
Pemuda itu melongo mendengar apa yang baru saja ditanyakan Ayunda padanya begitu juga Widia yang langsung mendekat kearah mereka berdua dan berbicara setengah berbisik pada Ayunda heran juga cemas.
"Yun...Lo apa apaan sih kok tiba tiba nanya kaya gitu? Bocah kecil ini nggak kenal sama suami Lo Yun jangan ngomong yang ..."
"Huaaaa!!....Bos.. Huaaaa!!!....."
Ucapan Widia langsung terhenti seketika karena tiba tiba saja pemuda tanggung itu menubruk Ayunda dan menangis keras seperti anak kecil dengan memeluk tubuh Ayunda membuat Ayunda dan juga Widia sangat terkejut melihat reaksi yang diberikan pemuda itu.
"Hey! Hey! Lo kenapa?! Kok malah nangis?!," hardik Widia dengan mencoba menarik pemuda dari tubuh Ayunda.
"Wid..tolongin dong dia kenapa sih?!."
Ayunda juga berusaha mendorong tubuh pemuda itu dengan dibantu Widia tapi kesulitan karena pelukan pemuda berusia sekitar 17 yang posturnya lebih besar dan tinggi darinya sangat erat ditubuh kecil Ayunda ,sampai sebuah suara dari orang yang baru datang membuat sipemuda langsung melepaskan pelukannya.
" Brin Lo ngapain kaya gitu ?! lepas!!," bentak pria berusia sekitar 40 tahun itu keras kearah pemuda tanggung yang langsung melepaskan pelukannya dari Ayunda dan berniat memeluk kearah pria yang baru datang tapi malah mendapat pukulan cukup keras dari pria itu sampai tersungkur tapi tidak berhenti menangis.
"Diam!! ngapain Lo nangis kaya bayi gitu!," bentak pria itu keras pada pemuda tanggung yang berusaha meredakan tangisnya setelah dibentak dan dipukul keras barusan oleh pria yang baru datang .Yang sekarang berjalan mendekat kearah Ayunda dan Widia yang ketakutan pada dua pria itu dan berdiri saling merapat satu sama lain.
" Kalian nggak diapa apain dia kan?," tanyanya dengan menunjuk kearah pemuda tanggung yang sekarang tangisnya sudah berhenti dan sedang mendekat kearah mereka yang dijawab gelengan oleh Ayunda juga Widia.
"Bang Fahri! Aku tu nggak ngapa-ngapain mereka aku tadi cuma...".
'Diam Lo! Dasar nggak punya sopan santun Lo tu bukan anak anak ngapain Lo meluk perempuan sembarangan begitu!," bentak Fahri dengan menatap tajam pemuda itu.
"Itu karena.. Bos Iman...," jawab Sabrin yang membuat wajah Fahri langsung berubah.
"Bos Iman? Kenapa dengan bos Brin?!," tanya Fahri keras pada Sabrin.
Bukannya langsung menjawab Sabrin malah menunjuk kearah mereka berdua dengan jarinya yang membuat Fahri kembali mengalihkan tatapannya pada Ayunda dan Widia.
"Kalian?," tanyanya dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Bang Iman ada nggak disini?," Ayunda kembali mengulang pertanyaannya yang membuat Sabrin akan menangis lagi tapi ditahan karena tatapan Fahri.
"Nggak ada, siapa kalian?," tanya Fahri muram dengan melangkah kearah pintu bengkel berniat membuka gembok pintu tapi langsung terhenti begitu mendengar apa yang dikatakan Ayunda.
"Aku ...istrinya...," jawabnya lirih yang langsung membuat Fahri dan Sabrin menatap kearah Ayunda dengan terkejut.
"Istri! Kakak beneran istri Bos Iman?!," tanya Sabrin lebih dulu membuka mulutnya bertanya yang langsung dijawab anggukan oleh Ayunda.
Mendengar hal itu Sabrin langsung mendekat lagi kearah Ayunda lalu meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
"Aku Sabrin! Aku kerja disini dibengkel Bos Iman sejak bengkel ini buka bareng Bang Fahri itu," tunjuknya pada Fahri yang sendang membuka pintu bengkel.
"Jadi kalau begitu kalian pasti tau tentang keberadaan Bang Iman kan?," tanya Ayunda dengan suara pelan penuh harap yang dibalas Sabrin dengan menoleh kearah Fahri yang sudah selesai membuka pintu bengkel.
