
"Makasih ya Bang udah ngantar sampai rumah," ucap Ayunda begitu Iman menghentikan mobil miliknya didepan rumah kontrakan yang ditempatinya bersama Widia selama ini.
Iman menatap kearah rumah sederhana yang ada didepan mereka.
Meski tidak mewah, tapi rumah itu terlihat cukup nyaman, yang berarti hidup perempuan cantik yang pernah dinikahinya dulu itu tidak begitu menderita, membuat pria itu tanpa sadar menarik nafas lega mengetahui kenyataan itu.
"Iya, turunlah," perintah Iman dengan tersenyum lembut kearah Ayunda, yang dibalas perempuan cantik itu dengan anggukan, lalu membuka pintu mobil disisinya berniat turun tapi sebelum da turun Iman mencegahnya.
"Tunggu Yun," Ayunda langsung menahan kakinya yang sudah hampir turun ketanah, begitu mendengar perkataan Iman, lalu menoleh kearah pria itu.
"Ada apa Bang?" tanyanya.
"Besok sore mau pergi keluar bersamaku," ajak Iman yang membuat perempuan cantik itu terdiam memandang kearah pria disampingnya.
"Besok hari sabtu, kalau dirimu mau, ayo kita jalan berdua. Ada banyak hal yang ingin kudengar dan juga kuceritakan padamu, Yun," jelas pria itu.
"Kemana?" tanya Ayunda dengan wajah cengo, karena selama bertahun tahun dia tidak pernah pergi keluar hanya berdua bersama Pria meski itu pria yang sudah dikenalnya dan sekarang tiba tiba Iman mengajaknya pergi, yang bisa dinamakan itu sebagai ajakan kencan, membuat dia sedikit terkejut menerima ajakan pria itu.
"Entahlah, aku juga nggak tau, tapi kalau ada tempat yang ingin kamu datangi katakan saja nanti aku ajak kamu kesana Yun", terang Iman yang dibalas gelengan oleh Ayunda.
"Nggak ada sih, karena selama ini aku nggak pernah pergi keluar kalau bukan untuk urusan penting," terang Ayunda jujur, membuat Iman terkejut mendengar penjelasan perempuan cantik itu sekaligus lega, karena ternyata perempuan disampingnya itu bukan hanya wajahnya saja yang cantik, tapi dia juga punya kepribadian yang baik.
Jujur dia merasa sangat beruntung karena perempuan itu adalah istrinya, meski dilupakannya.
Tapi setelah tau kalau dia punya istri seperti Ayuda, Iman bertekad andai tidak bisa mengingat lagi kenangannya bersama perempuan cantik itu, dia harus bisa membuat perempuan itu yakin mau menikah lagi dengan dirinya, secepatnya.
"Kalau sekarang nggak ada, kamu bisa memikirkannya sampai besok sore, Yun,'' bujuk Iman supaya perempuan cantik itu tidak menolak ajakannya besok.
__ADS_1
"Baiklah akan aku pikirkan atau aku akan tanya sama Widia dimana tempat bagus disini buat jalan jalan," balasnya tidak ingin membuat Iman merasa kecewa karena pria itu berpikir dia akan menolak ajakannya besok.
"Itu juga bisa,siapa tau Widia punya rekomendasi tempat bagus disini kalau dirimu nggak tau," Ayunda mengangguk.
"Iya baiklah, sekarang aku mau masuk dulu ya Bang, Assalamualaikum," pamitnya dengan berjalan turun dari mobil Iman.
"Waalaikumsalam, sampai jumpa besok ya Yun," balas Iman dengan melambai kearah Ayunda, sebelum melajukan mobilnya meninggalkan depan rumah perempuan cantik itu, yang masih terus saja berdiri ditempatnya sampai mobil Iman menghilang diarah belokan jalan.
Setelah mobil Iman tidak terlihat lagi barulah Ayunda berjalan masuk kedalam rumah yang ditempatinya menggunakan anak kunci miliknya.
Sampai didalam dia langsung masuk kekamar yang digunakannya dan menghempaskan tubuh keranjang yang ada didalam kamar itu.
Dia berencana mengistirahatkan tubuhnya barang sebentar, lalu setelah itu berniat untuk membersihkan dirinya dikamar mandi.
