
"Bapak mau beli apa disini?" tanya dosen Rianti dengan berjalan disamping pria itu yang terlihat sedang melihat deretan toko toko yang ada didalam Mall kota Surabaya itu.
"Entahlah Bu Rianti saya akan melihat lebih dulu kalau nanti ada yang saya suka baru akan saya beli," terang Iman lalu tiba tiba berhenti didepan toko mainan dan berniat masuk kedalam tapi sebelum dia melakukannya dia menoleh kearah dosen Rianti.
"Saya ingin membelikan putri saya mainan.Apa ibu mau ikut masuk? Mungkin saja ibu berniat membelikan untuk keponakan ibu atau adik ibu mungkin."
Mendengar ajakan Iman untuk masuk bersama kedalam toko mainan itu wajah dosen Rianti langsung berubah ceria.
" Kalau begitu saya ikut kedalam karena saya juga berniat membelikan oleh oleh buat anak kakak saya sekarang pak Sulaiman," sahut dosen Rianti dengan berjalan masuk bersama Iman kedalam toko mainan terkenal itu dan didalam mereka bersama sama memilih barang yang akan mereka beli dengan saling memberi saran juga komentar pada barang yang mereka pilih membuat dosen Rianti merasa senang sekali karena sikap Iman padanya tidak lagi dingin seperti sebelumnya meski barang yang di pilih oleh Iman saat itu untuk diberikannya pada Kanza yang selalu dibilangnya sebagai putrinya.
"Setelah ini Bapak mau beli apa lagi?" tanya dosen Rianti merasa antusias setelah melihat sikap Iman tadi padanya selama berada didalam toko mainan dan sekarang mereka sedang berjalan kembali menyusuri deretan toko didalam Mall.
"Entahlah saya juga bingung mau beli apalagi karena tidak ada yang ingin saya beri oleh oleh lagi di .." Tiba tiba Iman tidak meneruskan perkataannya saat melihat toko
Tiba tiba Iman menghentikan ucapannya saat melihat toko yang memajang deretan kerudung dietalasenya.
Dosen Rianti mengikuti arah pandangan Iman, perasaan sumringah yang tadi dirasakannya langsung berubah menjadi rasa kesal saat melihat apa yang sedang ditatap lekat oleh pria itu.
"Bapak mau beli kerudung buat istri Bapak?!" tanyanya dengan nada sarkas yang membuat Iman langsung menoleh kearah dosen Rianti.
"Sepertinya saya ingin masuk kedalam dulu.Apa Bu Rianti mau ikut?" tawarnya tanpa memperdulikan reaksi yang diberikan dosen Rianti barusan.
Mendengar tawaran itu meski enggan, dengan terpaksa dosen Rianti tetap mengikuti Iman masuk kedalam toko tersebut dan pura pura ikut memilih meski tidak berniat untuk membelinya karena dia tidak memakai kerudung.
"Ada yang bisa kami bantu pak?" sapa penjaga toko tersebut ramah begitu melihat Iman dan dosen Rianti masuk kedalam.
__ADS_1
"Saya berniat melihat lihat sebentar, nanti kalau ada yang saya suka saya bisa bilang sama Mbak," balas Iman ramah yang diangguki oleh pelayan toko itu dengan mengikuti Iman dan dosen Rianti dari belakang.
"Bu Rianti mau beli juga?" tanya Iman karena melihat Dosen Rianti terlihat memilih milih kerudung yang ada dipajangan.
"Pak Sulaiman suka perempuan pakai kerudung ya?" tanyanya menatap kearah Iman yang dibalas Kedikan bahu oleh pria itu.
Membuat dosen Rianti semakin merasa kesal pada sikap yang ditunjukan Iman padanya karena seolah tidak memperdulikan apa yang baru saja dikatakannya.
"Kalau iya saya juga akan pakai kerudung!" celetuknya tiba tiba membuat Iman langsung menoleh kearah perempuan itu dan menatapnya.
"Saya orang yang punya pemikiran liberal Bu Rianti.Ibu nggak perlu melakukan apa yang nggak ingin ibu lakukan hanya demi bisa menarik perhatian saya karena saya tidak pernah memandang orang dari semua itu kalau saya tertarik padanya, melainkan dari sikap dan tingkah lakunya," balas Iman lalu berjalan menjauh dari perempuan itu yang terdiam ditempatnya dan tersadar saat pelayan toko menegur dirinya.
