Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
99. Bicara berdua.


__ADS_3

"Abang mau bicara apa lagi," ucap Ayunda sinis, kearah Iman yang masih diam, meski sekarang hanya tinggal mereka berdua didalam bengkel.


Bahkan pintu bengkel pun sudah ditutup oleh Sukron barusan, karena ingin memberi waktu pada mereka berdua untuk bicara seperti yang Iman minta tadi.


"Kamu nggak capek berdiri? Mau bicara sambil duduk," tawar Iman, pada perempuan cantik dihadapannya, dengan mendekatkan kursi yang berada didekat dirinya, supaya perempuan cantik berkerudung biru itu, bisa duduk.


"Nggak, kita bicara sambil berdiri saja seperti ini.Aku merasa lebih nyaman seperti ini.Jangan ber basa basi, langsung saja katakan apa yang ingin Abang katakan padaku ," perintahnya masih menggunakan nada ketus.


"Baiklah,aku bicara hal yang harus kita bicarakan saja sekarang," ucap Iman tanpa mengalihkan tatapannya dari sosok perempuan itu.


"Cepat bicara," perintah Ayunda yang dijawab anggukan oleh Iman.


"Apa kamu istriku, bukan, apa dulu kita menikah?" tanya Pria tampan itu dengan wajah serius, Ayunda cukup terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan Iman dan merasa itu pertanyaan terkonyol yang ditanyakan pria dihadapannya ini, setelah menghilang selama 5 tahun tanpa khabar, padanya.


"Itu, Abang sungguh menanyakan pertanyaan konyol seperti itu, padaku?!" tanyanya dengan nada kesal.


Iman mengangguk, membuat Ayunda benar benar tidak bisa lagi menahan kekesalannya dan dengan lantang menjawab pertanyaan Iman.


"Nggak! Kita nggak pernah menikah! Bahkan hari ini adalah pertemuan pertama kita! Puas!" bentak perempuan cantik itu, penuh kemarahan.


Wajah Iman masih tidak berubah, membuat Ayunda sangat geram pada pria dihadapannya itu dan ingin sekali menggeplak kepala Iman,supaya sumbatan kotoran diotaknya rontok semua.


"Pria nggak ada akhlak," gerutu Ayunda lalu membalikkan tubuhnya menghadap kesisi lain, supaya tidak perlu melihat ekspresi menyebalkan pria tampan yang selama ini sangat dirindukannya itu.


Ayunda berusaha menenangkan diri dengan sengaja membelakangi Iman dan berkali kali menghela nafas untuk menghilangkan kesalnya.


Terlalu fokus dengan apa yang dilakukan, dia tidak sadar Iman mendekat kearahnya dan baru tau waktu tangan pria itu menyentuh tangannya, membuat Ayunda sampai terjengkit, terkejut, karena Iman tiba tiba sudah berada dibelakang tubuhnya, dengan jarak sangat dekat.


"Aabang mau apa?" tanya Ayunda terkejut, melihat pria itu sudah ada dibelakangnya, dengan tangan, sedang menyentuh tangannya.

__ADS_1


"Maaf Yun," pria itu bicara dengan suara selembut mungkin, pada perempuan cantik dihadapannya, dengan niat menenangkan kemarahan hati Ayunda.


"Maaf? Untuk apa? Jangan bilang buat masalah yang diKantin waktu itu lagi, aku kan bilang lupakan saja."


"Bukan untuk itu, tapi untuk nggak bisa mengingat dirimu selama ini.Bukannya aku ingin lupa padamu, tapi aku benar benar nggak bisa mengingatnya dan aku benci mengetahui kalau ternyata ingatanku yang hilang itu, merupakan ingatan mengenai dirimu," terang Iman.


"Aku nggak percaya!" Ayunda mendorong tubuh Iman supaya menjauh darinya, karena kedekatan fisik yang baru saja dilakukan pria itu padanya, cukup membuat hatinya terasa jungkir balik dan dia belum siap untuk mengalah untuk luluh, pada pria tampan yang selalu menghantui mimpinya selama ini itu. Sebelum masalah mereka selesai.


"Aku tau kamu nggak akan percaya begitu saja dengan perkataanku. Apalagi bukan sehari atau dua hari aku sudah melupakanmu, tapi bertahun tahun.Andai aku berada diposisi mu, aku pun pasti akan melakukan hal yang sama, Yun," balas Iman.


