
" Mulai sekarang kita akan tinggal disini Yank, sampai aku bisa mendapatkan rumah yang lebih baik lagi nanti," terang Iman, dengan mengajak Ayunda turun dari mobil setelah mereka pulang dari bulan madu keBali, selama akhir pekan lalu.
Ayunda hanya diam dengan menatap kebangunan rumah yang ada didepannya, saat itu.
Sebuah rumah tipe minimalis yang cukup bagus, untuk ukuran dirinya yang selama ini, hanya selalu tinggal dikontrakan biasa.Tapi pria gagah yang sudah menikahinya lagi itu bilang, ini hanya rumah sementara mereka.Lalu nanti, dia ingin mengajak dirinya tinggal ditempat seperti apa sebenarnya.Ayunda masih sibuk dengan pikirannya karena perkataan yang baru saja dikatakan Iman, sampai tidak menyadari waktu ada yang mendekat kearahnya, saat itu.
Perempuan itu baru tersadar dari pikirannya, saat Iman memeluk pinggang rampingnya dan mengenalkannya pada perempuan paruh baya, yang berjalan mendekat kearah mereka itu.
"Yank, ini Bik Sarmi yang aku pekerjakan buat bantu kamu membereskan rumah kita," terang pria itu, membuat Ayunda langsung mengalihkan tatapannya kearah perempuan paruh baya yang masih sehat itu, begitu mendengar apa yang disampaikan Iman.
"Membantu aku membereskan rumah? Maksud Abang?" tanyanya, merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya itu. Karena dia merasa tidak butuh orang yang akan membantunya melakukan pekerjaan rumah, yang pasti tidak akan banyak. Karena mereka hanya tinggal berdua saja dirumah itu nantinya. Tapi tidak mungkin juga dia bilang tidak setuju, lalu meminta pria itu untuk memecat orang yang dipekerjakannya, saat itu juga.
" Asisten rumah tangga, untuk kamu," terang pria itu dengan wajah biasa, yang membuat Ayunda tanpa sadar menghela nafasnya mendengarnya, tapi tidak lagi mengatakan apa apa saat itu dan hanya tersenyum sopan kearah perempuan yang dikatakan Iman sebagai Asisten rumah tangga mereka itu.
"Saya Bik Sarmi nyonya, yang akan membantu nyonya melakukan pekerjaan rumah, mulai sekarang," terang perempuan paruh baya itu sopan, kepada Ayunda yang dibalas anggukan sopan, oleh perempuan cantik itu, lalu memutuskan melangkah masuk kedalam rumah tipe 36 Minimalis. Yang terlihat rapi, juga bersih didalamnya, begitu dia masuk.
"Capek ya Yank?" tanya Iman begitu melihat Ayunda duduk disofa ruang tamu rumah mereka dengan kaki diluruskan kedepan.
Perempuan itu mengangguk sebagai jawaban pertanyaan pria itu.
"Mau saya buatkan minuman nyonya, tuan," tawar baik Sarmi, saat melihat kedua majikannya duduk disofa ruang tamu begitu masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Ayunda menggeleng karena merasa tidak biasa ada yang melakukan pekerjaan untuknya, berbeda dengan Iman yang langsung mengangguk, begitu mendengar tawaran dari Asisten rumah tangganya itu.
" Tolong buatkan aku secangkir kopi dengan sedikit gula, Bik," pintanya sopan.
Mendengar apa yang diinginkan oleh Iman, Ayunda berniat bangun dari duduknya untuk melakukan apa yang diminta sang suami tadi pada Asisten rumah tangga mereka, tapi belum sempat dia bangun dari duduknya, pria itu menahan tubuhnya, supaya tetap duduk ditempatnya semula.
"Duduk aja, Yank.Kamu kan capek," perintah pria itu, dengan menekan bahu Ayunda lembut .
"Tapi Abangkan ingin minum kopi.Biar aku bikinkan dulu sebentar," jawab perempuan itu yang langsung dibalas gelengan oleh Iman.
"Ada Bik Sarmi yang melakukannya.Kamu duduk aja disini sekarang sama aku, karena sekarang kamu, pasti kelelahan akibat liburan kita kemarin," saran pria itu lagi.
