Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
78. Penegasan Iman.


__ADS_3

Deg!


Aisyah sedikit berdebar mendengar niat Iman barusan.


"Man..maksud kamu?," tanyanya dengan ekspresi berharap pemikirannya benar tentang maksud ucapan Iman barusan.


"E...itu ..Aku akan ikut menjaga keponakanku nanti jadi kalau dia sudah lahir jadi kamu nggak perlu cemas dia akan kekurangan kasih sayang sosok Ayah," terang Iman yang langsung membuat ekspresi Aisyah berubah muram lagi.


"Jadi ... begitu...Man?."


"Maaf Syah meski kamu sudah menolongku sampai seperti ini tapi aku nggak bisa memberi apa yang kamu inginkan," tegasnya lagi dengan suara lirih meski tau apa yang dikatakannya ini akan menyakiti perempuan disampingnya ini tapi dia tidak ingin memberi harapan yang tidak bisa dia kabulkan tidak lagi,pikirnya.


"Lalu....karena sekarang kamu sudah sembuh apa kamu akan kembali ke Indonesia dan meninggalkanku sendiri disini Man?,"tanya Asiyah dengan kepala tertunduk dan wajah muram yang dijawab gelengan oleh Iman.


"Aku berencana tinggal disini untuk sementara waktu bukankah tadi aku sudah berjanji akan menjagamu selama hamil sampai anakmu lahir atau... entahlah selanjutnya akan aku pikirkan karena aku juga masih harus terus kontrol kedokter karena meski dokter bilang aku sudah sembuh tapi kamu tau bukan sebagian ingatanku belum pulih dan....aku merasa nggak nyaman dengan itu Syah," terangnya dengan tersenyum kearah Aisyah berharap perasaan perempuan itu membaik sekarang setelah mendengar rencananya itu.


" Apa hanya itu,kamu nggak berniat melakukan sesuatu yang lain setelahnya," tanya Aisyah penasaran.


Iman menyandarkan tubuhnya disandarkan kursi dengan menatap orang yang berlalu lalang dikoridor Rumah sakit saat itu sebelum menjawab pertanyaan Aisyah.


"Aku berencana mencari pekerjaan disini dalam waktu dekat ini ... lalu kalau bisa aku berencana melanjutkan pendidikan ku yang dulu sempat aku tinggalkan,"jawab Iman lirih.


"Maksudmu kamu berniat kuliah lagi Man?!,"Aisyah merasa tidak percaya dengan rencana Iman itu tapi melihat Iman mengangguk Aisyah langsung terdiam.


"Meski sudah sangat terlambat untuk memulai nya lagi tapi kurasa ini kesempatan ku untuk memperbaiki hidupku yang berantakan selama ini."


"Aku nggak percaya kamu berpikir untuk melakukan itu Man,"gumam Aisyah lirih.


"Supaya saat nanti anakmu lahir aku bisa jadi paman yang keren buatnya,"goda Iman dengan tertawa membuat Aisyah langsung mencubit Iman kesal dengan candaannya yang nggak lucu tapi cukup bisa membuatnya tidak berkecil hati lagi.

__ADS_1


"Ayo kita pulang sekarang Bumil,"goda Iman dengan berdiri dari duduknya yang terpaksa diikuti oleh Aisyah dengan ikut bangkit lalu berjalan beriringan dengan pria itu.


Meski sekarang dia belum bisa membuat Iman menyukainya lagi tapi dia akan terus berusaha sepanjang waktu kebersamaan mereka nantinya yang tidak akan pernah disia siakannya sedikitpun karena dia berpikir ini adalah kesempatan yang diberikan Allah padanya untuk bisa bersama pria disampingnya ini kedepannya.


***


Dikota Jakarta**


"Kita kerja disini kerja disini Wid?!,"Tanya Ayunda dengan menatap bangunan warteg sederhana yang letaknya tidak jauh dari sebuah kampus swasta di Jakarta.


"Iya...mulai hari ini kita kerja disini.Kenapa Lo nggak mau Yun?,"tanya Widia yang langsung dijawab gelengan oleh Ayunda.


"Nggak masalah sih yang penting kerja. Siapa nama pemilik warungnya ini Wid?,"tanya Ayunda penasaran dengan berjalan mendekat kewarung itu bersama Widia.


