Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
94. Menabrak Sabrin.


__ADS_3

Iman berjalan gontai setelah keluar dari Kantin, dengan pikiran dipenuhi oleh apa yang terjadi tadi diKantin.


Ekspresi marah yang ditunjukan Ayunda padanya, membuat perasaannya terasa sangat tidak nyaman.


Banyak pertanyaan memenuhi pikirannya berkaitan dengan semua hal itu, membuat dirinya sampai tidak fokus saat berjalan dan tanpa sadar menabrak seseorang yang juga sedang berjalan dari arah berlawanan.


Bruk!


Iman langsung menatap ke orang yang baru saja tidak sengaja menabraknya.


"Maaf pak,maaf, nggak sengaja," ucap pemuda yang baru saja menabraknya, karena dia berjalan sambil sibuk dengan ponsel ditangannya dan langsung berusaha menyembunyikan ponselnya setelah menabrak Iman barusan.


Iman diam, menatap kearah pemuda itu yang saat itu sedang menundukan wajahnya karena merasa bersalah sudah menabrak dirinya barusan.


"Kamu... Mahasiswa disini?" tanyanya hanya sebagai formalitas,tapi reaksi yang diberikan pemuda itu sangat aneh setelah si pemuda menatapnya, ekspresi wajah sangat terkejut begitu mereka bertatapan, ekspresi sama yang tadi ditunjukan oleh Ayunda dan temannya saat melihat dirinya,membuat Iman merasa heran, juga penasaran.Kenapa semua orang yang bertemu dengannya hari ini melihatnya seolah dirinya bukan makhluk hidup.


"Ppak..eh Bos... eh..Ini..." Sabrin tidak sanggup meneruskan bicaranya dan hanya menggerak gerakkan tangannya keatas kebawah, dengan tatapan tidak percaya kalau pria yang ada dihadapannya sekarang adalah Iman, orang selama ini sudah menghilang. Tadi Sabrin baru saja menanyakan lagi keKantor dosen, tentang dosen yang punya nama seperti Iman,berniat ingin menemuinya, karena ingat kalau tidak salah seharusnya hari ini dia sudah mulai masuk kerja lagi. Saat bertanya dengan pegawai disana tadi dia sempat kecewa, karena mereka bilang tidak tau apakah hari ini dosen yang dimaksud Sabrin, akan pergi keKampus atau tidak.


Bukan tanpa alasan Sabrin melakukan itu,dia hanya ingin Ayunda tidak terus menerus terlihat sedih,karena itu dia berniat ingin secepatnya menemui pria bernama sama dengan Iman orang yang mereka maksud.


Sedikit kecewa setelah mendapat jawaban dari pihak pegawai diruangan dosen tadi, Sabrin sengaja berjalan gontai dengan memainkan ponsel ditangannya, sambil berusaha berpikir apa yang harus dikatakan nya nanti pada Ayunda juga Widia, saat dia menemui mereka.


Sibuk dengan pikirannya sendiri dan ponsel ditangannya, membuat Sabrin tidak melihat ada orang yang sedang berjalan kearahnya saat itu, hingga tanpa sengaja mereka bertabrakan.


Sabrin sengaja langsung minta maaf lebih dulu, agar dia bisa segera pergi dari hadapan pria yang baru saja bertabrakan dengannya,tapi begitu mendengar pria itu bicara,reflek dia menoleh kearah orang tersebut, karena suara pria itu sama persis dengan suara Iman yang sedang dia cari saat ini.

__ADS_1


Apalagi begitu tatapan mereka bertemu,wajah postur dan....kecuali tentu saja penampilan mereka berdua yang tidak sama, karena penampilan pria dihadapannya ini lebih rapi,sesuai pekerjaan yang dilakukannya sekarang,selain itu semuanya sama.


Sampai Sabrin merasa tidak percaya kalau pria dihadapannya itu bukan Iman.


Tapi begitu mendengar dia bicara, entah mengapa Sabrin merasa kecewa, karena seolah dia tidak ingat lagi padanya sekarang.


"Apa kamu Mahasiswa disini?" Iman bertanya lagi, berusaha tidak perduli pada ekspresi terkejut yang ditunjukkan pemuda dihadapannya itu padanya.


"Iiya... Bos, Bos lupa denganku?" setelah bisa menguasai rasa terkejutnya, Sabrin berusaha membuat Iman ingat padanya lagi, dia pikir wajar saja kalau pria itu sudah lupa padanya, karena mereka sudah 5 tahun tidak pernah bertemu dan banyak perubahan juga pada dirinya terutama dari segi fisik juga penampilan,karenanya tidak heran Iman lupa.