"Mbak mau beli kerudung? Ini model terbaru dan paling laris ditoko kami,saya rasa kalau mbak pakai ini akan terlihat semakin cantik.Apalagi Mbaknya memang sudah cantik lebih dulu," puji pelayan itu dengan menunjukan kerudung yang ditawarkannya pada dosen Rianti yang memang bagus karena harganya juga tidak murah.
"Boleh, saya beli semua serinya.Tolong dibungkus!" perintah dosen Rianti dengan wajah kesal tapi tidak diperdulikan oleh si pelayan toko itu karena dia terlalu senang waktu dosen Rianti ingin membeli semua seri kerudung yang baru saja ditunjukannya tadi.
***
Sementara itu Iman masih berada ditoko kerudung meski dia melihat dosen Rianti pergi lebih dulu dari sana dan tidak lama sebuah pesan dikirim perempuan itu keponselnya.
(Pak Sulaiman saya kembali ke Hotel lebih dulu karena tiba tiba kepala saya terasa sakit,mungkin migrain saya kambuh)
Iman membaca pesan itu lalu membalasnya.
(Iya Bu Rianti,semoga sakit kepala ibu segera sembuh karena sebentar lagi saya juga ada janji dengan putri saya.Sampai jumpa besok pagi di pesawat).
__ADS_1
Setelah membalas pesan itu,Iman lalu menatap kearah pelayan toko yang dari tadi masih mengikutinya saat sedang memilih.
"Saya beli dua yang warna biru dan hitam itu," ucapnya menunjuk kerudung yang dimaksudnya yang diangguki oleh pelayan lalu mengambilkannya dan membawanya kekasir.
"Tolong dibungkus yang rapi ya Mbak karena itu mau buat kado," pinta Iman yang diangguki oleh pelayan dibagian kasir.
**
Setelah keluar dari toko tersebut Iman memeriksa jam dipergelangan tangannya dan begitu melihat sudah pukul 3.30 sore Iman bergegas keluar dari dalam Mall lalu menyetop taksi yang lewat.
"Ke TK Tunas Harapan pak!" perintahnya yang diangguki oleh supir taksi tersebut.
Sampai di TK Tunas Harapan tempat Kanza bersekolah Iman sedikit terkejut saat melihat Hafiz disana dan sepertinya dia juga sedang menunggu untuk menjemput Kanza keluar dari dalam sekolah.
Meski enggan tapi Iman tetap keluar dari taksi lalu melangkah menghampiri Hafiz yang langsung memasang wajah dingin begitu melihat kedatangannya.
"Apa kamu berniat menjemput Kanza?!" tegurnya dengan nada sedikit sarkas yang dijawab anggukan oleh Iman.
"Iya...Apa kamu juga sedang Dinas ke Surabaya ," tanyanya balik.
"Tidak aku memang sengaja pulang kemari buat bertemu Kanza juga Aisyah, kenapa?!" Iman hanya membalas kesarkasan Hafiz saat itu dengan Kedikan bahu.
"Semula aku berencana mengajak Kanza ke Playground sore ini karena besok pagi aku sudah kembali ke Jakarta, tapi karena sudah ada dirimu kurasa kamu saja yang melakukannya Fiz, jadi aku titip ini saja untuknya. Terserah mau kamu katakan itu dari mu atau dariku,tapi sebaiknya jangan katakan kalau aku kemari supaya kesenangan kalian nanti tidak terganggu."
Hafiz berniat tidak mau menerima paperbag yang diulurkan Iman tapi tidak sempat karena beberapa anak terlihat sudah keluar, dengan enggan terpaksa diterimanya pemberian Iman untuk Kanza itu.
__ADS_1
"Terimakasih karena sangat perduli pada Kanza sebagai pamannya dan kuharap kau melakukan hanya sebatas itu karena Kanza itu putriku."
Iman hanya tersenyum datar mendengar itu lalu melangkah pergi meninggalkan gerbang sekolah Kanza.