
"Tapi itu benar, meski kamu nggak percaya, Yun."
Ayunda menatap tajam pada pria dihadapannya itu.
Sudah lima tahun mereka berpisah, usia Iman tidak lagi bisa dibilang muda,karena sudah lebih dari kepala 3.
Tapi wajah itu masih setampan dulu, bukan! Ayunda merasa, sekarang pria itu bahkan jauh lebih tampan, meski ada gurat gurat disekitar mata juga dibagian garis senyumnya, tapi itu semakin membuat penampilannya menjadi berkharisma, sesuai dengan profesi yang dilakukannya sekarang.
Sangat berbeda dengan Iman, lima tahun yang lalu, itu bisa diibaratkan seperti dua sisi mata uang, dengan satu nominal.
Rasanya sulit dipercaya dengan penampilan, pekerjaan, serta wajah seperti itu, dia masih tetap sendiri selama 5 tahun ini.
"Tentu saja aku nggak percaya, apa Abang pikir aku bodoh? Nggak mungkin kan pria dengan pencapaian yang Abang miliki sekarang, nggak ada yang tertarik, itu mustahil," sindir Ayunda sinis.
"Mungkin memang mustahil, tapi itu kenyataannya. selama 5 tahun terakhir ini aku sibuk menata hidupku, juga berusaha memulihkan ingatanku yang belum berhasil, sampai aku melupakan soal mencari pasangan hidup yang ternyata memang sudah kumiliki, selama ini.Jadi mungkin ini alasan Allah, tidak pernah membiarkan aku membuka hati selama ini pada perempuan lain, karena ternyata dia sudah memberikan seorang bidadari surga untukku, selama ini," ucap pria itu, dengan mencondongkan tubuhnya kearah Ayunda yang duduk hanya berjarak sekitar 1meter dihadapannya.
Reflek Ayunda mundur kebelakang, karena jarak mereka terlalu dekat, membuatnya merasa risih juga malu.
"Jangan bicara seperti pak Bayu, bikin kesal aja," hardiknya, pura pura kesal,untuk menutupi rasa malunya karena pujian Iman barusan. Meskipun jujur, dia merasa senang mendengar rayuan yang diucapkan Pria itu untuknya, barusan.
"Nggak, perkataanku barusan itu benar,sementara ucapan pak Bayu, itu cuma rayuan pria brengsek," jawab Iman dengan nada kesal, yang terdengar jelas ditelinga Ayunda.
"Bukankah kalian berdua sama.Sama sama brengsek," gerutu Ayunda, secara terang terangan dan sengaja ingin membuat pria itu menjadi kesal, karena terus saja membuatnya kesal selama ini.
Iman tidak menjawab, tapi tatapannya masih tidak berpaling sedikit pun dari wajah cantik perempuan berkerudung biru yang duduk berhadapan dengan dirinya yang sedang memasang wajah cemberut.
"Jangan menatapku seperti itu.Aku nggak suka," protes Ayunda, dia mulai merasa tidak nyaman duduk berhadapan dan ditatap selekat itu oleh, Iman.Membuatnya menjadi ingat masalalu, sementara yang bersangkutan lupa.
"Tapi aku suka," balas Iman, yang langsung membuat wajah Ayunda memblus merah, mendengar kalimat singkat pria dihadapannya itu.
__ADS_1
"Gombal!" dengus Ayunda berusaha menutupi malunya.
"Huffft..."
Iman menghela nafasnya, mendengar dengusan yang keluar dari bibir indah perempuan cantik didepannya.
Meski perempuan itu terlihat ketus, tapi dari raut wajahnya pria itu bisa melihat gurat kesedihan yang dalam.
Ingin sekali Iman merengkuh tubuh perempuan itu kedalam pelukannya, dengan membisikkan kata kata maaf ratusan bahkan jutaan kali, sampai wajah ayu yang terbingkai kerudung biru itu, tidak lagi terlihat muram,tapi dia tidak bisa.
"Kenapa?!" tanya Ayunda masih dengan nada ketus.
Iman menggeleng," Ayo kita menikah lagi, kita mulai semua dari awal," ucap Iman lagi dan kembali membuat perempuan dihadapannya terkejut mendengarnya.
"Nikah?! Mudah sekali Abang ngajak aku nikah! Nggak!" tolak Ayunda, ketus.