Iman mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan dan nada bicara yang digunakan oleh pemuda dihadapannya saat itu,membuatnya menjadi semakin penasaran.Apakah memang dulu dia pernah bertemu dengan pemuda itu.


"Iya, siapa namamu?" tanyanya, sengaja untuk melihat reaksi yang diberikan pemuda itu padanya.


"Aku Sabrin, Bos dulu, adalah bos dibengkel tempatku kerja," terangnya dengan tatapan berbinar saat mengatakannya, membuat Iman berpikir, untuk mengajak pemuda dihadapannya itu bicara secara pribadi, Karena mungkin saja pemuda itu bisa membuat kabut ingatan diotaknya yang selama ini terus tertutup, bisa mengingat lagi.


"Aku, semester 6 sekarang Bos.Oh iya Bos, sudah ketemu sama kak Ayunda, juga kak Widia, kan?"


Iman mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Sabrin dan berniat terus bertanya, tapi dari arah kejauhan dia melihat dosen Rianti berjalan kearahnya,dengan terpaksa dia mengurungkan niatnya itu dan berpikir akan melakukannya lain kali saja,karena sekarang dia berniat segera pergi dari sana, untuk menghindari dosen perempuan itu,yang diyakininya ingin mendatanginya sekarang.


"Sabrin,kita bicara lagi nanti.Ini nomor teleponku hubungi aku setelah aku selesai mengajar hari ini," perintah Iman dengan menyerahkan kartu namanya pada pemuda itu,lalu pergi meninggalkannya sebelum Sabrin menjawabnya.


Sabrin menatap ke kartu nama ditangannya, lalu tersenyum senang dengan memasukkan benda itu ke saku kemejanya dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu menuju Kantin, untuk menemui Ayunda dan menyampaikan apa yang baru saja didapatnya.


***

__ADS_1


Begitu sampai diKantin Sabrin setengah berlari saat melihat Ayunda, meski saat itu Ayunda sedang melayani pembeli.


"Kak Ayun!Aku berhasil,lihat ni, apa yang aku dapat!" Ayunda menoleh kearah Sabrin yang sedang mengacungkan selembar kartu nama padanya.


"Apa itu Brin?" tanyanya,tapi lalu kembali melakukan pekerjaannya, karena masih ada beberapa pelanggan yang menunggu untuk dilayaninya.


"Ini kartu nama yang ada nomor telpon,Bos Iman," terang Sabrin dengan mendekatkan dirinya saat mengatakannya, membuat Ayunda reflek menoleh dan hampir saja membuat wajah mereka bertabrakan, karena Sabrin mengatakannya tepat disamping telinganya saat itu.


"Issh," Ayunda langsung mendorong Sabrin, yang menjauh dengan wajah tanpa dosa.


"Hehehe, nggak sengaja kak," ucapnya,lalu berdiri berjarak dibelakang Ayunda,sengaja membiarkan Ayunda menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu, meski sebenarnya dia tidak sabar ingin segera menceritakan apa yang tadi terjadi antara dia dan Iman dilorong Kampus pada Ayunda.


Setelah melihat semua pelanggan warung sudah selesai dilayani dan Ayunda juga hanya membereskan makanan yang ada dietalasenya, Sabrin kembali mendekat lalu mengulurkan kartu nama milik Iman pada Ayunda.


"Nih."


Ayunda melirik sekilas ke tangan Sabrin yang terulur saat itu, tapi tidak mengambil benda yang diberikannya,bahkan dia terus saja menyibukkan dirinya tanpa menghiraukan Sabrin,membuat Sabrin merasa heran.


"Kak, ini kartu nama Bos Iman.Kakak nggak mau nerima? Kenapa?" tanyanya heran dengan sikap Ayunda, yang terkesan dingin saat itu.


"Nggak perlu Brin,buang aja," jawabnya yang membuat Sabrin terkejut mendengarnya,lalu mendekat kearah Ayunda yang masih pura pura sibuk dihadapan Sabrin.


"Kenapa? Apa sudah terjadi sesuatu tadi," tanya Sabrin penasaran.


Kali ini Ayunda menoleh kearah Sabrin,lalu menarik nafas cukup keras sebelum mulai menjawab.

__ADS_1


"Dia lupa sama Aku Brin."


__ADS_2