
Pletak!
"Auw...Yun!Ngapain Lo jitak gue," protes Widia kesal.
"Dasar teman nggak ada akhlak masa bertamu kerumah orang kaya orang mau nagih utang sadis banget Lo kalau tadi ada Bang Iman gimana?Atau Lo emang sengaja mau ngeliat keseksian suami gue saat baru bangun tidur iya Wid dasar me*um!."
Ayunda menggerutu sambil berjalan menuju tempat kerja mereka.
"Lo emang suami Lo Babang Macho belum balik ya Yun?",Widia bertanya penasaran yang langsung dijawab gelengan oleh Ayunda.
"Serius Lo?!Udah Lo tanyakan ketempat kerjanya atau ke teman temannya kemana perginya suami Lo masa sudah hampir 1 minggu ngambek belum juga balik mencurigakan sekali."
Mendengar ucapan Widia wajah Ayunda yang sudah sedih jadi bertambah muram karenanya.
"Gue udah berkali kali menghubungi nomor ponselnya tapi kayanya ponselnya nggak aktif Wid."
"Lalu lo nggak ketempat kerjanya?!."
Ayunda langsung menggeleng "Gue nggak tau tempat kerjanya dimana.Gimana dong Wid".
Wajah Ayunda sangat muram saat bicara membuat Widia sampai merasa tidak tega untuk melihatnya.
"Yang sabar Yun gimana dengan teman atau mungkin kenalannya jangan bilang Lo juga nggak ada yang kenal satu pun."
Lagi lagi Ayunda menggeleng "Gue nikah sama Bang Iman belum genap 3 bulan dan selama itu sekalipun dia nggak pernah mengajak gue kelingkungan dia yang dulu jadi memang nggak ada satu pun teman atau kenalannya yang gue kenal kecuali..."
Tiba tiba Ayunda ingat dengan Hafiz dan hubungan pria itu juga alasan Iman marah lalu pergi dan tidak kembali sampai detik ini.
__ADS_1
"Ada yang Lo ingat?Kalau memang ada sebaiknya Lo hubungi orang itu siapa tau aja dia tau dimana Babang Macho sekarang lalu Lo bisa nemuin dia buat bicarain masalah kalian baik baik," saran Widia yang dibalas diam oleh Ayunda karena saat dipikirkan lagi rasanya tidak mungkin Iman pergi menemui Hafiz tapi bisa juga kan waktu diRestoran itu Iman sangat marah, begitu juga dengan Hafiz. Apalagi mereka berdua kan saudara bisa saja Iman saat itu pergi kerumah Hafiz untuk bertemu kedua orang tua mereka lalu...
Mendapatkan pemikiran seperti itu Ayunda memutuskan untuk menanyakan saja hal itu pada Hafiz daripada merasa penasaran toh tidak ada salahnya ,pikirnya memutuskan akan melakukan itu nanti saat bertemu dengan pria itu atau akan menemuinya saja supaya dia tidak gelisah seperti sekarang.
"Kurasa ada satu orang yang kenal dengan Bang Iman yang juga gue kenal dan kayaknya gue mau nemuin dia nanti buat nanyain hal itu."
"Serius ada?!," tanya Widia merasa lega yang dijawab anggukan oleh Ayunda.
"Syukurlah kalau begitu.Oh iya nanti kalau Lo butuh teman buat ketemu orang itu atau ketemu Babang Macho hubungi aja aku ya .Aku siap nemenin Lo Yun," ucap Widia dengan menepuk bahu Ayunda sebagai bentuk dukungannya pada sahabatnya itu karena dia rasa saat ini hal itu sangat dibutuhkan oleh Ayunda yang disini hanya seorang diri berbeda dengan dirinya yang masih punya orang tua meski tidak terlalu perduli karena lingkungan dan tuntutan hidup dikota besar seperti Jakarta ini.
