
"Yun Bang Iman udah datang tu didepan," teriak Widia dari ruang depan pada Ayunda yang saat itu masih berada dikamar untuk bersiap.
"Suruh tunggu dulu Wid, gue lagi bersiap sebentar lagi selesai," balas Ayunda dari dalam kamar yang ditempatinya karena dia memang belum selesai untuk bersiap masih berkutat merapikan kerudung yang dikenakannya saat itu, juga dengan riasan diwajahnya.
Kalau dulu 5 tahun lalu Ayunda selalu berpenampilan polos apa adanya, tapi sekarang dia mulai perduli dengan penampilannya, bahkan dia sering menonton video tutorial bagaimana cara berdandan dan kadang pergi ke klinik kecantikan bersama Widia, untuk merawat diri mereka berdua.
Karena itu penampilannya kini, meski hanya bekerja sebagai penjual makanan di warung tapi tidak kalah seperti perempuan lain yang bekerja dikantor.
Dan khusus untuk hari Sabtu, dirinya dan Widia memang selalu menutup warung lebih cepat dari biasanya.
Sementara hari minggu mereka gunakan sebagai hari libur, sama seperti bengkel yang dikelola Bang Fahri juga Sabrin, yang menerapkan hal itu dari sejak masih Iman yang mengelolanya dulu dan dia meminta terus dilanjutkan seperti itu, pada mereka
sampai sekarang.
Karena itu kemarin waktu Iman mengajaknya untuk pergi keluar, Ayunda bisa menyetujuinya. Karena memang akhir pekan waktunya kosong, beda dengan Widia yang sibuk berkencan dengan pacar pacar nya yang selalu berganti setiap triWulan atau 6 bulan sekali.
Setelah memeriksa kembali penampilannya untuk kesekian kali dan akhirnya merasa sudah rapi, Ayunda baru berjalan keluar dari kamar yang ditempatinya menuju keluar.
"Mana Bang Imannya?" tanya perempuan cantik itu, pada Widia yang saat itu duduk diruang depan, sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Nggak mau masuk,mungkin dia takut gue goda kali," celetuk perempuan itu, tanpa mengalihkan tatapannya dari layar diponselnya.
"Ya iyalah dia takut lo goda, soalnya lo pakai baju minimalis kaya gitu sekarang," sindir Ayunda karena melihat Widia saat itu hanya mengenakan tanktop hitam dengan celana pendek, sangat pendek, membuat tubuhnya yang sedikit berisi dari Ayunda, terlihat sangat menggoda dimata pria yang menatapnya.
"Gerah Yun, lagian kalau dia pria baik baik dia nggak mungkin tergoda sama penampilan gue ini, kecuali dia memang pria celamitan," balas Perempuan itu tidak mau disalahkan tentang penampilannya.
Meski selama ini, Ayunda sudah berusaha memberitahunya supaya jangan terlalu memakai pakaian minimalis seperti itu waktu siang hari, karena meski mereka sama sama perempuan disini, tapi kadang Sabrin atau Bang Sukron juga Bang Fahri bisa datang kemari sewaktu waktu.
Tapi sampai detik ini Widia masih cuek dengan alasan, 'yang penting gue nggak telanjang dihadapan mereka'.
__ADS_1
"Terserah lo deh Wid,gue udah kasih tau lo."
Setelah mengatakan itu Ayunda berjalan keluar menemui Iman dan tidak lagi mendengarkan apa yang dikatakan Widia, sebagai sahutan perkataan terakhirnya barusan.
"Bang," panggil perempuan cantik itu pada Iman, yang saat itu sedang berdiri disamping mobil miliknya dan langsung menoleh begitu mendengar panggilan Ayunda.
"Eh..." lidah pria itu langsung kelu begitu melihat penampilan Ayunda saat itu.
Ayunda terlihat sangat cantik dengan atasan berbentuk kemeja berwarna soft dipadukannya dengan celana jean hitam dan kerudung hitam yang dia berikan pada perempuan itu kemarin membuat penampilan Ayunda terlihat sangat luar biasa.
Kecantikan alami dipadu sedikit polesan membuatnya terlihat sangat sempurna malam itu.
