
"Cie...bos hari ini seneng banget kayaknya.Habis dapat bonus ya bos".
Sabrin menggoda Iman yang begitu datang aura bahagianya sangat terpancar.
Pluk!
"Anak kecil nggak usah banyak tanya kerja yang bener".
"Issh...Bos masa kepala berhargaku ditimpuk!",gerutu Sabrin dengan menggerutu karena iman menimpuk kepalanya dengan tas kecil yang dibawanya.
"Makanya jangan bawel ingat juga buat rajin sekolah dari pada ngurusin urusan orang tua.Awas kalau nggak Lo!",hardik Iman dengan berjalan masuk kedalam bengkel.
Siapa yang nggak serius sekolahnya kemarin aja aku dipuji sama guru disekolahku karena katanya nilai nilaiku akhir akhir ini naik drastis!",teriaknya keras.
"Baguslah awas aja kalau itu cuma akal akalan Lo supaya terus dapat tunjangan gue gue geblak kepala Lo sampai otak Lo keluar!",teriak balik Iman bercanda juga serius karena dia memang sangat mengharapkan Sabrin yang sekarang duduk dikelas 2 sebuah SMK swasta yang masuk siang hari itu bisa menyelesaikannya sekolahnya supaya suatu saat dia bisa mencari pekerjaan yang lebih baik lagi dari yang sekarang agar berhenti pikir untuk menjadi preman seperti keinginan anak itu diawal saat bertemu dengan Iman dijalan, yang dipikirnya dengan menjadi preman bisa cepat menghasilkan uang dan tidak beresiko.
"Tapi kalau nilaiku terus naik sampai aku lulus nanti Bos harus kasih aku hadiah ya!".
"Lo baru kelas 2 masih perlu separo perjalanan lagi sebelum Lo lulus sekolah masa ngomong minta hadiahnya sekarang".
"Ya...supaya Bos siap siap dari sekarang duitnya...",celetuknya dengan suara lirih dan wajah tertunduk saat mengatakannya membuat Iman yang sedang sibuk dengan pekerjaannya langsung mendongak menatap kearah Sabrin.
"Emang Lo mau minta apa sampai harus bilang sekarang dan gue kudu nabung dulu".
"Itu...".
Sabrin tampak ragu ragu untuk mengatakannya membuat Iman semakin penasaran.
"Bilang aja kalau gue bisa gue kasih kalau nggak ya jangan berharap, kemampuan gue kan juga terbatas".
Mendengar itu Sabrin berdiri dan berjalan mendekat kearah Iman yang sedang duduk dibalik meja kerja daruratnya.
"Bos kalau sudah lulus sekolah aku mau lanjut kuliah bolehkan",ucapnya lirih bermaksud agar hanya Iman saja yang mendengar ucapannya saat itu.
"Boleh, itu bagus gue dukung Lo,asal Lo serius sekolah dan nilai Lo bagus".
"Tapi...".
Mendengar jawaban Iman Sabrin terlihat senang tapi tak lama ekspresinya berubah muram membuat Iman heran.
"Kenapa?".
__ADS_1
"Bos kuliah kan uangnya banyak jadi...".
"Kerja yang bener supaya Lo bisa nabung nanti kalau gue punya rejeki gue tambahin biayanya asal Lo bener bener memang mau kuliah".
"Serius bos!".
Iman mengangguk membuat Sabrin langsung sangat senang.
"Makasih Bos.Bos adalah dewa penolong ku!".
Sabrin menubruk Iman dan langsung memeluknya erat membuat Iman terkejut dengan reaksi pemuda tanggung itu.
"Apaan Brin lepas malu maluin udah besar masih peluk peluk kaya gini!".
Iman menyentak kedua lengan Sabrin agar terlepas dari tubuhnya saat itu.
"Biar aja Bos aku peluk Bos erat siapa tau besok besok nggak bisa lagi".
"Ngomong apa sih Lo.Besok gue masih ada dibengkel bahkan sampai Lo lulus kuliah dan kerja gue juga masih disini jadi jangan ngomong sembarangan!".
"Siapa yang mau pergi bos?",tanya Bang Fahri yang baru datang dan heran melihat Sabrin sedang memeluk Iman erat.Hal yang biasa sebenarnya karena Sabrin memang tipe pemuda ceria tapi melihat suasana nya saat itu entah kenapa Bang Fahri merasa sedikit aneh.
