Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
91.Pulang Ke Jakarta.


__ADS_3

Drettt.... Drettt....


Iman langsung mengambil ponsel yang ada disakunya begitu mendengar ponsel miliknya bergetar didalam saku jaket yang dikenakannya untuk memeriksa siapa yang menghubunginya saat itu, begitu dilihatnya nama Kanza dilayar ponsel Iman segera mengangkat panggilannya.


"Ya sayang.." jawabnya dengan wajah lembut membuat dosen Rianti yang melihatnya mencibir sinis tanpa sepengetahuan Iman.


"Man Ini aku..."


Seketika ekspresi Iman langsung berubah begitu mendengar siapa yang berada diseberang telpon lalu mempercepat langkahnya untuk mencari tempat cukup sepi sebelum mulai bicara dengan Aisyah diseberang telpon.


"Aisyah," ucapnya dengan nada suara terkejut tidak lagi sesemangat sebelumnya saat dikiranya itu adalah Kanza.


"Kamu kira Kanza ya," balas Aisyah terdengar senang karena Iman sudah salah menduga siapa yang ada di seberang telpon sekarang.


"Iya..lalu mana dia? Apa dia sedang bersama Hafiz?" tanyanya dengan nada datar.


Terdengar Aisyah menghela nafas begitu mendengar perkataan Iman.


"Iya ..Kamu bertemu dengannya kemarin kan Man?" tanya Aisyah dengan nada suara merasa bersalah diseberang telpon saat mengatakannya.


"Iya, jadi aku menitipkan mainan untuk Kanza padanya, karena kurasa akan nggak nyaman baginya kalau aku memaksa mengajak Kanza pergi kemarin, sementara dia ada disana," terang Iman yang membuat Aisyah lagi lagi terdengar menghela nafas diseberang telpon.


"Maaf.." ucapnya dengan suara lirih dan terdengar bersalah.


"Kenapa kamu harus minta maaf, bukankah itu sudah seharusnya karena Hafiz adalah Ayahnya dan seharusnya kamu bersyukur karena Hafiz begitu perhatian pada putri nya Syah"

__ADS_1


"Tapi aku nggak suka Man!" sarkas Aisyah dari seberang telpon mendengar apa yang dikatakan Iman barusan.


"Meski kamu menolaknya kenyataan itu nggak akan bisa berubah Syah jadi..."


"Seharusnya kamu menyelamatkan aku dengan menikahiku sejak dulu, bukannya menyuruhku memberi tau mereka tentang keberadaan Kanza, saat Kanza sakit dulu!" potong Aisyah dengan nada suara keras membuat Iman tanpa sadar menghela nafas keras mendengar Aisyah kembali membahas masalah yang sudah berkali kali mereka bahas dulu dan jujur saja dia lelah karena Aisyah masih terus saja mengungkit masalah yang terjadi 3 tahun lalu saat Kanza sakit cukup parah di Singapura dan Iman tidak bisa menolongnya karena secara finansial dia tidak sanggup, lalu menyarankan Aisyah supaya memberitau tentang keadaan Kanza pada keluarga Alfarizi agar bersedia membantunya yang diyakininya pasti bisa membantu Kanza saat itu.


"Syah kita sudah membahas masalah ini berkali kali dan aku juga sudah menjelaskan alasanku kenapa aku nggak bisa melakukannya saat itu ." ucap Iman dengan perasaan mulai tidak nyaman setiap kali Aisyah membahas masalah hubungannya dengan Hafiz dan itu nanti akan berlanjut kekeluarga besar mereka.


Jujur saja Iman merasa lelah karena selalu menjadi pihak tersalahkan secara tidak langsung karena itu dia benar benar berusaha menghindari membicarakan masalah ini lagi dengan Aisyah.


"Baik aku nggak menyalahkanmu soal Kanza tapi apa kamu tau Man, karena posisi ku yang masih singgle sampai sekarang jadi Mas Hafiz dan keluarganya selalu berusaha meminta aku supaya mau kembali lagi bersamanya dan aku merasa nggak nyaman karena itu Man.Apa begitu sulit bagimu membuka hati untukku lagi padahal aku tau selama ini nggak ada seorang perempuan pun yang dekat dengan mu selain aku jadi bisakah kamu memikirkan hal ini sekali lagi Man.Anggap saja...."