"Kalau sudah tau kenapa berusaha membujukku!" bentak perempuan cantik Itu dengan perasaan marah.


"Karena hanya itu yang bisa aku lakukan dan setelah tau tentang hubungan kita dimasa lalu, sekarang aku merasa punya tujuan untuk berusaha lagi mengingat kenangan kenanganku yang terlupakan itu."


"Untuk apa?!" tanya Ayunda ketus.


"Untuk mengingat kenanganku denganmu tentu saja, lalu apa lagi," jawab Iman, yang tanpa sadar langsung membuat wajah Ayunda, memblus merah.


"Apapun julukan atau makianmu untukku, aku nggak keberatan, tapi tolong jangan larang aku melakukannya.Biarkan aku berusaha membuktikan apa yang aku katakan padamu ini, Yun," pinta Iman memasang wajah serius, berharap dengan seperti itu Ayunda setuju dengan keinginannya.


"Bagaimana caranya? Apa Abang berniat menyuruhku menceritakan apa yang sudah pernah kita lakukan dulu, begitu? Jangan harap!" ucap Ayunda sinis, tapi penasaran,pada niatan yang akan dilakukan Iman itu.


Pria tampan itu menggeleng, "Aku yakin kamu nggak mau melakukannya.Apalagi sekarang aku ini sudah menjadi orang asing bagimu, kamu pasti merasa nggak nyaman menceritakan hal hal pribadi seperti itu padaku, meski dulu kita adalah suami istri."


"Itu Abang tau, lalu apa yang mau Abang lakukan untuk membuktikannya?"


"Aku ingin menjadi suamimu lagi, Yun, bolehkan?"


Ayunda terkejut mendengar perkataan pria tampan dihadapannya itu.

__ADS_1


"Suami? Maksudnya, bagaimana?" tanya Ayunda bingung.


"Kita bicara sambil duduk karena pembicaraan kita akan cukup lama, kurasa," saran pria itu berusaha meraih tangan Ayunda untuk mengajaknya duduk dikursi,tapi ditolak oleh Ayunda dengan memilih berjalan sendiri kedekat kursi, lalu duduk tegak dikursi tempat pria itu duduk tadi.


"Sekarang ayo kita bicara," pinta Ayunda, yang diangguki Iman, setelah pria itu duduk dikursi depan perempuan cantik, itu.


"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu dan kumohon jawab jujur Yun, karena aku juga akan menjawab yang sama padamu," pinta Iman, dengan memasang wajah serius.


"Baik, Abang mau tanya apa sama aku?"


"Apa benar kita dulu menikah Yun?" tanya Iman, meski pertanyaan itu sebelumnya sudah ditanyakannya.


"Sudah kubilang tadi, kalau kita..."


"Kamu sudah setuju untuk menjawab secara jujur barusan, jadi jawablah yang jujur, kumohon."


Tanpa sadar Ayunda menghela nafas cukup keras, karena merasa sudah masuk perangkap pria tampan dihadapannya itu sekarang, padahal dia sudah bertekad untuk kekeuh dengan sikap dinginnya pada pria dihadapannya itu, untuk memberi pria itu pelajaran.


"Iya benar kita dulu menikah, tapi cuma siri, puas!" jawab Ayunda ketus, lalu memalingkan wajahnya, supaya Iman tidak bisa melihat guratan kesedihan diwajahnya.


"Siri? Lalu setelah aku pergi selama ini,apa kamu pernah menikah lagi?" Emosi Ayunda kembali muncul mendengar pertanyaan lain yang diajukan pria dihadapannya itu.


"Menikah lagi?! Seharusnya aku lakukan saja dari dulu, toh kita juga hanya menikah siri,itu pun cuma beberapa bulan tapi..."


"Jadi, kamu belum nikah lagi sejak saat itu?" tanya Iman, serius.


"Sudah kubilang aku sangat ingin melakukannya bukan barusan, tapi karena aku ini sangat bodoh, jadi...tunggu, kenapa Abang menanyakan itu padaku.Apa sebenarnya selama menghilang Abang sudah menikah lagi dengan perempuan lain,lalu kembali kemari dengan alasan hilang ingatan, supaya aku merasa iba, begitu," tuduh balik Ayunda yang dibalas gelengan oleh Iman.


"Aku nggak percaya! Itu nggak mungkin!"

__ADS_1


Maaf Upnya kemalaman🙏🙏


__ADS_2