Jadi bisa dibilang orang tuanya itu hanya bertugas buat ngelahirin dia ngasih makan waktu bayi sampai bisa jalan sampai sedikit gede dan saat sudah mulai bisa cari uang sendiri dilepas gitu aja yang penting Widia masih hidup dan pulang kerumah mereka yang tidak bisa dibilang rumah sebenarnya karena dari segi ukuran dan kondisinya yang hanya berukuran 3x4 meter dan Harus ditempati 4 orang dewasa dirumah itu yang datang hanya buat numpang tidur doang daripada ngontrak dalam kondisi ekonomi mereka yang tidak terlalu baik.
Widia saja sebelum Ayunda menikah dengan Iman lebih sering menginap ditempat Ayunda dibanding tidur dirumahnya sendiri karena sempit juga tidak nyaman baginya atau tidur ditempat temannya yang lain atau ditempat kekasihnya.
Baginya dimana pun yang penting tidak mengeluarkan biaya tambahan karena gajihnya memang tidak besar selama ini.
"Yang sabar ya Yun.Ingat Allah ngasih Lo ujian karena dia tau Lo sanggup menghadapinya."
Mendengar ucapan Widia Ayunda yang semula sedih wajahnya langsung berubah.
"Lo..Lo tumben bisa ngomong kaya gitu?Lo habis kesambet jin alim ya tadi sebelum jalan kerumah gue?," celetuk Ayunda dengan wajah terkejut.
"Apaan sih lo Yun?!Gue serius simpati sama Lo.Lo malah nuduh gue habis kesambet.Lo kali yang kesambet karena malarindu sama Babang macho," balas Widia dengan wajah cemberut.
"Gue memang malarindu makanya bantuin gue temuin Babang gue dong Wid, gue cemas banget sama kondisinya tau. Apalagi tadi malam gue mimpiin dia dan dia ngomong aneh aneh sama gue."
"Lo...Lo..mimpi Babang Macho?."
__ADS_1
Ayunda mengangguk "Iya."
"Mimpi Apa?!."
"Dia..."
Lalu Ayunda menceritakan mimpinya tentang Iman itu pada Widia secara keseluruhan.
Begitu mendengar cerita Ayunda tentang apa yang diimpikannya tentang Iman tiba tiba ekspresi Widia berubah dan tanpa disangka sangka tiba tiba Widia memeluk tubuh Ayunda erat membuat Ayunda sedikit terkejut dengan reaksi tiba tiba Widia itu.
"Wid...Lo kenapa? Itu cuma mimpi, kata orang mimpi itu cuma bunga tidur kok reaksi Lo kaya gini gue aja yang mimpi nggak apa apa malah gue berpikir itu pertanda baik buat gue sama bang Iman."
Bukannya menjawab atau melepaskan pelukannya Widia malah merengkuh tubuh Ayunda semakin erat dan tidak perduli kalau saat itu mereka sedang berada didepan Mall Senopati yang banyak dilihat orang lalu lalang .
"Yun gue teman Lo.Gue akan selalu ada buat Lo, jadi apapun yang terjadi gue pasti akan bantuin lo.Ingat Lo nggak sendirian disini Yun jadi jangan sedih ya, seperti apa yang suami Lo pesan dalam mimpi, Lo sanggup gue tau Lo perempuan yang kuat Yun!."
Tiba tiba Ayunda terisak mendengar semua yang dikatakan Widia padanya meski sudah merasa tegar dan baik baik saja tapi sejujurnya dia sangat sedih dan ingin ada orang yang perduli seperti apa yang dilakukan Widia sekarang padanya karena jujur saja masalah kali ini sangat berat buatnya.
"Wid gue..."
"Ayunda."
Reflek Ayunda dan Widia melepaskan pelukan mereka saat mendengar seseorang memanggil namanya lalu menoleh kesumber suara.
Ayunda dan Widia menatap pria berperawakan sedang berpenampilan berantakan dengan banyak tato ditubuhnya yang sedang berdiri menatap kearahnya dengan tatapan muram dan sedih.
"Siapa...Lo?."
__ADS_1