Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
48. Mengatakan Sebenarnya Pada Widia.


__ADS_3

"Wid kamu mau masuk kerumah kami dulu?",tawar Iman yang membuat Widia terdiam masih syok karena baru tau kalau Ayunda ternyata sudah menikah dengan Iman tanpa memberitaunya sama sekali selama ini.


"Gue akan ngganggu pengantin baru kaya kalian bukan kalau gue masuk",celetuknya dengan menatap kearah Ayunda dengan kesal yang pura pura tidak diperdulikan oleh Ayunda karena merasa bersalah dengan Widia yang mengetahui hubungan mereka dengan cara tiba tiba seperti ini.


"Nggak kok,kalian ngobrol aja dulu kebetulan aku juga mau keluar sebentar sekarang",ucap Iman dengan memberikan bungkusan nasi yang tadi dibelinya pada Ayunda lalu berniat pergi dari tempat itu membuat Ayunda terkejut karena selama perjalanan tadi Iman tidak mengatakan akan pergi lagi padanya.


"Abang mau kemana?",tanyanya tidak suka dengan niat Iman barusan.


"Kalian ngobrol aja dulu aku mau keluar kewarung sebentar buat beli rokok dan nelpon bang Fahri mau bicara soal masalah dibengkel",terang Iman yang membuat ekspresi Ayunda langsung berubah lega.


"Oh..aku pikir..".


"Ehem...Gue masih ada disini kalau gue ngganggu gue pulang aja sekarang deh",celetuk Widia dengan menatap kearah mereka berdua yang terlihat sangat mesra.


"Nggak usah,masuk aja kedalam bareng Ayunda karena aku mau pergi sekarang",Tarang Iman dengan menyentuh kepala Ayunda lalu pergi meninggalkan mereka berdua didepan rumah.


Begitu Iman pergi yang diikuti oleh tatapan Ayunda sampai pria itu tidak terlihat.


"Yun,Lo harus cerita ke gue gimana Lo bisa sampai jodoh ama tu Babang Macho",pinta Widia yang membuat Ayunda menyipitkan matanya mendengar istilah Widia untuk Iman barusan.


"Cepet cerita gue mau dengar",paksa Widia dengan tidak sabar.


"Sabar,gue buka pintu dulu kita masuk baru gue cerita nggak sabar amat sih Lo",balas Ayunda kesal.


"Ya cepet buka pintunya dari tadi masih belum aja Lo buka jangan jangan Lo memang nggak mau gue masuk kerumah Lo ya".


"Tu tau",balas Ayunda ketus.


"Biar Lo nggak suka gue masuk gue tetap masuk dan Lo wajib cerita sampai selesai kegue termasuk hubungan Lo sama Manajer baru kita itu".


"Sttt...jangan ngomongin si Pak Hafiz itu diluar gue khawatir nanti tiba tiba Bang Iman balik dan bisa dengar soal itu",ucap Ayunda dengan mengedarkan pandangannya kearah jalan Iman pergi tadi.


"Emang Lo nggak cerita soal si Manajer itu ama Babang Macho?",tanya Widia yang lagi lagi membuat Ayunda memicingkan matanya mendengar Widia menyebut Iman.

__ADS_1


"Kenapa?",tanya Widia lagi melihat Ayunda yang terlihat kesal padanya.


"Jangan ngasih julukan laki gue sembarangan !",hardiknya dengan menatap Widia tajam.


"Kenapa Lo nggak suka?",tanya Widia dengan wajah jahil yang dibalas Ayunda dengan cibiran.


"Ayo masuk",ajak Ayunda setelah pintu rumahnya terbuka.


"Wah enak tempat tinggal Lo Yun",celetuk Widia dengan masuk kedalam rumah kontrakan Ayunda dan Iman.


"Makasih pujiannya",balas Ayunda dengan m nyuruh Widia duduk yang tidak dituruti oleh gadis itu dan malah mengikuti Ayunda kedalam kamar untuk berganti baju membuat Ayunda membatalkan niatnya untuk berganti baju.


"Lo kok ikut?",tanya Ayunda yang dijawab cengiran oleh Widia lalu kembali kedepan dan membiarkan Ayunda berganti baju dikamar setelah selesai baru dia keluar menemui Widia yang ternyata sedang duduk diam.


