
" Pak Sulaiman tunggu!" Iman menghentikan langkahnya yang berniat bergegas keluar dari Bandara Juanda Surabaya lalu menoleh kearah Dosen Rianti yang berjalan dengan tergesa gesa menghampirinya dengan menarik koper miliknya.
"Apa Bapak masih marah sama saya karena masalah kemarin? Bukannya saya sudah minta maaf pada Bapak soal masalah itu. Selain itu pergi Workshop bersama ini juga bukan keinginan saya melainkan perintah dari Kampus yang menyuruh kita berdua ikut workshop bersama, tapi saya merasa seolah saya yang...."
"Bu Rianti mobil yang akan mengantar keHotel tempat kita menginap sudah menunggu didepan sejak 1jam yang lalu.Jadi sebaiknya kita keluar sekarang kasihan supirnya kalau harus menunggu lebih lama lagi."
Setelah mengatakan itu Iman kembali meneruskan langkahnya berjalan menuju lobi Bandara meninggalkan Dosen Rianti yang memaki kesal karena tidak dihiraukan oleh Iman.
"Dasar brengsek!" makinya dengan wajah kesal karena Iman sama sekali tidak menanggapinya sama sekali, padahal dia sengaja ikut workshop ini menggantikan Dosen lain supaya bisa pergi bersama pria yang diidamkannya itu dengan niat ingin memperbaiki hubungan mereka.
Meski kesal pada sikap tidak perduli Iman padanya Dosen Rianti tetap berjalan mengikuti Iman yang bahkan tidak mau berjalan bersamanya sama sekali saat itu membuatnya benar benar sangat kesal dan marah dengan sikap pria itu yang menurutnya sangat keterlaluan hanya karena dia sudah membentak seorang pelayan warung kemarin.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri yang merasa kesal dengan sikap Iman padanya Dosen Rianti sampai terkejut saat ada yang menyapanya.
"Bu Rianti ya?" sapa orang itu yang diyakininya pasti supir mobil yang akan membawanya keHotel tempat mereka akan menginap selama 1 Minggu ini.
"Iya," jawabnya dengan mengerutkan kening heran sambil mencari keberadaan Iman saat itu yang tidak terlihat lagi.
"Saya bantu membawa barangnya ke mobil," saran pria itu yang diangguki oleh Dosen Rianti dengan memberikan koper dan tas Ransel yang dibawanya kepada pria itu.
"Teman saya tadi sudah naik lebih dulu ya pak?," tanyanya pada sisupir.
"Oh pak Sulaiman ya maksud ibu?"
Dosen Rianti mengangguk "Iya pak."
__ADS_1
"Beliau bilang mau pulang sama keluarganya."
Dosen Rianti langsung menoleh ke sisupir begitu mendengar jawaban pria itu.
"Keluarganya maksudnya?," tanyanya takut sudah salah dengar barusan karena tidak tau Sola itu.
"Tadi pak Sulaiman dijemput oleh anak dan istri beliau Bu." Terang di supir yang membuat Dosen Rianti semakin terkejut.
"Anak dan istrinya?" tanyanya yang diangguki oleh pria itu dan membuat Dosen Rianti bergegas berjalan keluar mencari keberadaan Iman yang katanya dijemput oleh istri dan anaknya barusan.
Tapi begitu sampai diparkiran mobil Dosen Rianti terhenyak saat melihat Iman sedang menggendong seorang Gadis kecil yang tertawa bahagia dalam gendongannya saat itu dan yang lebih membuatnya sakit hati dan kecewa adalah perempuan dengan kerudung warna pastel yang berjalan disamping pria itu. dan dilihat dari gestur kedekatan mereka Dosen Rianti bisa memastikan kalau mereka itu sebuah keluarga.
"Bu Rianti silahkan naik kemobil."
perkataan pria yang menjemputnya membuat Dosen Rianti tersadar lalu dengan wajah lesu serta pikiran kalut dia beranjak dari tempat itu menuju mobil yang menjemputnya.
***
Sementara itu yang sebenarnya terjadi pada Iman***
"Aby!"