"Syah aku sudah harus bersiap naik ke pesawat sekarang,salam buat Kanza katakan aku menyayanginya, nanti kalau aku punya waktu aku akan menemuinya lagi."


Iman segera memotong perkataan Aisyah yang semakin membuatnya tidak nyaman karena terus saja membahas hal itu setiap kali ada kesempatan.


" Sudah menelponnya pak? "


Iman langsung menoleh kearah dosen Rianti yang berjalan disampingnya lagi setelah melihat dia mengakhiri panggilannya tadi.


"Iya karena sepertinya pesawat kita akan berangkat,.Ayo kita naik Bu " balas Iman lalu berjalan berdampingan dengan dosen Rianti tanpa mengatakan apapun lagi, begitu pun dosen Rianti yang diam dengan tersenyum smrik tanpa sepengetahuan Iman karena sebenarnya tadi dia sudah menguping pembicaraan pria itu secara diam diam jadi sedikit banyak dia tau kalau hubungan pria itu dengan perempuan yang disangkanya istri Iman itu sepertinya sedang bermasalah cukup serius saat itu , membuatnya merasa senang dan bersorak dalam hati dan berniat tidak akan mundur untuk mendekati pria disampingnya itu.


***


Iman berjalan dengan langkah lebar begitu turun dari mobilnya pagi itu setelah sampai diKampus T tempatnya mengajar.

__ADS_1


Tujuan pertamanya adalah ruang dosen dimana meja kerjanya berada.


Sampai didalam ruang dosen suasana masih sepi karena saat itu memang masih pagi hanya ada beberapa dosen yang datang selain dirinya, lalu ada pekerja yang bertugas membersihkan ruangan itu dan sedang bekerja.


"Bu Marni jam segini stand makanan di Kantin sudah ada yang buka apa belum tau?" tanyanya pada perempuan yang sedang mengepel lantai ruang dosen itu.


"Bapak mau beli sarapan ?" tanyanya tanpa menghentikan pekerjaan yang sedang dilakukannya saat itu..


"Iya , karena saya belum sempat sarapan tadi," terang Iman.


"Sepertinya sudah ada beberapa yang buka memangnya Bapak mau sarapan apa?" tanyanya lagi.


"Saya belum tau, jadi sebaiknya saya kesana aja buat melihat sendiri kedai apa aja yang sudah buka jam segini," terang Iman dengan bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang dosen.


Sampai diKantin Kampus Iman mengedarkan pandangannya kearah deretan gerai makanan yang ada disana.


Seperti kata Bu Marni tadi , sudah ada beberapa yang sudah buka ,tapi masih banyak yang belum dan gerai yang ingin didatanginya saat itu masih belum terlihat buka.


Jadi Iman berniat berbalik pergi dan memutuskan nanti saja dia kesana lagi setelah jam mengajarnya selesai,tapi saat dia baru melangkah beberapa meter terdengar suara pintu gerai itu terbuka membuat Iman mengurungkan niatnya untuk pergi dan memutuskan untuk melangkah mendekat kearah yang dituju nya..


"Permisi...."


Panggilannya tidak ada yang menyahut,tapi dia bisa mendengar suara orang bicara dari tempatnya berada saat membuat Iman kembali berniat memanggil lagi dengan suara lebih keras tapi sebelum dia melakukannya orang yang berada didalam tiba tiba keluar dan langsung terkejut begitu melihat ada dirinya berdiri disana.


"Sepertinya warungnya baru buka ya Mbak," sapanya dengan tersenyum ramah pada Widia yang diam terpaku ditempatnya karena syok melihat siapa yang sekarang ada dihadapannya saat itu.

__ADS_1


"Sebenarnya kalau nggak mengganggu saya berniat bicara dengan teman mbak yang satunya sebentar . Apa bisa?" tanyanya yang langsung diangguki oleh Widia.


"Tunggu sebentar jangan kemana mana!!" perintah Widia dengan nada penuh penekanan pada Iman yang dibalas anggukan oleh Iman dengan dahi berkerut melihat reaksi yang diberikan Widia barusan padanya.


__ADS_2