"Masuklah,kita bicarakan didalam soal ini," perintah Fahri pada mereka semua dengan lebih dulu masuk kedalam bengkel.
"Ayo kak masuk nanti kami ceritakan semuanya," Ajak Sabrin masih tidak melepaskan genggamannya ditangan Ayunda sampai deheman Widia menyadarkannya.
Mendengar itu Sabrin langsung melepaskan tanyanya dari tangan Ayunda dan meringis kearah mereka berdua malu.
"Maaf kak khilaf," celetuknya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat itu.
"Uh..dasar pinter ngeles!," cebik Widia pada Sabrin yang dibalas cengengesan oleh pemuda itu.
"Duduk aja disembarang tempat soalnya bengkelnya masih berantakan," terang Bang Fahri begitu mereka berdua sudah masuk kedalam bangunan kayu yang ukurannya tidak terlalu besar dan dipenuhi dengan alat alat bengkel itu.
"Ini kak kursinya," dengan wajah masih malu malu karena kejadian tadi Sabrin mengangsurkan dua kursi besi tua kepada Ayunda dan Widia untuk mereka duduk.
"Makasih," ucap Ayunda dengan tersenyum kearah pemuda itu yang wajahnya langsung memblus merah karena mendapat senyuman dari Ayunda dengan tatapan terpesona dan baru mengalihkan wajahnya begitu mendengar deheman Widia.
"Ehem ! Ehem! Ingat masih dibawah umur," celetuknya sengaja yang dibalas Sabrin dengan meringis pada mereka berdua.
__ADS_1
"Habis kakak cantik banget sih.Pantes aja bos Iman gercep nikahinya."
"Brin!," teguran Fahri langsung membuat pemuda itu diam dan memilih untuk duduk seperti yang lain.
"Jadi...Apa kamu benar istrinya Bos Iman?," tanya Fahri dengan menelisik penampilan Ayunda saat itu lalu melirik juga kearah Widia yang diam.
Ayunda mengangguk "Iya Bang aku Ayunda istrinya .Apa Bang Iman nggak pernah cerita soal aku sama Abang atau Sabrin?," tanya Ayunda yang dijawab gelengan oleh Bang Fahri membuat wajah Ayunda langsung berubah muram mendengarnya.
Melihat itu Bang Fahri kembali bicara.
"Kurasa Bos Iman bukannya nggak mau cerita soal kamu kekami semua tapi.... nggak bisa atau belum saatnya mengingat status nya yang sebenarnya."
"Status? Maksud Abang?! Apa Bang Iman sudah menikah dan aku ini...," wajah Ayunda semakin muram dan hampir menangis memikirkan hal itu sampai Widia memeluk bahunya untuk menguatkannya.
"Bukan statusnya yang itu,tapi...".
"Bos Iman itu masih bujang ting ting kok kak dan cuma kak Ayun istri semata wayangnya", celetuk Sabrin yang membuat Ayunda tanpa sadar menarik nafas lega mendengarnya.
"Maksudku status pekerjaan nya yang sebenarnya Yun."
"Memangnya apa pekerjaan Bang Iman, bukannya dia kerja dibengkel ini selama ini sampai dia menghilang...,"ucap Ayunda dengan lirih kembali merasa sangat sedih mengingat kenyataan itu.
"Bukan kak Ayun, Bang Iman memang yang punya bengkel ini tapi selain itu dia juga ketua preman besar yang sangat ditakuti banyak preman lain selama bertahun tahun sampai...".
Pletak!
Sabrin sedikit terkejut karena Bang Fahri tiba tiba memukul kepalanya dengan keras dan menatapnya tajam.
"Keluar Lo bikin recok orang tua ngomong!," bentak Bang Fahri kesal pada Sabrin yang berniat menolak perintah Bang Fahri tapi langsung patuh begitu melihat ekspresi Ayunda saat itu setelah dia tadi mengatakan siapa Iman sebenarnya.
Dia segera bangun dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari bengkel menyelamatkan dirinya sebelum terkena masalah karena sudah salah bicara sepertinya.
__ADS_1
"Ja...jadi..Bang Iman itu ketua preman? La..lalu...Apa dia menghilang juga karena itu?."