Ekspresi wajah Iman tidak berubah, meski Ayunda baru saja menolak ajakannya, karena dia sudah menduga perempuan itu akan memberikan jawaban itu padanya.
"Itu salah satunya, selain itu aku udah nggak punya perasaan lagi sama Abang."
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Ayunda, Iman langsung mencondongkan lagi tubuhnya kearah perempuan cantik itu dan menatapnya dengan lekat.
"Kamu bohongkan?" tanyanya yang dijawab gelengan oleh Ayunda dengan berusaha menutupi perasaannya, berharap Iman percaya dengan ucapannya.
Meski dia masih memiliki perasaan yang sangat besar pada pria itu, tapi sekarang pria dihadapannya bukan lagi pria yang sama dengan yang menikahinya 5 tahun lalu.
Ayunda tidak ingin membuang harapannya lagi, dengan bersama pria tersebut, tapi sosoknya sudah dilupakan.
Mendengar itu Iman kembali menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu,aku nggak akan memaksakannya," ucapnya setengah bergumam, yang masih didengar jelas oleh Ayunda, membuat perempuan cantik itu menjadi kesal lagi, mendengarnya dan kali ini dia yang mencondongkan tubuh kearah Iman, juga menatap pria itu, tajam.
"Apa maksud Abang bicara begitu?!" tanyanya dengan nada penuh penekanan.
"Nggak ada maksud apapun.Aku hanya nggak ingin memaksakan keinginan ku untuk menikahimu lagi, sementara dirimu nggak mau,Yun."
"Abang!!" bentak Ayunda keras,dengan tatapan mata tajam penuh kemarahan, menatap kearah Iman.
"Ya," jawab pria itu masih tetap berekspresi seperti sebelumnya membuat Ayunda benar benar ingin mencakar wajah pria dihadapannya itu, karena sangat kesal.
"Abang benar benar nggak punya hati ya, sudah lupa sama aku selama ini,lalu tiba tiba mengajakku menikah dan begitu aku menolaknya, Abang dengan gampangnya bilang nggak akan memaksa! Mau Abang sebenarnya Apasih! Apa, Abang pikir karena..."
perkataan Ayunda terhenti karena tiba tiba Iman meletakkan jari telunjuknya diatas bibirnya.
"Mauku, kamu.Tapi, karena aku sudah membuatmu menderita selama ini dan kamu juga bilang, nggak mau memulai lagi sekarang, jadi, aku terpaksa mengalah."
"Semudah itu, tanpa berniat melakukan apapun padaku.Misalnya..."
"Tentu saja aku akan melakukan apa saja supaya kamu mau menerimaku lagi.Apa kamu pikir aku akan menyerah begitu saja hanya karena kamu sudah menolakku, Yun," Pria itu menggeleng," Nggak, aku akan terus berusaha membuatmu bisa menerima aku lagi."
"Gimana caranya,apa Abang pikir setelah Abang mengatakan semua ini, aku akan langsung setuju begitu saja dengan keinginan Abang yang ingin menikahiku lagi, tadi," tanya perempuan itu, penasaran.
"Aku sangat senang kalau memang kamu mau langsung setuju, tapi kalaupun tidak, aku akan terus berusaha sampai dirimu bilang setuju," jawab Iman penuh keyakinan.
"Nggak akan," balas Ayunda, dengan memalingkan wajah, supaya Iman tidak bisa melihat kebohongannya.
"Kamu mungkin begitu nggak yakin padaku, karena selama ini aku sudah melupakan mu, tapi kamu boleh percaya, boleh nggak, Yun.Sejak pertama kali bertemu denganmu lagi,aku terus saja teringat denganmu."
"Gombal," balas Ayunda, berusaha tidak ingin percaya perkataan Iman barusan.
__ADS_1
"Wajahmu,tatapanmu juga ekspresi mu waktu pertama kali kita bertemu, hari itu.Aku masih sangat ingat.Selama satu Minggu ini, aku selalu bertanya tanya, kenapa kamu menatapku seperti itu, hari itu dan kenapa perasaanku terasa nggak nyaman, juga sakit, melihat mu menatapku begitu.Lalu setelah tau alasannya, sekarang aku bertekad akan berusaha menebusnya. Tolong beri aku kesempatan untuk melakukannya, Yun."