Tapi baru saja Ayunda ingin memejamkan matanya tiba tiba ponselnya berdering.Dengan malas diambilnya benda pipih yang berada didalam tas tangan yang dibawanya tadi lalu tanpa melihat siapa yang menghubunginya Ayunda langsung mengangkat panggilan itu.
"Yank."
Sontak perempuan itu terloncat dari posisinya, yang saat itu sedang rebahan nyaman diatas ranjang miliknya, begitu mendengar panggilan Iman dari seberang telpon.
Ingatan kedekatan, antara dirinya dan pria itu seketika terbayang dipikirannya.
Dengan nada suara gugup, karena berpikir kalau pria diseberang telpon itu sudah ingat lagi, dia menjawab panggilan mesra dan lembut yang baru saja dikatakan Iman, untuknya.
"Aabang...Ada apa?" tanyanya dengan dada berdebar tidak menentu.
"Nggak ada Yun, aku hanya merasa kangen aja karena harus berpisah denganmu," jawab pria itu membuat Ayunda tanpa sadar mendengus mendengar jawaban Iman, karena tadi sebutan mesra pria itu dari seberang telpon, sudah sempat melambungkan imajinasinya, kalau Iman sudah bisa mengingat masalalu bersamanya, tapi ternyata, bukan.
__ADS_1
"Tapi besokkan kita bakalan ketemu lagi.Ini belum lebih 2 jam kita berpisah, masa Abang sudah kangen sih.Ada ada aja," gerutu perempuan itu, sedikit kesal.
"Itu benar, tapi aku merasa sekarang sudah sangat lama, rasanya aku ingin langsung memutar waktu menjadi Bedok sore supaya bisa bertemu denganmu," balas pria itu yang membuat Ayunda terdiam mendengarnya.
Melihat perempuan diseberang telpon terdiam Iman kembali bicara.
"Kamu pasti berpikir aku konyol dan kekanak kanakan kan.Tapi itulah yang kurasakan padamu, bisa nggak Yun kita menikah lagi secepatnya?" tanya pria itu tiba tiba membuat Ayunda semakin tidak tau bagaimana harus menjawabnya, karena ini belum genap 24 jam pria itu tau hubungan mereka dulu dan entah sudah berapa kali, dia mengajak Ayunda supaya setuju menikah dengannya lagi.
Ingin kesal, marah juga berpikir kalau pria itu sudah tidak waras karena ucapannya yang selalu saja berubah setiap menitnya tapi Ayunda tidak bisa.
Karena kalau boleh jujur, berpisah meski besok akan bertemu lagi dengan pria itu juga sulit dirasakan Ayunda.
Kalau tidak mengingat tentang akal sehatnya, tadi waktu Iman mengantarnya pulang, Ayunda pasti sudah menyuruh pria itu masuk kedalam rumah yang ditempatinya.
Untung saja pikiran warasnya masih berfungsi saat itu, karena kalau sampai dia menyuruh pria itu masuk kedalam rumah.
Dia yakin dirinya tidak akan bisa terus menahan diri, karena pria yang selama hampir 5 tahun ini hanya bisa diimpikannya, sekarang jelas jelas bisa disentuhnya, meski ingatan pria itu belum kembali lagi.
Ayunda masih tidak menjawab pertanyaan pria itu, yang juga hanya diam diseberang telpon saat itu, seolah sedang menunggu Ayunda bicara.
Saat itu, Ayunda kembali terpikir tentang bagaimana hubungan mereka dulu dan kenapa pria itu sampai mengalami hal itu.Terutama dia kembali teringat, pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan pria itu, sebelum Iman menghilang hari itu.
Semua hal itu masih sangat mengganjal di hati Ayunda.
Sebenarnya, dia ingin menceritakannya tentang semua hal yang dulu terjadi pada mereka kepada Iman.
Ayunda berharap kalau dia melakukan itu ingatan Iman bisa perlahan pulih dan hubungan mereka juga bisa lebih dekat.
__ADS_1
Tapi, mendengar apa yang dikatakan Iman barusan padanya, Ayunda tidak yakin dia akan bisa bertahan terus untuk tidak menyetujui keinginan pria itu, yang terdengar sangat tidak sabar ingin kembali bersama dirinya, dengan menikahinya lagi.