Mendengar ada yang memanggilnya Iman langsung menoleh kesumber suara yang berasal dari gadis kecil yang sedang berlari menghampirinya dengan wajah cerah.
"Kanza..." Jawab Iman dengan menunduk tubuhnya dan sengaja merentangkan tangannya kearah gadis kecil yang merupakan putri Aisyah dan Hafiz.
__ADS_1
"Kanza kangen," ucap gadis kecil itu dengan naik kedalam gendongan Iman dan langsung memeluk tubuh Iman erat yang dibalas Iman dengan cara yang sama.
"Aby juga,tapi kok Kanza bisa tau hari ini Aby kesini?" tanyanya dengan wajah bahagia yang diperlihatkannya pada gadis itu.
"Umi yang bilang sama Kanza katanya hari ini Aby mau datang," terangnya.
Mendengar itu Iman mengalihkan tatapannya kearah perempuan berkerudung pastel yang sedang berjalan mendekat kearahnya saat itu.
"Dia selalu nanyain kamu kapan kamu kemari Man," celetuk Aisyah dengan tersenyum cerah kearah Iman.
"Lalu bagaimana kamu tau kalau aku mau ke Surabaya Syah?" tanya Iman heran karena dia tidak merasa menelpon perempuan itu untuk mengabarkan kepergiannya kesana karena tidak ingin lagi membuat Aisyah mengharapkan dirinya seperti selama ini yang dilakukan perempuan itu meski Iman selalu menegaskan kalau dia hanya menganggap Aisyah hanya teman biasa meski untuk masalah Kanza dia tidak bisa mengabaikannya karena bagaimanapun gadis kecil itu adalah keponakannya yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri selama ini.
"Oh masalah itu.Sebenarnya karena Kanza selalu ribut ingin bertemu dirimu karena setelah pulang dari Singapura kamu memilih langsung tinggal di Jakarta tanpa menemui dia dulu, jadi kemarin aku iseng menghubungi Bagus untuk ngobrol sekalian menanyakan bagaimana kamu disana."
"Bagus, siapa dia?" tanya Iman dengan dahi berkerut karena tidak tau kalau Aisyah juga punya teman diKampus tempatnya bekerja.
"Dia kepala Administrasi disana kamu kenalkan?" tanya Aisyah yang dibalas Kedikan bahu oleh Iman.
"Aku baru 1 bulan kerja disana jadi aku belum kenal semua orang Syah," terangnya.
"Oh aku pikir kamu kenal karena dia kenal dirimu dan banyak cerita tentangmu yang katanya kamu langsung jadi idola disana begitu datang."
Iman tersenyum tipis mendengarnya "Aku bahkan nggak tau masalah itu," balasnya dengan ekspresi tidak perduli.
"Intinya dia mengatakan padaku kalau hari ini kamu ada workshop kesini.Begitu mendengarnya aku langsung memberitau Kanza lalu dia ribut ingin segera bertemu denganmu Man karena itu setelah menanyakan kapan pesawatmu berangkat dari Jakarta pada Bagus aku memutuskan mengajak Kanza menjemputmu keBandara kamu nggak keberatan bukan?" lagi lagi Iman menanggapinya dengan tersenyum tipis pada Aisyah.
__ADS_1
dengan berjalan mengikuti perempuan itu menuju Area parkir dimana mobil Aisyah berada setelah mengatakan pada supir yang menjemputnya kalau dia akan keHotel bersama keluarganya tadi. Meski enggan tapi akan aneh rasanya kalau dia sampai menolak naik mobil perempuan itu karena ada Kanza ikut dan dia tidak ingin gadis kecil itu merasa kecewa.
Rencana awal Iman saat dia tidak bisa membatalkan perintah pergi workshop ke Surabaya kemarin dia berniat untuk menemui Kanza sendiri disekolah lalu mengajak gadis kecil itu jalan jalan bersamanya nanti sebelum dia kembali ke Jakarta, tapi karena sekarang Aisyah menjemputnya dengan terpaksa dia ikut bersama perempuan itu yang benar benar berusaha dihindarinya.