
"Ini pesanannya, pak, Iman."
Pria itu langsung mendongak dengan dahi mengernyit waktu Ayunda mengantarkan makanan yang dipesannya.
"Pak?" ulang pria itu, dengan nada heran yang dibalas anggukan oleh perempuan itu.
"Iya, ingat, ini diKampus dan kita tadi sudah sepakat, kalau nggak akan, bersikap mencolok disini karena aku masih belum setuju untuk berbaikan dengan Bapak," jawab Ayunda lirih supaya hanya Pria itu yang mendengar perkataannya.
"Oh baiklah,makasih, Mbak!" balas Iman dengan sengaja menekankan kata sebutan Mbak, pada Ayunda, hingga tanpa perempuan cantik itu sadari raut wajahnya seketika berubah, sama seperti waktu pria itu mendengar perempuan cantik itu tadi memanggilnya Pak.
"Iya, silahkan makan, aku masih harus melayani pembeli yang lain," balas perempuan cantik itu dengan nada ketus, lalu berbalik pergi meninggalkan Iman, yang hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah kesal, yang ditunjukan perempuan itu, barusan.
" Lho kok, lo nggak duduk aja buat nemani Bang Iman didepan, Yun?" tegur Widia, karena melihat Ayunda masuk lagi kebelakang membantunya, setelah mengantarkan makanan untuk Iman.
"Buat ngapain lagi, pembicaraan kami sudah selesai tadi waktu dibengkel, sekarang nggak ada yang perlu kami bicarakan lagi," terang Ayunda, sambil melakukan pekerjaan didapur.
"Emang lo serius mau bersikap dingin kaya gini sama dia,Yun.Lo lupa ya, gimana selama ini, lo udah nunggu dia, lalu setelah bertemu dan yakin dia itu suami lo, lo malah nyuekin dia kaya gini."
Ayunda menghentikan pekerjaannya, lalu berpaling menghadap Widia dengan bersandar ditepi meja.
"Gue juga nggak ingin kaya gini Wid,tapi, gue nggak bisa gitu aja nerima dia, soalnya dia nggak ingat sama gue.Dia bersikap kaya sekarang itu karena, setelah dia mendengar cerita dari Bang Fahri sama Sabrin kalau kami sebenarnya suami istri, tapi kalau nggak, gue yakin dia masih akan tetap cuek, karena nggak kenal sama gue, sementara gue mengharapkannya banget selama ini," ucap Ayunda muram.
"Lalu,apa itu berarti lo tetep kekeuh pada keinginan lo yang semula nggak, mau menikah lagi sama dia Yun?"
"Bukannya nggak mau Wid, tapi gue mau melihat dulu kesungguhannya, kalau dia berhasil membuat gue yakin meski dia nggak bisa mengingat masalalu kami dulu, gue mungkin akan mempertimbangkannya lagi."
__ADS_1
"Ya, semoga aja dia cepat ingat dengan kita semua ya, Yun. Terutama sama lo, supaya kalian bisa bareng lagi.Gue dan yang lain bener bener sangat berharap, lo bahagia Yun, meski nggak harus sama Bang Iman," ucap Widia dengan tersenyum tulus pada Ayunda yang dibalas anggukan oleh perempuan cantik berkerudung biru itu.
"Ya udah, ayo kita kerja lagi,sementara untuk masalah gue, sama Bang Iman gue pasrahkan aja sama Allah Wid.Andai Allah memang menghabiskan jodoh gue sama dia,gue ikhlas, begitu pun sebaliknya.Yang penting sekarang gue udh lega karena ternyata dia masih hidup dan baik baik aja," terang Ayunda, yang kali ini dibalas anggukan oleh Widia dan tidak lagi membahas masalah itu, sampai akhirnya Iman selesai makan lalu membayar makanannya pada mereka.
"Ini kembaliannya pak," Iman menerima uang itu dari tangan Ayunda, tanpa protes atau menolaknya.
"Hari ini kamu selesai jam berapa?," tanya pria itu dengan menatap kearah Ayunda yang sedang menutup laci tempat uang, setelah memberikan uang kembalian pada Iman.
