
"Sudah lama ya kita nggak ketemu, Hafiz!".
Seketika Hafiz menoleh kesumber suara dan melupakan ponselnya saat mendengar suara yang sudah sangat lama tidak didengarnya lagi itu
"Kau...".
Hafiz menatap kearah pria yang baru saja menyapanya itu dari atas lalu kebawah berkali kali untuk memastikan kalau yang berdiri dihadapannya sekarang itu benar benar saudara satu ayah dengannya yang sudah pergi bertahun tahun yang lalu tanpa ada Khabar beritanya.
"Ya Aku,kau masih ingat dengan ku bukan meski sudah bertahun tahun kita berdua nggak pernah bertemu lagi".
"Tentu saja aku ingat kau pikir aku dirimu yang terus saja bersikap membangkang pada Abi dengan kabur dari rumah hanya karena Abi melarangmu mendekati Aisyah saat itu".
"Aku bertemu Aisyah beberapa hari yang lalu".
Deg!
Hafiz benar benar melupakan ponsel ditangannya saat mendengar apa yang dikatakan saudara satu ayahnya itu dan reflek berjalan mendekat kearah pria yang berpenampilan urakan dengan celana jeans robek dibeberapa bagian serta atasan berupa kaos tanpa lengan yang memperlihatkan tato dibagian lengan yang dimiliki pria itu membuat penampilannya benar benar kebalikan dari penampilan Hafiz sekarang yang rapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi yang menghiasi lehernya.
__ADS_1
"Apa maksudmu bicara seperti itu.Apa kau sengaja menemui istriku karena masih punya perasaan padanya Iman",ucap Hafiz dengan nada menggeram saat mengatakannya yang dibalas oleh pria itu yang ternyata Iman dengan tersenyum sinis pada Hafiz.
"Kenapa kalau iya apa kau takut Aisyah akan berpaling padaku begitu bertemu denganku yang merupakan cinta pertamanya Fiz",jawabnya dengan ekspresi santai.
"Jangan berani kau menyentuh istriku dengan tangan kotormu itu!",bentak Hafiz dengan berniat mencengkram kerah kaos Iman tapi sebelum Hafiz berhasil menyentuhnya Iman sudah lebih dulu menepisnya keras hingga membuat Hafiz sedikit terhuyung kebelakang membuat Iman kembali tersenyum sinis kearah Hafiz.
"Aku masih rajin mencuci tanganku seperti yang selalu diajarkan pelayan dirumah Abi dan Umimu dulu jadi tenang saja meski penampilanku seperti ini tanganku tidak kotor lihatlah".
Iman dengan sengaja menunjukan kedua tangannya yang berwarna coklat dibagian punggungnya itu pada Hafiz yang semakin menggeram melihat apa yang dilakukan pria itu sekarang padanya.
"Kekanak kanakan",balasnya dengan wajah kesal.
"Sebenarnya apa maksudmu menemui ku sekarang?Apa kau ingin pamer karena bertemu Aisyah istriku dibelakang ku?",tanyanya dengan menatap Iman tajam yang dibalas Iman tanpa bergeming.
"Dia masih saja secantik dulu saat muda benar bukan?",ucapnya yang membuat Hafiz kembali menggeram mendengar pujian Imam pada istrinya yang bisa dibilang Aisyah adalah kekasih pertama Iman saat itu,tapi kedua orang tua Aisyah yang merupakan ketua yayasan sekolah tersebut memilih menjodohkan Aisyah dengan anak pertama dari istri pertama pemberi donatur terbesar disekolah itu yaitu Hafiz karena lebih kuat dalam segi asal usul dan garis keturunan dibandingkan dengan Iman yang merupakan anak dari istri ketiga pemberi donatur yang hanya berasal dari perempuan biasa dengan asal usul yang sangat biasa bahkan kalau diurut secara silsilah tidak ada yang istimewa.
