
Iman menarik tangan Ayunda ingin mengajak sang istri keluar dari ruang perawatannya. Berniat menjelaskan pada perempuan itu ,siapa perempuan dan gadis kecil yang saat itu berada di ruangan rawatnya.
"Ayo kita keluar Yank," ajaknya yang ditolak oleh Ayunda dengan tidak bergeming dari tempatnya saat itu membuat Iman mengulang lagi ajakannya.
"Kujelaskan diluar aja, karena disini ada Kanza juga Aisyah sama Widia."
" Anggap aja aku nggak ada Bang Iman," celetuk Widia begitu namanya disebut, lalu tanpa disuruh memilih keluar dari ruang perawatan pria itu. Tidak ingin ikut campur masalah sang sahabat dan suaminya saat itu.
" Gue keluar Yun, kalian bicara aja," pamit Widia yang hanya dijawab lirikan oleh Ayunda.
Sementara itu Aisyah tetap diam ditempatnya , tidak ingin perduli. Meski saat itu Ayunda dan Iman sedang bersitegang, karena keberadaan dirinya dan putrinya.
" Yank ayok aku jelaskan semuanya diluar supaya kamu nggak salah paham lagi tentang hubunganku dan mereka," bujuk Iman lagi, tapi segera dijawab gelengan oleh Ayunda, yang sudah kesal dari tadi karena suaminya terus saja ingin mengajaknya keluar. Bukan malah menyuruh Perempuan dan anak kecil itu yang pergi dari sana, membuat Ayunda benar benar marah juga sakit hati.Apalagi waktu dirinya melihat kearah perempuan berkerudung hitam yang duduk manis disofa ruang rawat sang suami,yang sepertinya pernah dilihatnya tapi dirinya lupa. Perempuan itu memasang wajah sinis padanya, secara terang terangan. Membuat Ayunda semakin tidak ingin keluar dari ruangan itu.
Meski sebenarnya dia tau, tidak seharusnya dirinya dan sang suami sebagai dua orang dewasa ribut dihadapan Kanza yang masih kecil saat itu. Tapi selain mereka berdua disana juga ada ibu sang gadis kecil itu yang seharusnya paham, untuk keluar dari ruangan itu. Bersama sang anak seperti Widia tadi, bukan sebaliknya.
" Nggak! Kalau mau jelaskan, jelaskan aja disini sekarang. Ngapain harus keluar segala," tolak Ayunda ketus, tidak bergeming dari tempatnya.
"Yank, kamu tau kan disini ada Kanza yang masih dibawah umur, nggak seharusnya kita bersitegang seperti ini dihadapannya karena itu.."
"Diakan disini sama ibunya, kalau memang kalian nggak ada hubungan istimewa seharusnya dia membawa keluar putri kecilnya dari sini. Supaya kita berdua bisa bicara Bang, bukannya kita yang keluar dari sini.Itu membuat aku seolah olah pengganggu diantara kalian!"
__ADS_1
Jleb!
Sontak Iman tersadar dan seketika langsung menoleh kearah Aisyah yang hanya diam ditempatnya, pura pura tidak perduli dengan yang terjadi antara Iman dan Ayunda. Meski dia tau saat itu kedua pasangan itu sedang bersitegang karena keberadaan juga sang putri.
Melihat bagaimana sikap Aisyah saat itu Iman segera bicara pada perempuan itu dari tempatnya saat itu.
" Syah, bisa kamu bawa Kanza keluar dulu sekarang, karena aku dan istriku ingin bicara secara pribadi," pinta Iman.
Mendengar itu Aisyah yang tadi pura pura sibuk dengan ponsel ditangannya menoleh kearah pria itu juga Ayunda.
" Aku dan Kanza kesini karena khawatir waktu tau Khabar kamu terluka, tapi malah dianggap sebagai pengganggu oleh istri barumu itu.Kamu tega ya Man sama kami," ucap perempuan itu dingin.
Ayunda semakin meradang waktu mendengar apa yang dikatakan oleh Aisyah, karena seolah sikap kesal yang ditunjukannya sekarang ini salah.
" Dia bukan istri baruku Syah, tapi istriku sejak dulu sebelum aku hilang ingatan. Kami hanya baru menikah lagi sekitar sebulan yang lalu," terang Iman dengan suara dingin.
