
"Pak Sulaiman mau pergi ke Kantin bareng nggak?!," tegur Dosen Rianti saat melihat Dosen baru yang namanya langsung menjadi buah bibir dikalangan Mahasiswa dan Dosen lain sejak kedatangannya diKampus T itu karena penampilan nya yang sangat menawan gagah dan penuh kharisma membuat siapa sangat tertarik saat melihatnya.
"KeKantin? sekarang?," tanyanya yang diangguki oleh Dosen perempuan berusia diawal 27 tahun yang juga tertarik dengan sosok pria didepannya itu meski ada Khabar simpang siur kalau pria itu sudah menikah dan punya anak tapi hal itu tidak membuat pesonanya dimata para Mahasiswi juga dosen perempuan seperti dirinya gentar bahkan dia sering mendengar selentingan dari para Mahasiswi yang mengidolakannya kalau status nya itu bukan masalah bagi mereka.
"Nggak usah jadi istrinya pak Sulaiman jadi gundiknya aja aku udah terima kok,asal bisa bersamanya".
"Aku nggak perlu jadi gundiknya asalkan bisa menghabiskan satu malam aja sama dia aku rela deh!".
Bukan sekali dua kali ada Mahasiswi diKampus itu yang bicara seperti itu tentang pria dihadapannya ini sekarang tapi tanggapan pria satu ini tetap sama reaksi ramah yang dingin membuat Dosen Rianti penasaran perempuan seperti apa sebenarnya yang sudah berhasil merebut hati pria ini sampai bisa membuatnya tidak goyah dengan godaan godaan nyata dihadapannya.
"Iya.Pak Sulaiman mau kan?," tanya nya yang diangguki oleh Iman.
"Kebetulan saya lapar juga sekarang karena tadi pagi nggak sempat sarapan jadi ayo kita kesana," jawabnya dengan berjalan disamping Dosen Rianti.
"Jam segini belum makan.Bapak tinggal sendiri disini?," tanya Dosen Rianti yang diangguki oleh Iman.
"Iya saya tinggal sendiri."
"Istri Bapak?Eh maaf kalau saya lancang bertanya hal pribadi pada Bapak," ralat perempuan itu yang dijawab gelengan oleh Pria disampingnya dengan ekspresi biasa.
"Putri saya diSurabaya bersama ibunya saya disini sendiri," terangnya yang diangguki oleh Dosen Rianti.
"Nggak sepi pak," celetuknya yang membuat Iman menoleh kearah perempuan disampingnya itu.
"Maksud Bu Rianti?," tanyanya yang membuat Dosen Rianti langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Nggak maksud saya..itu Bapak dan keluarga Bapak harus berpisah jadi..."
"Saya sudah biasa sendiri kok dan nyaman dengan hal itu," balas Iman tersenyum kearah Dosen Rianti yang hampir saja membuat Dosen Rianti meleleh melihat senyum pria disampingnya itu sampai membuat detak jantungnya berkali lipat lebih kencang dari biasanya.
"Ini Kantin Kampus kita ya Bu Rianti?," tanya Iman yang diangguki oleh perempuan disampingnya itu.
"Iya...Bapak baru tau?," tanya nya heran.
"Beberapa kali saya beli makanan disini hanya titip dengan pak Bayu atau OB dikantor kita soalnya saya masih sibuk karena baru pindah belum satu bulan disini," terang Iman dengan berjalan masuk kedalam bangunan berbentuk Aula besar yang dibagian ujung terdapat berbagai stand dari penjual makanan disana.
"Meski cuma kantin Kampus makanan disini banyak yang enak dan banyak pilihannya bahkan ada beberapa yang harus antri sebelum kita membelinya tapi sepertinya sekarang masih sepi jadi kita bisa memilih sesukanya mau makan apa," terang Dosen Rianti yang dibalas anggukan oleh Iman dan begitu mereka berada didalam niat hati Dosen Rianti yang ingin duduk berdua saja dengan Iman gagal karena ternyata disana ada Dosen Bayu yang begitu melihat mereka langsung melambai dan menegur mereka keras.
