
"Kami akan datang saat makan siang nanti Fiz jadi bawa gadis itu untuk ikut makan bersama kita supaya Umi sama Abi bisa berkenalan dengannya".
"Baik Mi akan Hafiz lakukan.Umi sama Abi datang aja dan telpon Hafiz kalau sudah sampai di Mall biar kusuruh dia menjemput kalian sampai ke Restoran tempat kita akan makan siang bersama.Oh iya tolong sampaikan pada Aisyah kalau dia mau ikut silahkan tapi kalau dia nggak mau tolong jangan dipaksa Mi.Aku nggak ingin membuatnya merasa nggak nyaman saat bertemu Ayunda begitupun sebaliknya".
"Oh...Jadi namanya Ayunda?Dia pasti cantik sekali sampai kamu berniat menikahinya secepatnya seperti ini".
"Nanti Umi sama Abi nilai aja sendiri soal kecantikannya tapi kalau masalah etiket tolong jangan direndahkan ya Mi karena kan dia memang nggak berasal dari keluarga seperti kita dan Aisyah karena itu dia anaknya sedikit bebas".
"Oh...itu nggak masalah nanti setelah dia menikah denganmu kamu atau kami bisa mengajarinya soal etiket".
"Terimakasih ya Mi sekarang Hafiz tutup dulu soalnya banyak pekerjaan yang harus Hafiz kerjakan sebelum membawa calon istri kedua Hafiz menemui kalian".
"Ini pernikahan keduamu tapi kenapa dari nada suaramu seperti pernikahan pertamamu saja Fiz ".
"Karena ini memang pertama kalinya Hafiz membawa perempuan untuk dikenalkan dengan kalian . Sementara dulu Hafiz dan Aisyah kan menikah karena perjodohan".
"Oh kamu benar.Baiklah kalau begitu Umi tutup telponnya sekarang Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam Mi".
Setelah mengucapkan salam barulah Hafiz mengakhiri panggilan telponnya pada sang Umi dengan wajah cerah sumringah karena sudah mendapat lampu hijau untuk menikahi Ayunda gadis yang untuk pertama kali dalam hidupnya membuat hatinya seperti jungkir balik.
Sementara ijin dari Aisyah dia berniat bicara lagi dengan pelan kepada istrinya itu yang tadi malam menolak dia ajak bicara karena marah mendengar keinginannya tapi itu bukan masalah untuknya.Mereka sudah menikah bertahun tahun dan Hafiz tau bagaimana cara membujuk Aisyah agar setuju jadi dia tidak terlalu pusing memikirkan tentang penolakan Aisyah.
Yang paling penting sekarang dia harus bisa membuat Ayunda bertemu kedua orang tuanya setelah itu untuk masalah bujuk membujuk Uminya adalah ahlinya jadi setelah mempertemukan mereka selanjutnya adalah tugas Uminya untuk membuat Ayunda setuju menikah dengannya yang dia yakin itu juga pasti akan beres hari ini.
Agar Ayunda tidak bisa menolak keinginannya untuk bertemu kelurganya Hafiz sengaja mengatakan hal itu pada pak Samsul sekretaris nya dengan dalih urusan berkaitan dengan pekerjaan gadis itu.
***
__ADS_1
Sementara itu ditempat lain.
"Syah Hafiz bilang kamu boleh ikut kalau mau tapi kalau tidak juga tidak masalah",ucap Umi Jubaidah pada menantunya itu.
"Ikut kemana Umi?",tanya Aisyah dengan wajah pucat karena tidak bisa tidur tadi malam setelah mendengar niat yang diungkapkan Hafiz.
"Menemui calon istri kedua Hafiz".
Mendengar hal itu hampir saja Aisyah jatuh karena syok tapi berhasil dicegahnya dengan bertumpu pada sandaran tangga rumah itu.
"Se... sepertinya..".
"Hafiz tidak memaksamu untuk ikut Aisyah kalau kamu tidak mau",ucap Umi Jubaidah saat melihat ekspresi wajah Aisyah saat itu yang jelas jelas tidak ingin ikut pergi.
"Oh...ini sangat mengejutkan Mi jadi bisakah hari ini aku nggak ikut pergi saja".
