melakukan yang terbaik Nando, kamu buang harga dirimu dan melakukan segalanya demi bersama istrimu, Marsya seharusnya kamu berhenti menatap masa lalu dan lihatlah lelaki ini yang sedang memperjuangkanmu.. ciihh
"Jawab Nando" perkataan papa Faridz menggema dalam ruangan, hingga kini dia belum memutuskan siapa yang harus dia bela, dia memilih diam dan menunggu pertanggung jawaban Nando
__ADS_1
Nando pun akhirnya bersuara, masih dengan posisi bersimpuh nya dia berkata "Mama dan Papa juga prioritasku, aku tidak akan pernah melawan apapun yang kalian putuskan, tapii mamaa" nando menatap Mamanya dengan mata berlinang " akuu yang akan hancur bila hidup tanpa diaa, aku mohon jangan pisahkan kami"
Mama Nandia pun ikut menangis menatap putra kesayangan nya itu bersedih, dan langsung memeluk Nando dengan sejuta sayang yang tiada bandingannya.
"anak mama sayang, apapun keinginanmu akan kami lakukan, jangan menangis, hati mama sakit melihat nya."
kak Nisya dan kak Neira yang menyaksikan adegan ibu dan anak itupun iku menangis, Cinta Nando pada istrinya bukan main main, dia sanggup menelan rasa pahit karena menjadi yang ke dua di hati Marsya, namun tidak sanggup bila harus hidup terpisahkan.
Papa Faridz mengusap wajah nya, dia sudah mantap harus membela siapa saat ini, perseteruan Marsya dan Eliza bukan main main, keluarga Alsyech sangat terkenal dengan kekompakan dan keharmoniaannya, sebenarnya tamparan Marsya untuk Eliza sama saja menampar satu keluarga Alsyech, apalagi perkataan Marsya setelahnya yang sangat menyakiti Nando, pewaris tunggal kerajaan Alsyech Grup, Secara Normalnya sangat sulit bagi Marsya untuk mempertahankan posisinya dalam keluarga Alsyech, Namun Cinta Nando pada Marsya mengalahkan segalanya, kali ini AlFaridz harus melawan Adik nya sendiri AlFarhan untuk membela anak nya masing masing.
"Doni....." Papa Faridz kembali bersuara
"panggil semua yang terlibat kemari, sekarang juga, termasuk orang tanya"
"baik om" Doni pun keluar kamar untuk melakukan tugas nya
"cuci wajah kalian sekarang juga, dan kembali kemari sebelum mereka datang"
semua pun menurut, mencuci wajah dan menenangkan emosi masing masing..
__ADS_1
"Nando, papa kasih kamu satu kesempatan, untuk membuktikan bahwa pilihamu itu tidak salah"
"akan Nando buktikan papa" Nando segera ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, menatap pantulan dirinya di cermin
Apa yang harus aku lakukan Marsya untuk membersihkan namamu, aku tidak ingin orang tuaku memiliki ganjalan padamu, aku ingin mereka seperti dulu, menerimamu tanpa cela...
lama Nando berfikir, hingga ketukan dr luar pintu kamar mandi menyadarkan lamunannya "Nando, semua sudah berkumpul menunggu kamu"
"ya mama"
..........
"Sekarang, kita para orang tua hanya akan diam dan menyerahkan keputusan pada anak2 kita, biarkan mereka menjelaskan dan berdebat disini, tidak di tempat lain" ucapan Alfaridz sembelum persidangan dimulai
"sekarang pihak yang terlibat jelaskan seluruh kronologi nya dari versi masing2, katakan yang sebenarnya" lanjut Alfaridz
lalu satu persatu mulai bercerita, diawali dari kak Nisya, kak Tania, Nazwa, Fatimaa lalu Eliza, dalam sudut pandang mereka semua setuju bahwa Marsya sudah melewari batas, Tamparan dan ucapannya seperti hinaan kepada keluarga Alsyech
bagaimana caranya aku melindungimu Marsya.....
__ADS_1
...........