"Dia biasa dipanggil Mbak Siti sama semua orang Yun, dia janda satu anak tapi masih cantik dan bohay...,"bisik Widia ditelinga Ayunda yang membuat Ayunda reflek menghentikan langkahnya lalu menatap kearah Widia karena nama itu dulu pernah didengarnya dari Iman.


"Siapa?!Mbak Siti?!,"tanyanya dengan suara cukup keras membuat Widia menjawab dengan mengangguk heran mendengar nada suara Ayunda yang keras melengking saat itu.


"Bengkel tambal ban? Itu kayaknya tapi waktu gue kesini kemarin nggak buka Yun, emang kenapa?,"tanyanya bingung.


Bukannya menjawab pertanyaan Widia Ayunda malah berlari menuju tempat yang dimaksud perempuan itu dengan perasaan tidak karuan dan langsung berhenti begitu sampai didepan bangunan sederhana yang terbuat dari kayu tapi terlihat cukup kokoh itu dan seperti kata Widia tadi.


Ayunda berdiri didepan pintu kayu yang terkunci rantai dan gembok itu.Ingin rasanya dia mendobrak pintu itu dan berharap saat dia membuka nya Iman ada didalam sana menunggunya.


"Yun...Lo kenapa larinya kenceng banget emang apa sih yang lagi Lo cari dibengkel tambal ban?!,"tanya Widia dengan nafas ngos ngosan mengikuti lari Ayunda barusan.


"Bang Iman Wid..,"Gumam Ayunda dengan terisak membuat Widia bingung.


"Dia....dimana?."

__ADS_1


Widia mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat itu begitu mendengar Ayunda menyebut nama Iman tapi sama sekali tidak melihat sosok pria itu yang memang mustahil ada menurutnya kalau memang muncul itu malah aneh dan menakutkan pikir Widia dan tanpa sadar menyentuh tengkuknya karena memikirkan hal itu.


Apalagi disana terlihat masih sunyi karena hari masih cukup pagi belum banyak warung dan toko yang buka ditambah Ayunda yang terisak bikin bulu kuduknya menjadi merinding dan tiba tiba....


"Mbak cantik...."


Widia terjengkit tapi tidak berani menoleh saat mendengar ada yang memanggilnya dan menyentuh bahunya dari belakang.


"Yun..Setan Yun..,"bisik Widia tanpa berani menoleh membuat Ayunda menyapu airmatanya lalu menoleh kearah Widia dan terlihat terkejut saat melihat kearah Widia membuat Widia yang melihat ekspresi Ayunda saat itu menjadi semakin ketakutan.


"Yun...a..ada setan kan gue bisa merasakannya, di .disamping gue iyakan," bisiknya lirih dengan berusaha menggeser tubuhnya menjauh dari tempatnya semula kedekat Ayunda yang masih tetap diam tidak mengatakan apapun.


"Yun...,"ucap Widia dengan meraih tangan Ayunda lalu menutup matanya rapat.


"Setan kepala Lo Wid, orang cuma anak kecil dasar penakut!," gerutu Ayunda kesal dengan menunjuk kearah orang yang tadi menegur mereka.


Sontak Widia menoleh kearah yang ditunjuk Ayunda dan begitu melihat seorang pemuda tanggung yang tadi dipikirnya setan yang muncul di siang bolong karena Ayunda tadi menangis dengan menyebut nama Iman membuat Widia langsung kesal pada sipemuda yang sedang meringis kearah mereka dengan wajah tanpa dosa.


Widia berjalan mendekat kearah pemuda itu lalu tanpa mengatakan apa apa langsung menjitak kepala pemuda itu membuat sipemuda terkejut lalu berteriak keras.


"Aaauw mbak;Ngapain jitak kepalaku sembarangan!,"hardiknya kesal menatap Widia.


"Eh anak kecil ngapain Lo disini!Bikin orang takut aja!,"bentak Widia sewot.


"Mbak berdua yang Ngapain didepan pintu bengkel aku?!,"balas Pemuda itu tak kalah sewot pada Widia.


Ayunda yang mendengar itu langsung mendekat lalu menyentuh bahu pemuda itu.


"Ini bengkel?,"tanyanya yang diangguki oleh sipemuda dengan tatapan semakin bingung.

__ADS_1


"Ada bang Iman nggak disini?!."


__ADS_2