Umi Jubaidah menepuk bahu menantunya lembut.
"Tapi Umi...".
"Pikirkan segi positifnya disini.Posisimu tetap tidak bergeser bahkan lebih kuat karena kamu adalah istri pertama dan kalau perempuan yang dinikahi Hafiz ini hamil maka tugasmu untuk melahirkan penerus Alfarizi sudah gugur jadi kamu bisa lebih santai menjalani hidupmu dan tidak perlu lagi berusaha untuk hamil seperti sebelum sebelumnya yang Umi tau itu sangat melelahkan dan menyakitkan bagimu".
"Lalu bagaimana kalau dia juga tidak hamil Umi?Apakah mas Hafiz harus menikah lagi?".
"Tentu saja iya Aisyah sampai ada salah satu dari istri Hafiz yang bisa hamil".
"Lalu bagaimana kalau saat salah satu istri mas Hafiz hamil dan aku juga Hamil Umi.Apakah nantinya anak ku akan disayangi".
"Itu pasti.Dalam keluarga kami sebenarnya yang penting adalah anak dari istri pertama karena itu istri pertama putra keluarga kami harus benar benar berasal dari keluarga yang baik dalam segi bebet dan bobotnya. Sementara istri selanjutnya yang tugasnya hanya untuk melahirkan boleh dari kalangan mana saja yang penting dia perempuan baik baik dan bisa hamil".
__ADS_1
Entah merasa lega atau harus miris mendengar apa yang baru saja dijelaskan oleh ibu mertuanya itu padanya tentang tugas istri di keluarga mertuanya itu.
Tapi seperti yang baru saja dijelaskan oleh mertuanya sepertinya pernikahan Hafiz nanti tidak akan terlalu berdampak dalam hubungan rumah tangga mereka bahkan beban berat yang menggelayuti pundaknya selama hampir 10 tahun ini akan menghilang dan dipindahkan pada calon istri Hafiz yang baru.
"Bagaimana?".
"A..apa Umi?".
Aisyah sedikit bingung dengan pertanyaan mertuanya karena barusan tadi dia sibuk memikirkan kemungkinan yang menguntungkannya kalau Hafiz menikah lagi.
"Jadi kamu setuju nggak Hafiz menikah lagi Syah?Kalau kamu merasa ragu ragu sebaiknya kamu ikut untuk bertemu dengan perempuan itu dan melihat sendiri apakah dia lebih baik darimu atau tidak tapi Umi yakin dia bukan apa-apa dibandingkan dirimu percayalah".
"I.. ikut tapi...".
Aisyah tampak ragu ragu tapi Umi Jubaedah sudah berpengalaman dalam hal membujuk orang selama ini supaya setuju dengan keinginannya dan dia yakin Hafiz memintanya datang ke Jakarta juga untuk melakukan ini.
"Syah....Hafiz bilang dan Umi yakin kamu tadi malam juga dengar kalau perempuan calon istri kedua Hafiz itu hanya perempuan biasa yang tidak akan merepotkanmu sebagai istri pertamanya.Jadi datanglah supaya Hafiz tidak merasa bersalah padamu.Suami kita menikah lagi jangan sampai membuat kita terpuruk tapi harus membuat kita kuat supaya perempuan yang baru datang dalam rumah tangga kita itu tidak berani macam macam pada kita".
"Umi juga begitu selama ini?",tanyanya yang diangguki oleh Umi Jubaedah.
"Ya... kalau tidak Umi tidak kan ada dihadapan mu seperti sekarang",balasnya dengan tersenyum kearah Aisyah untuk meyakinkan ucapannya barusan.
Aisyah terdiam sebentar lalu menatap ibu mertuanya dengan tatapan penuh keyakinan.
"Baiklah aku ikut kalian untuk bertemu dengan calon istri mas Hafiz nanti Umi",ucap nya penuh keyakinan seolah hendak pergi berperang.
Umi Jubaedah kembali menepuk-nepuk pundak Aisyah lembut.
"Bersiaplah sekarang berdandan secantik mungkin supaya dia tau posisi nya",perintah Umi Jubaedah yang diangguki oleh Aisyah.
__ADS_1
Autor Crazy Up hari ini jadi tolong tinggalkan jejak cinta kalian ya reader😁