"Pak Sulaiman Bu Rianti gabung dimeja saya!."
Dosen Rianti ingin menolak tapi Iman sudah berjalan mendekat kearah Dosen Bayu yang saat itu hanya duduk sendiri dimejanya.
"Ehem..Bu Rianti sama Pak Sulaiman mau pesan apa ya?," tawarnya dengan sengaja tersenyum jahil kearah Dosen Rianti karena tau maksud perempuan itu duduk disamping Iman.
"Aku Rawon sama es jeruk,kalau Pak Sulaiman?," tanyanya dengan menoleh kearah Iman yang menatap ke kertas menu dengan melihat deretan menu yang ada disana.
"Nasi goreng aja sama air putih hangat," jawabnya.
"Siang siang Bapak kok makan nasi goreng emang nggak papa?," tegur Dosen Rianti yang membuat Iman menoleh lalu menggeleng.
"Nggak sih kebetulan aku lagi ingin makan itu," terangnya.
__ADS_1
"Itu aja aku pesankan ya," ucap Dosen Bayu dengan berdiri dari duduknya yang langsung dicegah Iman.
"Aku aja yang pesan sendiri,pak Bayu lanjutkan aja makannya."
Tapi Dosen Bayu menggeleng.
"Nggak papa aku suka kok pesan makanan sekalian bisa melihat bidadari nanti," celetuknya dengan meringis kearah Iman yang membuat Iman terdiam mendengarnya.
"Dasar pria mata keranjang," gumam Dosen Rianti yang didengar oleh Iman dan membuat pria itu langsung menoleh kearah rekan perempuannya itu.
"Oh itu...pelayan di stand ini terkenal masih muda juga cantik, banyak para Mahasiswa juga Dosen yang makan disini hanya buat melihat wajahnya aja termasuk pak Bayu yang selalu makan disini karena itu bikin aku kesal jadinya," terang Dosen Rianti merasa serba salah tapi Iman hanya menanggapinya datar tanpa ekspresi berlebih mendengar apa yang dikatakannya barusan membuat Dosen Rianti tanpa sadar menjadi lega dan berharap Iman tidak berubah menjadi aneh begitu melihat wajah pelayan warung itu.
"Sebentar lagi pesanan kalian datang dan aku juga sudah minta yang ngantar nanti si Bidadari surgaku ," ucap Dosen Bayu penuh semangat saat mengatakannya membuat Dosen Rianti benar benar kesal mendengar nya.
Sementara Iman hanya menanggapinya tetap diekspresi semula bahkan dia memilih sibuk dengan ponsel miliknya dibanding ikut andil dalam obrolan kedua rekannya itu yang mengobrol dengan nada seperti berdebat.
"Ini pesanannya silahkan dinikmati Bu pak...."
Prank!!!
Iman yang saat itu sedang asyik dengan ponsel ditangannya reflek menoleh keperempuan yang mengantarkan pesanannya dan terkejut karena es jeruk pesanan Dosen Rianti tumpah diatas celana panjang yang dikenakannya hingga gelas nya jatuh kelantai dan pecah membuat Dosen Rianti langsung berteriak keras marah.
"Mbak gimana sih naronya teledor banget! Jadinya tumpah dan ngotorin celana rekan saya kan dasar!," bentaknya.
"Ma...maaf..A...aku...nggak... sengaja..biar aku bersihkan," ucap pelayan itu dengan segera mengambil tisu dimeja dan membersihkan celana Iman yang basah dengan tangan gemetar dan wajah pucat yang terlihat jelas oleh Iman Karena posisi mereka sekarang.
__ADS_1
"Nggak usah biarkan aja," ucap Iman pelan dengan menyentuh tangan perempuan itu dengan maksud menyuruhnya berhenti membersihkan celananya yang basah saat itu tapi begitu dia menyentuh tangan yang berada dipahanya itu Iman terkejut karena merasakan perasaan berdesir hebat yang belum pernah dirasakannya selama ini pada perempuan manapun membuatnya reflek menoleh kearah Perempuan itu yang sekarang juga sedang menatap kearahnya dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca kaca.