
"Nih, tolong Abang bantu aku lepasin kancingnya," pinta Ayunda dengan membalikkan tubuhnya membelakangi Iman, tanpa melihat dulu bagaimana ekspresi pria itu, saat itu waktu melihat penampilannya.
Karena dia ingin segera melepas baju kebaya pengantin yang mulai terasa tidak nyaman ditubuhnya itu.
Iman masih diam dengan terus menatap tubuh Ayunda yang saat itu membelakanginya dalam kondisi baju kebaya yang setengah terbuka.
Hingga memperlihatkan bagian punggung mulus milik sang istri, yang membuat gairahnya sebagai seorang pria dewasa berdesir tidak karuan.
Melihat Iman masih belum juga melakukan apa yang dimintanya, Ayunda kembali meminta. Kali ini dengan nada suara sedikit kesal, karena baju yang dikenakannya itu mulai terasa gerah ditubuhnya.
"Bang cepetan bantu aku buka kancing kebayanya.Ini aku udah kegerahan ," pinta Ayunda, yang membuat Iman langsung tersadar dari pikirannya barusan mendengar perkataan sang istri itu dan segera mengulurkan tangannya, lalu mulai membuka satu persatu kancing kebaya yang masih dikenakan Ayunda saat itu.
"Sudah?" tanya perempuan itu, karena merasa pria dibelakangnya tidak lagi menggerakan jemarinya dibelakang punggungnya lagi.
__ADS_1
Iman tidak menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh Ayunda barusan, karena pikirannya mulai tidak bisa lagi fokus saat merasakan punggung mulus sang istri yang tadi disentuhnya, waktu membuka kancing kebaya itu satu persatu.
Membuat gejolak hasrat Iman sebagai pria dewasa yang dipendamnya selama bertahun tahun mulai runtuh dan mendesak bangkit ingin disalurkan.
"Bang," panggil Ayunda karena tidak mendengar jawaban dari sang suami atas pertanyaannya barusan.
"Belum," jawab pria itu tiba tiba dengan kembali mengulurkan tangannya tapi kali ini berniat untuk melepas kebaya yang melekat ditubuh sang istri.
Ayunda sedikit terjengkit waktu merasakan jemari pria itu menyentuh punggungnya, dengan gerakan pelan menyusuri batas garis kancing kebaya yang dikenakannya, sampai kepundaknya.
"Aku bantu kamu melepaskannya, Yank," jawab Iman, tepat didekat tengkuk sang istri dengan jemari tangannya perlahan menurunkan kebaya yang dikenakan perempuan itu dengan gerakan slow motion membuat nafas Ayunda tercekat tanpa bisa dicegah.Apalagi saat bibir pria itu terasa menyentuh kulit lehernya yang saat itu memang sudah tidak tertutup apapun, karena kerudung yang dipakainya sudah dilepasnya waktu dia masih berada didalam kamar mandi tadi.
"Bang," panggil Ayunda dengan nafas tercekat dan tanpa sadar jemari mengepal untuk menahan sensasi dari sentuhan bibir pria itu dikulit tengkuknya.
__ADS_1
"Hemmm," gumam pria itu, sebagai jawaban dari panggilan Ayunda padanya.
"Itu ..." Ayunda tidak bisa meneruskan perkataannya dan hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat Iman menyesap kulit diantara telinganya, karena merasakan darahnya berdesir hebat saat itu.
"Yank," bisik Iman parau didekat telinga perempuan itu membuat nafas Ayunda semakin tercekat dan desiran gairah dalam dirinya bangun.
"Hemm," gumam Ayunda dengan nada setengah mendesis,sebagai jawaban dari panggilan Iman.
Karena pria itu sedang melu*at cuping telinganya dengan rakus, membuat Ayunda sampai tidak sadar lagi, kalau kebaya yang melekat ditubuhnya sudah jatuh kelantai kamar.
Hanya menyisakan bra yang dikenakannya, serta bawahan pasangan kebayanya saja, yang juga dengan cepat sudah meluncur lepas dari tubuhnya saat itu.
Ayunda tidak sempat menyadari lagi bagaimana kondisinya saat itu, karena Iman yang semakin gencar menghujani dirinya dengan ciuman juga lu*atan secara bertubi tubi.
__ADS_1
Membuat perempuan itu, benar benar dibuat terbuai oleh sentuhan pria itu yang sudah sangat lama dirindukannya itu, selama ini.