Membuat Iman hampir tidak bisa memalingkan wajahnya dari perempuan cantik itu.
"Kita pergi sekarang," ajak Ayunda yang dibalas anggukan oleh pria itu dengan membantu membukakan pintu mobil untuk perempuan cantik itu.
Mendengar pujian yang dikatakan oleh pria itu, wajah Ayunda menjadi merah malu meski terkabur oleh tutupan riasan perona pipi yang dipakainya.
"Makasih pujiannya,Bang," balasnya dengan tertunduk tidak berani menatap kearah Iman yang terlihat masih terus saja menatap kearahnya setelah pria itu masuk kedalam mobil.
"Itu kenyataan kok," balas pria tampan itu tanpa perduli kalau perkataannya barusan, membuat jantung Ayunda menjadi semakin tidak karuan.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Ayunda sengaja untuk mengalihkan perhatian pria itu dari penampilannya.
"Kita pergi makan malam dulu, baru setelah itu kita lanjutkan dengan jalan jalan, gimana," saran Iman yang diangguki oleh perempuan cantik itu.
"Ya itu juga boleh," balas Ayunda.
"Kamu ingin makan apa?" tanya pria itu berusaha menawarkan kepada perempuan cantik yang duduk disampingnya itu sekarang, meski sebenarnya dia sudah punya satu tempat makan yang ingin dikunjunginya bersama perempuan itu.
__ADS_1
Tapi dia tidak keberatan membatalkannya kalau perempuan disampingnya punya pilihan tempat makan lain malam ini.
"E...nggak ada yang khusus sih, karena setiap hari kan aku juga udah jualan makanan, jadi ya nggak pengen makan apa apa lagi," jawabnya jujur membuat Iman tersenyum dikulum mendengarnya.
"Ya udah kalau kaya gitu makan malam kita malam ini, pilih tempat yang menjual menu yang nggak kamu jual, gimana," tawar pria itu dengan menoleh kearah Ayunda yang tampak masih berpikir mendengar tawaran pria disampingnya.
"Bagaimana?" tanya pria itu lagi yang akhirnya dijawab anggukan oleh Ayunda.
"Ya terserah Abang aja. Emang makanannya apa sih?" tanyanya sedikit penasaran.
Karena dia bukan pecinta kuliner aneh seperti yang sering dilihatnya atau kadang dibeli oleh Widia yang memang selalu suka mencoba sesuatu yang baru sementara dia kalau itu aneh dia akan menolaknya meski jenis makanan itu sedang viral.
"Makanan biasa aja sih, cuma aku berniat mengajakmu ketempat yang bagus," terang pria itu dengan terus melajukan mobil yang dikendarainya membelah jalanan malam minggu yang cukup padat, karena banyaknya orang yang berniat menikmati akhir pekan seperti mereka, entah bersama pasangan atau keluarga.
Seperti yang terlihat didepan mobil mereka waktu sedang berhenti dilampu merah.
Terlihat sebuah kendaraan yang dikendarai oleh seorang pria berusia tidak jauh seperti Iman, dengan istri beserta dua orang anak dengan satu berada didepan dan satu masih dalam gendongan sang ibu.
Sepertinya mereka berniat untuk pergi jalan jalan menghabiskan waktu malam minggu seperti yang pasangan lain lakukan.
"Lucu ya anak kecil didepan itu, Yun" celetuk Iman tiba tiba dengan menunjuk balita berusia sekitar 2 tahun yang berada dalam gendongan sang ibu, yang saat itu terlihat sedang menatap kearah mereka meski sebenarnya bukan, mungkin.
"Abang suka anak anak?" tanya Ayunda yang dibalas anggukan oleh Iman.
"Iya, bagaimana denganmu?" tanyanya balik.
yang langsung membuat Ayunda terdiam, karena tiba tiba teringat apa yang dulu dikatakan pria disampingnya kalau berkaitan dengan masalah anak.
Tapi itu sudah berlalu selama 5 tahun dan sekarang usia Iman juga sudah tidak muda lagi, karena itu pandangannya soal memiliki keturunan juga pasti berubah, pikir Ayunda.
__ADS_1