"Ini siSabrin cuma mau minta uang buat tambahan biaya kuliahnya nanti sampai kaya gini",celetuk Iman dengan mendorong tubuh Sabrin menjauh yang akhirnya berhasil.
Bang Fahri menatap kearah pemuda tanggung itu yang mengangguk dengan wajah cerah.
"Iya Bang dan bos setuju buat membayari biayanya",jawabnya dengan ekspresi bangga yang tidak ditutupi.
"Gue bilang nambahin bukan membiayai kuliah Lo sepenuhnya.Lo pikir gue sultan!".
"Tapikan uang bengkel banyak Bos dapatnya!".
Mendengar itu Iman mendekat lagi keSabrin dan menoyor kepala pemuda tanggung itu.
"Uang bengkel memang lumayan tapi kalau gue ngasih Lo biaya kuliah 100 gimana nasib bini gue calon anak gue nanti,belum lagi gajih Bang Fahri yang semakin anaknya besar harus gue pikir buat dinaikin supaya anak sama bininya bisa makan dan sekolah.Lo nggak boleh tamak mentang mentang gue perhatian sama Lo selama ini karena gue juga punya kehidupan yang lain dan niat gue buat bantu Lo supaya Lo bisa mandiri paham lo Brin".
Sabrin mengangguk"Iya bos maaf",balas Sabrin dengan wajah tertunduk.
"Ya udah sana mulai kerja!Gue juga harus kerja karena bulan depan gue mau cuti",celetuk Iman yang membuat Bang Fahri dan Sabrin kembali menoleh kearah Iman.
"Cuti?Maksudnya Bos?".
__ADS_1
Mereka mengatakan itu secara berbarengan membuat Iman membatalkan niatnya yang akan mengecek pembukuan bengkel.
"Oh! gue kasih tau sekarang aja.Bulan depan gue mau nikah".
Mendengar itu Sabrin dan Bang Fahri kembali saling pandang heran.
"Nikah?Bukannya bos bilang udah ya?Apa maksudnya ini mau nikah sama yang lain lagi?".
Iman menarik nafas keras mendengar itu lalu duduk dikursi besi tua yang ada didekatnya dan menyuruh mereka berdua juga untuk duduk.
"Gue emang udah nikah hampir 2 bulan yang lalu tapi itu cuma secara siri.Bang Fahri pasti tau bukan gimana nikah siri itu?".
Bang Fahri mengangguk.
"Jadi rencananya bulan depan aku mau menikahi Ayunda secara resmi supaya nggak ada masalah dikemudian hari".
"Apa istri Bos lagi hamil sekarang?",celetuk Bang Fahri yang membuat Sabrin menoleh kearah Bang Fahri.
"Hamil?Artinya Bos bakal jadi Bapak?Wah keren siBos tokcer".
"Plak!".
Iman mengeplak kepala Sabrin mendengar apa yang dikatakan pemuda tanggung itu yang membuat ekspresi Sabrin langsung cemberut kesal.
"Syukurin",ejek Bang Fahri pada Sabrin.
"Sudah!.Sebenarnya belum Bang tapi jujur aku mau jaga jaga supaya nanti kalau dia hamil dan melahirkan nggak repot kalau ada masalah yang berkaitan dengan status mereka".
"Bos bener, kasihan sih kalau sampai nanti istri bos hamil lalu melahirkan tapi kalian belum punya surat nikah.Orang yang nggak tau bisa ngira dia perempuan nggak bener".
"Ya..jadi bisa nggak aku minta tolong Bang Fahri buat menguruskan berkasnya soalnya siang ini aku ada urusan dimarkas".
"Nggak masalah sih kalau ngurus kaya gitu".
"Berarti kita bakal kondangan tempat Bos dong bulan depan",celetuk Fahri dengan ekspresi senang.
"Iya, jadi nabung mulai sekarang buat ngasih gua kado".
"Kok!".
Sabrin mengerjapkan matanya mendengar ucapan Iman.
__ADS_1
"Lo juga harus ngasih kado Brin jangan cuma bisanya minta terus sama Bos",tambah Bang Fahri yang membuat Sabrin kalah telak dikerjain mereka.