Aisyah terkejut dan reflek berdiri dari duduknya begitu mendengar apa yang diucapkan pria itu padanya.
" Istrimu dulu? Apa kau yakin? Bukannya kamu masih hilang ingatan sampai sekarang Man.Jangan jangan dia sengaja mengaku ngaku sebagai istrimu waktu kalian bertemu saat itu, supaya kamu menikahinya," tuduh Aisyah.
Ayunda yang mendengar apa yang dituduhkan Perempuan itu padanya berniat membalas ucapan perempuan itu tapi lagi lagi batal, karena Iman lebih dulu melakukannya dengan nada suara marah, meski tidak keras saat itu. Mungkin karena ada Kanza, gadis kecil putri perempuan bernama Aisyah itu disana.
__ADS_1
" Syah, tuduhan itu sangat keterlaluan dan aku tidak terima, meski dulu kamu yang sudah menolongku saat aku terluka 5tahun lalu. Tapi bukan berarti kamu berhak mengatakan hal buruk tentang Ayunda seperti itu."
"Kamu bilang aku menuduhnya Man? Itu tidak benar, aku hanya tidak ingin kamu tertipu begitu saja dengan perempuan yang baru kamu temui tidak lebih dari dua bulan itu saja," balas Aisyah semaki.
Marah karena, Iman membela Perempuan bernama Ayunda yang diingatnya dulu sebagai perempuan yang sudah menghancurkan rumah tangganya bersama hafiz, tapi ternyata sekarang menjadi istri Iman.
Bagaimana Aisyah tidak sakit hati waktu mendengar kenyataan itu. Hal yang sangat diinginkannya selama ini, tapi malah didapatkan oleh orang lain.
Iman terdengar menarik nafas cukup keras mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh mantan saudari iparnya itu tentang Ayunda, istrinya. Andai yang bicara seperti itu sekarang adalah laki laki atau paling tidak Hafiz saudara laki-lakinya, Iman merasa lebih gampang bersikap. Dia hanya perlu melayangkan pukulannya saja untuk membungkam mulutnya. Tapi yang mengatakan itu sekarang adalah Aisyah, ibu dari keponakan yang sangat disayanginya dan orang yang sudah banyak membantunya selama ini. Meski sejak dulu dia sudah menegaskan berkali kali kalau dirinya selalu menganggap perempuan itu sebagai saudaranya. Itu membuat Iman menahan rasa kesalnya pada perempuan itu sekarang.
"Ingatanku sudah kembali lagi sekarang Syah, karena itu aku bisa meyakinkanmu kalau dia ini benar benar istriku sejak dulu. Jadi jangan bicara seperti itu tentangnya, karena aku tidak suka."
"Ingatanmu sudah kembali?Apa kamu yakin Man? Jangan beralasan seperti itu supaya aku..."
"Syah!" Iman meninggikan nada suaranya sampai cukup membuat Kanza meringsek mendekat kearah Aisyah karena Iman memanggil keras ibunya.
"Umi," rengek Kanza yang membuat Iman memejamkan matanya merasa bersalah sudah berbicara sekeras itu dihadapan keponakannya.
" Maaf aku membentaknya barusan sampai membuat Kanza terkejut.Tapi itu juga karena kamu tidak mau membawa dia keluar saat aku ingin bicara secara pribadi dengan istriku," ucap Iman pelan.
" Kenapa aku dan Kanza yang harus keluar?! Kenapa bukan kalian saja!" tolak Aisyah ketus, dengan mendekap Kanza dalam pelukannya untuk menenangkan putrinya, yang terlihat ketakutan saat itu.
__ADS_1
" Baik kami akan bicara diluar, kalau kamu tidak mau membawa putrimu keluar dari ruangan ini," jawab Ayunda, yang dari tadi hanya mendengarkan perdebatan antara Iman dan perempuan bernama Aisyah, yang sekarang sudah diingatnya lagi siapa perempuan itu sebenarnya.
Dan setelah tau kalau itu adalah perempuan yang ditemuinya 5 tahun lalu, dihari sebelum dirinya kehilangan Iman.Istri dari saudara sang suami, yang berarti iparnya sekarang.Ayunda memutuskan mengajak Iman keluar dari ruangan itu, untuk bicara.