"Biasanya pukul 5 sore warung tutup,ada apa pak Iman menanyakan itu?"
" Nggak ada, cuma mau tau aja," jawab pria itu, lalu tersenyum kearah Ayunda yang juga membalas senyuman pria itu
"Ya udah kalau gitu, aku pergi dulu,sampai jumpa lagi nanti, Ayunda... Cantik," wajah perempuan cantik dengan kerudung biru itu, langsung bersemu merah, waktu mendengar ucapan terakhir yang dikatakan Iman didekat telinganya, membuat dadanya langsung berdebar karenanya.
Dan, dia hanya bisa menatap kepergian pria itu, sampai sosoknya menghilang dari hadapannya, kaku.
Iman berjalan menuju mobilnya yang berada diparkiran khusus dosen.
Iman masuk kedalam mobil, sebelum menghidupkan mesinnya dia lebih dulu memeriksa jam dipergelangan tangannya.
Pukul 2.30 siang, masih ada beberapa jam sebelum Ayunda menutup warungnya pikir pria itu, dia diam sebentar untuk berpikir, akan kemana menghabiskan waktu sampai perempuan cantik itu selesai dengan pekerjaannya,ingin kembali kerumahnya, dia sedang tidak ingin, tapi menunggunya didalam mobil waktunya masih terlalu lama.
Setelah berpikir pria itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke Bengkel lagi, menemui orang orang yang tadi ada disana, baru nanti setelah dari sana, dia kembali lagi kemari berniat menjemput Ayunda, mengantarkannya pulang.
Memikirkan itu tanpa sadar dia jadi senyum senyum sendiri karena bayangan wajah cantik Perempuan itu menjadi kembali muncul didepan matanya saat itu.
__ADS_1
"Sial,kupikir aku jatuh cinta lagi padanya sekarang," gumamnya seorang diri sebelum akhirnya memutuskan untuk menghidupkan mobilnya lalu pergi dari sana.
***
Pukul 5 lewat 10 menit akhirnya dua perempuan muda itu akhirnya selesai membereskan warung, mereka sudah siap untuk pulang kerumah kos yang mereka tempati.
"Sudah semua kan Wid,kalau gitu kita pulang,sekarang," Widia mengangguk dengan mengikuti Ayunda berjalan keluar menuju tempat dimana mereka memarkir kendaraan.
Baru saja sampai disana tiba tiba ponsel Widia berbunyi, membuat perempuan dengan potongan rambut pendek itu langsung mengambil ponselnya dan terlihat terdiam sambil menatap kelayar ponselnya.
"Siapa?" tanya Ayunda karena ekspresi wajah Widia berubah keruh.
"Emak gue, Yun," jawab perempuan itu tanpa semangat.
"Kenapa nggak lo angkat? Angkat Wid, siapa tau aja penting," saran Ayunda yang dibalas anggukan oleh Widia, lalu sedikit menjauh supaya bisa leluasa bicara dengan sipenelpon.
Ayunda berdiri diam dengan memainkan ponsel ditangannya, menunggu Widia selesai menelpon dan terkejut saat melihat sebuah pesan diAplikasi hijaunya yang dikirim 10 menit lalu, oleh nomor tidak bernama.
"Sudah selesai, kalau sudah kuantar pulangnya ya sore ini," bunyi pesan itu yang terlihat aneh karena seolah orang yang mengirimnya pesan itu akrab dengannya. Sementara nomor itu nggak ada didaftar kontaknya.
Ayunda berpikir itu orang iseng dan berniat memblokir nomor itu, tapi belum sempat dia melakukannya, nomor tak dikenal itu menghubungi nya, dengan kesal Ayunda langsung mengangkatnya.
"Ya!" jawabnya dengan nada suara ketus.
"Yun, kamu udah selesai belum diwarung?" tanya orang diseberang telpon yang ternyata adalah Iman.
__ADS_1
"Ini nomor Abang?!" balas Ayunda dengan nada tidak percaya kalau Iman sekarang yang sedang menelponnya.
"Iya, kaget ya?" tanya Iman dari seberang telpon dengan suara terdengar senang karena Ayunda mengangkat panggilannya.