
"Yun Lo yakin mau balik kekampung?."
Widia menatap Ayunda dengan tatapan sedih saat mengantar nya keterminal Bis sore itu.
"Iya...Gue yakin Wid,makasih udah ngantar gue sampai sini ya,"Ayunda tersenyum sendu pada Widia lalu menjabat tangan perempuan yang sudah menjadi temannya sejak dia mulai bekerja di Ibu kota lebih dari setahun yang lalu dulu.
"Lo nggak mau berusaha buat nyari Suami Lo dengan menanyakan kekantor polisi atau kerumah sakit dulu? Siapa tau aja mereka tau keberadaan suami Lo Yun kan Khabar meninggalnya belum ada jadi pasti dia masih hidup dan hanya dirawat aja sekarang."
Ayunda menggelengkan kepalanya pada Widia.
"Gue nggak bisa Wid masalah hilangnya bang Iman bukan masalah biasa.Meski berat tapi kali ini gue mau menuruti apa yang Bang Sukron bilang ke gue buat balik dulu kekampung lalu setelah Susana aman baru gue balik lagi kesini,"terang Ayunda dengan wajah semakin muram.
"Tapi Yun 3 bulan itu lama dalam 3 bulan bisa banyak hal terjadi dan gue sedikit heran Lo kok percaya gitu aja sama omongan Bapak gembel itu,"gerutu Widia kesal saat ingat dengan pria bernama Sukron yang mengaku sebagai teman Iman tadi.
"Wid...meski gue nggak percaya sama dia gue juga nggak bisa apa apa.Gue seolah buta sekarang tentang masalah hilangnya Bang Iman dan hanya Sukron satu satunya orang yang memberikan gue sedikit gambaran jelas kenapa Bang Iman nggak balik kerumah selama beberapa hari ini," terang Ayunda mencoba membuat Widia mengerti kenapa dia mau menuruti keinginan Sukron padahal mereka baru pertama kali bertemu tapi Ayunda yakin pria bernama Sukron itu tidak mungkin langsung mendatanginya begitu saja kalau memang dia tidak pernah mendengar tentang nya ataupun melihatnya dan Sukron juga tidak memerintahkannya pergi ketempat yang aneh aneh hanya menyuruhnya kembali kekampungnya tempat yang sudah dikenalnya jadi meski dia berbohong Ayunda tetap tidak merasa pria itu punya keuntungan dengan kepergiannya kali ini.
"Baiklah....terserah Lo aja.Tapi Lo janjikan 3 bulan lagi Lo balik kesini?."
__ADS_1
Lagi lagi Ayunda menggeleng "Semoga saja, meski balik sebenarnya gue juga bingung mau kerja apa karena sekarang gue kan sudah berhenti tiba tiba begini pihak Mall pasti nggak mau nerima gue lagi nanti jadi sebenarnya gue bingung Wid kalau nanti harus balik kesini tanpa tujuan."
Widia menggenggam tangan Ayunda erat "Jangan bingung ada gue yang bantu.Nanti gue bantu Lo cari pekerjaan baru asal lo mau balik kesini .Bahkan kalau sudah ada pekerjaan lain buat Lo,sebelum 3 bulan Lo harus balik kesini kita kerja bareng bareng lagi kaya dulu lalu ayo kita ngontrak bareng sampai suami Lo balik nanti jadi Lo nggak akan kesepian dan merasa sendiri disini."
Ayunda mengangguk mendengar semua yang dikatakan Widia dengan penuh semangat saat itu.
"Iya.Sekarang gue pergi dulu sampai jumpa lagi nanti ya Wid," Ayunda lalu masuk kedalam Bis yang akan dinaikinya dan melambai kepada Widia yang masih saja berdiri ditempatnya semula sampai Bis yang dinaiki Ayunda perlahan bergerak pergi meninggalkan terminal kota Jakarta petang itu dengan membawa kesedihan yang dalam dihati Ayunda yang menangis lirih saat Bis yang dinaikinya semakin jauh meninggalkan Jakarta dimana hatinya yang hancur tertinggal disana.
***
Disebuah Rumah sakit Swasta besar di Ibu kota tampak seorang perempuan berusia diawal 30 tahun berjalan mondar mandir dengan gelisah didepan ruang ICU rumah sakit setelah tadi dokter yang menangani pasien yang sedang terbaring diruang ICU itu menjelaskan bagaimana sebenarnya kondisi sipasien pada perempuan cantik itu.