"Cuma bikin kopi nggak akan lama juga kok Bang.Toh diwarung aku juga sering .."
"Tapi Bang," balas Ayunda masih tidak ingin menuruti saran Iman barusan.
Melihat Ayunda masih berusaha keras kepala, Iman sedikit kesal karenanya dan tanpa mengatakan apa apa, tiba tiba dia berjongkok, lalu membopong tubuh mungil sang istri dalam gendongannya.Membuat perempuan itu reflek terpekik, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang suami padanya dihadapan Asisten rumah tangga mereka.
"Abang!" pekiknya terkejut, yang tidak didengarkan oleh Iman dengan tetap menahan tubuh sang istri dalam pelukannya sambil bicara pada Bik Sarmi untuk membuatkan minuman bagi mereka dan supaya nanti, mengantarkannya kekamar yang mereka tempati.
"Abang apa apaan sih! Kenapa membopong aku kaya gitu dihadapan bik Sarmi tadi!" protes Ayunda, begitu Iman sudah menurunkan dirinya diatas ranjang yang ada didalam kamar milik mereka.
__ADS_1
"Ngapain malu, mulai sekarang Bik Sarmi akan sering melihat kita seperti itu Yank," balas pria itu, tanpa mengindahkan rasa kesal sang istri barusan.
"Tapikan nggak enak Bang, kalau Bik Sarmi melihat kita katya gitu! Abang juga sih ngapain pakai nyarikan aku Asisten rumah tangga segala, padahal yang tinggal dirumah ini cuma kita berdua sekarang. Selain itu juga, rumah yang kita tempati sekarang nggak terlalu besar ukurannya, jadi aku rasa kalau hanya untuk ..."
" Nggak papa Yank.Mungkin sekarang kita masih berdua, tapi siapa tau beberapa bulan lagi kita akan segera menjadi bertiga," potong pria itu, yang langsung membuat bola mata sang istri membulat mendengar ucapan dari Iman.
"Bertiga?!"
Iman mengangguk lalu mendekat, dengan berjongkok dihadapan Ayunda dan menyentuhkan tangannya keperut rata sang istri, saat bicara.
"Ini, disini mungkin beberapa bulan lagi, akan ada calon anggota keluarga baru kita dan kalau itu terjadi.Aku nggak mau sampai kamu kelelahan karena harus melakukan pekerjaan rumah nantinya.Jadi karena itu aku sengaja memperkerjakan Bik Sarmi dari sekarang," terang pria itu, yang langsung membuat tenggorokan Ayunda terasa tercekat mendengar harapan besar yang diinginkan oleh Iman dalam waktu dekat pada pernikahan mereka ini.
"Tapi...Bagaimana kalau aku nggak akan hamil secepat itu," cetus Ayunda, yang dibalas Kedikan bahu oleh Iman, dengan bangun dari posisinya dan beralih kesisi sang istri, ditepi ranjang mereka.
" Nggak masalah,Yank.Yang pasti aku nggak mau membuatmu merasa lelah atau repot hanya karena sekarang kita sudah menikah lagi," balas pria itu dengan memeluk bahu Ayunda penuh cinta.
"Kalau cuma membuatkan makanan atau membuatkan minum, juga membereskan rumah aku rasa itu..."
" Nggak, pokoknya aku mau kamu menikmati peranmu sebagai istriku, tanpa terbebani tugas nggak penting seperti itu," tegas pria itu tanpa mau dibantah oleh sang istri lagi.
"Tapi aku nggak keberatan melakukannya Bang," tekan Ayunda lagi yang membuat Iman menarik nafas, lalu memutar tubuh Ayunda supaya menatap kearahnya, sebelum dia kembali bicara.
__ADS_1
" Aku tau kamu bisa melakukannya Yank, tapi biarkan aku membuatmu merasa nyaman sebagai istriku, kali ini.Selain itu kalau kita memperkerjakan Bik Sarmi dan membiarkan dia melakukan pekerjaannya dirumah kita ini, itu bisa membuatnya merasa dihargai Yank.Kamu mengertikan itu."
Kali ini Ayunda mengangguk, mendengar penjelasan pria itu dan tidak lagi bersikap keras, untuk menolak niat suaminya memperkerjakan Asisten rumah tangga, dirumah mereka itu.