"Lo mau makan?",tawar Ayunda yang dijawab gelengan oleh Widia.


"Gue mau dengar cerita lo bagaimana sampai Lo bisa nikah sama Babang Macho",ucapnya lagi.


"Issh.... gue nggak suka cara Lo manggil suami gue",celetuk Ayunda yang dibalas cengiran oleh Widia.


"Jangan berani berani Lo lirik suami gue bakalan gue damprat nanti Lo dan gue nggak perduli meski kita teman",ancam Ayunda dengan menunjuk kan jarinya yang dibalas Widia kembali dengan cengiran.


"Ya udah kalau Lo udah punya Babang Macho berarti gue beralih ke Babang tamvan yang ada ditempat kerja kita aja".


"Siapa Babang Tamvan itu Wid?",tanya Ayunda tidak mengerti.


"Babang Hafiz".


Ayunda reflek tersedak mendengar siap orang yang dimaksud Widia sebagai Babang Tamvan dia.


"Hafiz!Manajer kita yang nauzubillah menyebalkan itu?!".


Widia mengangguk"Iya emang dia nggak tampan Yun?".

__ADS_1


"Tampan sih tapi sifatnya nggak banget terlalu mendominasi nggak mau mengalah merasa berkuasa dan ...Ih pokoknya nyebelin banget deh kaya anak anak".


"Emang Babang Macho nggak?",tanya Widia yang dibalas gelengan oleh Ayunda.


"Sejauh ini nggak sih bahkan menurut gue,gue yang selalu nyebelin dan dia yang selalu berusaha mengerti semua hal tentang gue",jelas Ayunda.


"Kayanya Lo udah jatuh cintrong sama suami Lo itu deh Yun".


"Kalau Lo diposisi gue Lo pasti iya deh Wid meski.... kalau soal penampilan jauh beda dari siManajer kita itu tapi sikap nya benar benar bisa bikin kita meleleh rasanya ".


"Ehem....Sialan gue dipanasi sekarang sama Lo yang baru tau rasanya jatuh cinta",gerutu Widia dengan kesal sendiri mendengar cerita Ayunda tentang sikap Iman padanya.


Ayunda meringis mendengar apa yang dikatakan Widia.


"Maaf gue nggak bermaksud kayak gitu tapi begitulah kenyataannya",balas Ayunda dengan perasaan bangga.


"Hah! lalu gimana Lo mau ngadepin siManajer kita itu yang kayanya naksir berat ama Lo?",celetuk Widia yang dijawab gelengan oleh Ayunda.


"Mungkin nggak naksir tapi sikapnya memang memang kayak gitu mentang mentang anak orang kaya jadi sama pegawai bersikap seenaknya".


"Yakin Lo dia ngelakuin itu karena memang sikap aslinya kaya gitu bukan karena naksir ama Lo Yun?",tanya Widia yang dibalas anggukan oleh Ayunda.


"Yakinlah emangnya siapa gue Wid sampai ditaksir oleh orang punya jabatan setinggi pak Hafiz itu".


"Iya juga sih apalagi Lo udah punya Babang Macho iyakan?".


Ayunda mengangguk.


"Tapi Yun menurut lo kalau diperhatikan,bukan misalnya didekatkan kira kira mirip nggak mereka berdua?",tanya Widia serius yang membuat Ayunda jadi memikirkannya secara serius juga.


"Maksud Lo apanya Wid?",tanya Ayunda tapi mulai merasa kalau wajah Hafiz dan Iman memang seperti ada kemiripan meski bentuk tubuh mereka berdua berbeda mungkin karena pekerjan mereka yang berbeda.


"Wajah mereka.Menurut Lo mirip nggak? Kok kayanya mirip ya sama sama punya wajah seperti keturunan Arab dengan hidung mancung juga mata tajam hanya kulit dan bentuk tubuh mereka aja yang berbeda dan saat mereka tersenyum mereka terlihat sangat mirip menurut gue".

__ADS_1


"Gue juga sempat berpikir begitu makanya waktu pertama kali gue ketemu pak Hafiz rasanya gimana gitu karena ternyata wajah dia tu mirip ama wajah bang Iman.


__ADS_2