Perempuan cantik dengan stelan tunik warna biru dan kerudung senada itu menoleh lalu menggeleng kearah pria berpakaian dokter yang baru saja menegurnya.
"Mas Ir apa benar kondisi Iman sebenarnya sangat parah ?,"tanyanya dengan raut cemas yang tampak nyata diwajah cantiknya.
Pria berpakaian dokter yang bernama asli Dokter Irwansyah Dirgantara saudara sepupu Aisyah istri Hafiz itu.
__ADS_1
"Kita bicara diruanganku sekarang,"ajak pria berusia sekitar 32 tahun itu pada Aisyah yang langsung diikuti oleh perempuan cantik itu dari belakang masih dengan raut wajah sama.
"Sebenarnya kenapa kamu mau begitu repot mengurus Sulaiman Syah.Katakan saja tentang kondisinya sekarang pada Hafiz dan mertuamu itu.Aku rasa sudah cukup kamu menolongnya dengan berbohong pada pihak polisi kalau Sulaiman adalah korban kejahatan padahal kamu tau kalau itu tidak benar sebagai dokter polisi aku bisa membedakan mana luka karena perkelahian dengan luka karena diserang tiba tiba tapi karena aku memandang dia sebagai saudara Iparmu dan kita juga saudara sepupu jadi aku mau membantumu ikut melindunginya."
Aisyah menundukan wajahnya mendengar semua yang dikatakan oleh Irwan sepupunya itu yang merupakan dokter dirumah sakit kepolisian.Orang yang pertama kali memberitau Aisyah kalau pihak kepolisian menemukan korban penusukan yang mirip Sulaiman iparnya saat Aisyah berniat kembali ke Surabaya pagi itu setelah bulat memutuskan bercerai dengan Hafiz dan tidak mau lagi memberi kesempatan pria itu juga kedua mertuanya untuk menjelaskan padanya tentang masalah diRestoran waktu itu.
"Maaf Mas tapi mas tau bukan bagaimana hubungan Iman dan keluarganya, kalau aku beritahukan hal ini pada mereka apa mas pikir mereka akan perduli dengannya. Apalagi sekarang aku dan Hafiz sedang dalam proses bercerai jadi kalau sampai mereka tau aku merawat Iman yang dalam kondisi kritis seperti sekarang ini mereka pasti tetap akan menimpakan kesalahannya pada kami."
"Tapi ini tetap tidak benar Syah! Sulaiman masih punya keluarga dan kalau kamu memang tidak ingin disalahkan biar aku yang mengatakan pada mereka tentang kondisinya pada mereka, jadi kamu tidak akan terkena masalah. Lalu kembalilah ke Surabaya seperti rencana awalmu sebelumnya,"saran Irwan yang dijawab gelengan oleh Aisyah.
"Aku nggak bisa meninggalkan Iman dalam kondisi seperti itu Mas.Apalagi kata dokter Yudi yang memeriksanya tadi ada kemungkinan nanti Iman akan mengalami gegar otak juga kelumpuhan karena banyaknya darah yang keluar akibat semua luka yang dideritanya itu jadi..."
"Syah! Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan ini?! Ingat dia itu saudara Iparmu jadi sebaiknya buang perasaan suka dari masa lalumu dulu! Kamu boleh bercerai dari Hafiz kalau memang pria itu menyakitimu tapi kamu tidak perlu mengorbankan dirimu untuk Sulaiman dengan alasan tidak tega atau apapun itu!."
Bukannya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Irwan Aisyah malah marah pada saudara sepupunya itu dengan sengaja bicara keras.
"Mas!Tugas mas hanya merawat Iman sebagai dokter, untuk masalah bagaimana perasaanku padanya itu urusanku dan kalau mas atau rumah sakit disini nggak sanggup lagi merawatnya aku akan memindahkan Iman untuk dirawat keluar negeri yang pengobatannya lebih maju dibanding disini! Aku akan mulai mengurus prosedur pemindahan nya malam ini juga, tolong mas Irwan jangan menghalanginya!."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Aisyah keluar dari ruangan Irwan dengan sengaja membanting pintu ruang kerja pria itu.
3 bab untuk hari ini jadi jangan lupa tinggalkan like komen kalian setelah membaca reader kesayangan otor.🥰🥰