Berbeda dengan ibu Hafiz yang berasal dari keluarga pengusaha keturunan timur tengah yang sangat kental sama seperti Ayah mereka berdua tuan Alfarizi yang juga merupakan pengusaha keturunan Timur tengah secara turun temurun dan menikah dengan ibu Hafiz karena perjodohan lalu menikah lagi dengan istrinya yang lain karena setelah menikah dengan ibu Hafiz dia tidak langsung mendapat keturunan yang sangat diagungkan oleh keluarga mereka.
__ADS_1
Umi Iman adalah istri ketiga yang dinikahi ayah mereka berdua karena ingin mendapatkan seorang anak setelah beberapa kali menikah lagi tapi tetap saja tidak bisa juga memiliki keturunan .
Umi Iman hanya perempuan muda biasa yang menikah dengan tuan Alfarizi yang seorang pengusaha kaya yang sudah punya dua istri sah saat itu tapi belum juga punya anak demi bisa mengeluarkan keluarga perempuan itu dari garis kemiskinan meski harus menjadi istri ketiga yang tugasnya hanya untuk melahirkan anak bagi sipengusaha dan istri pertamanya.
Tapi teryata saat Umi Iman sedang mengandung Iman si istri pertama yang merupakan Umi Hafiz juga hamil.
Hal itu tentu saja langsung membuat hidup Umi Iman semakin menderita dan yang semula diperlakukan dengan sangat istimewa karena berhasil hamil setelah sekian lama tuan Alfarizi tidak juga punya keturunan tiba tiba setelah menikah dengan Umi Iman perempuan itu langsung hamil.
Hal itu terus berlangsung sampai Imam lahir meski sama sama merupakan anak dari tuan Alfarizi tapi perlakuan yang dialami oleh mereka berdua yang sama sama anak laki laki sangat berbeda .
Iman lebih mirip sebagai bayang bayang bagi Hafiz sejak kecil dan yang mengganggu bagi keluarga tuan Alfarizi itu karena posisinya tidak diperlukan lagi tapi tidak bisa dibuang begitu saja.
Umi Iman selalu hidup dalam tekanan bathin melihat semua hal itu hingga sejak Iman mulai masuk sekolah menengah pertama Umi Iman terus saja keluar masuk rumah sakit karena kondisinya.
Dan Aisyah yang merupakan teman dari keluarga itu yang sejak kecil sering bermain kerumah keluarga Alfarizi karena mereka berdua bersekolah diYayasan milik keluarga Aisyah dan tuan Alfarizi merupakan donatur terbesar hingga dia akrab dengan kedua putra tuan Alfarizi yaitu Iman dan Hafiz tapi karena sikap Iman lebih terbuka jadi Aisyah lebih akrab dengan Iman yang berlanjut sampai mereka besar tepatnya sampai masuk keperguruan tinggi saat mereka berdua sudah bisa dibilang sebagai kekasih tiba tiba Aisyah dijodohkan dengan Hafiz karena asal usul Hafiz yang lebih kuat.
Iman muda marah pada tuan Alfarizi saat itu karena bersikap sangat tidak adil padanya yang bukannya membuat tuan Alfarizi membelanya tapi malah menganggap Iman sebagai anak pembangkang karena ibunya berasal dari perempuan biasa dan menyalahkan ibunya yang dianggap tidak mendidik Iman dengan baik karena bukan berasal dari keluarga seperti ibu Hafiz.
__ADS_1
Semakin marah dan benci pada tuan Alfarizi karena mengungkit hal itu padanya sementara ibunya hanya bisa menagis saat mendengar penghinaan itu membuat Iman memutuskan pergi dari keluarga tuan Alfarizi yang tidak pernah menganggapnya ada karena sudah memiliki Hafiz yang sangat sempurna bagi mereka.
Mengingat semua itu Iman tersenyum sinis dan lebih merasa miris karena bertemu dengan saudara seayahnya ini membuat dia merasa seperti bernostalgia kebagian dirinya yang sangat menyakitkan lagi yang ingin dilupakannya selama ini andai bisa.