Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
87. Larangan Sabrin.


__ADS_3

"Apa Lo yakin yang Lo liat tadi itu Iman suami Lo Yun?," tanya Widia yang dijawab gelengan oleh Ayunda dengan menatap kosong kedepannya.


"Gue nggak yakin Wid tapi wajah itu suaranya.... semuanya sangat mirip meski penampilan mereka berdua berbeda sekali," gumam nya lirih yang masih bisa didengar oleh Widia.


"Kalau Lo penasaran Lo tinggal cari aja orang itu toh katamu dia kenal sama pak Bayu penggemar berat Lo itu , jadi pasti nggak sulit mencari tau siapa dia sebenarnya Yun," saran Widia.


"Jangan! Jangan minta tolong sama pak Bayu kak Ayun," larang Sabrin yang tiba tiba sudah berada didalam kamar Ayunda membuat Widia dan Ayunda langsung menoleh kearah pria muda itu yang berjalan mendekat kearah mereka berdua dan ikut duduk didekat Ayunda dengan wajah serius.


"Lo ngomong apa sih Brin," celetuk Widia pada pria muda itu.


" Biar aku aja yang bantu cari orang yang mirip sama Bos Iman itu kak, nggak usah minta bantuan sama pak Bayu,kakak kan tau sendiri gimana sikap pak Bayu itu sama kakak selama ini.Aku nggak mau kalau kakak menceritakan hal ini pada pria dangkotan itu malah nanti dimanfaatkan nya, " terang Sabrin pada mereka berdua yang membuat Ayunda dan Widia saling pandang.


"Lo,emang Lo bisa nyari orang itu sementara kita nggak tau apa apa tentang dia kecuali wajahnya dan postur tubuhnya yang mirip sama Bang Iman," balas Widia tidak yakin Sabrin bisa berhasil mencari tau tentang pria yang kemungkinan adalah Iman itu.


"Kak Ayun tenang aja aku pasti bisa nemukan dia nanti yang penting sekarang jangan bersedih kaya ini lagi kedepannya," bujuk Sabrin pada Ayunda yang wajahnya sembab karena terlalu banyak menangis tadi.


"Lo jangan ngomong kaya gitu sama dia Brin dia lagi sedih, Lo pikir...."


"Pokoknya aku akan cari tau siapa sebenarnya pria itu secara detail kak Ayun tenang aja ya," bujuk Sabrin yang diangguki oleh Ayunda.


"Iya Brin makasih sebelumnya ya," ucap Ayunda dengan tersenyum tipis kearah pria muda yang sudah dianggapnya seperti adik laki lakinya itu,bahkan dia juga ikut membantu membiayai kuliah pemuda itu seperti niat Iman dulu dengan biaya dari bengkel yang dijalankan oleh Bang Fahri dan Sabrin sendiri.


" Ya udah sekarang sebaiknya Lo istirahat aja Yun dan usahakan jangan mikirin apapun lagi termasuk soal pria tadi sampai Sabrin mencari tau siapa pria itu sebenarnya," bujuk Widia yang diangguki oleh Ayunda dengan merebahkan tubuhnya diranjang kamar yang ditempatinya itu.


"Lo istirahat aja ya kami keluar," ucap Widia dengan berjalan keluar kamar Ayunda bersama Sabrin lalu menutup pintunya.

__ADS_1


Begitu sampai diluar kamar Widia lalu menarik Sabrin menjauh dari depan kamar Ayunda membuat Sabrin sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Widia.


"Kak Wid mau ngapain?!" celetuknya saat Widia mengajaknya kekamar perempuan itu lalu menutup pintunya dibelakang mereka, membuat pikiran negatif langsung melintas diotaknya.


"Mau ngapain apanya! Gue mau bicara sama Lo secara pribadi!," terang Widia dengan duduk ditepi ranjangnya.


"Pribadi? jangan bilang kak Wid mau ngungkapin perasaan ke aku, karena aku nggak akan Nerima!," celetuknya tiba tiba yang membuat Widia mengerutkan keningnya lalu melempar pria muda itu dengan bantal boneka yang ada didekatnya.


"Ngaco lo.Lo pikir Lo tipe gue nggak banget."


"Lha kalau bukan? Ngapain ngajak aku masuk kamar kakak kaya gini horor tau," balas Sabrin dengan mengedarkan pandangannya keseluruh kamar Widia.


"Duduk Lo jangan ngomong ngelantur nggak jelas gitu!," perintah Widia dengan menyuruh Sabrin duduk di satu satunya kursi yang ada dikamarnya itu.


Meski bingung Sabrin tetap menuruti perintah Widia dengan duduk dikursi tersebut.


"Gini Brin, menurut Lo yang tadi dilihat Ayunda itu beneran Iman atau bukan?."


Wajah Sabrin langsung berubah ikut serius seperti Widia dan dia sengaja mencondongkan tubuhnya mendekat kearah Widia sebelum mulai menjawab.


"Mungkin iya mungkin juga bukan," jawab nya.


Pletak!


"Auwww Kak Widia! kenapa malah mukul kepalaku?!," protesnya dengan wajah langsung berubah kesal pada Widia yang juga memasang ekspresi sama.

__ADS_1


"Lo terlalu sih! Gue ngomong serius tapi Lo malah jawabnya kaya gitu ngeselin banget Lo Brin!," gerutu Widia.


"Itu kan benar kak.Aku nggak tau dia beneran bos Iman atau bukan soalnya aku belum ketemu langsung sama dia atau....," tiba tiba Sabrin terdiam karena tiba tiba ingat sesuatu.


"Atau apa Brin?," tanya Ayunda penasaran.


"Kakak ingat nggak waktu hari pertama kita buka warung dan aku bilang aku ngeliat hantu Bos Iman yang malah kalian ketawain saat itu?!," celetuk Sabrin penuh semangat yang langsung membuat Widia terdiam mencoba mengingat ingat saat itu.


"Tapi waktu Ayunda keluarkan dia nggak ada yang ada sipria dangkotan pak Bayu itu Brin jadi...."


"Mungkin aja saat itu dia langsung pergi karena begitu melihat wajahnya aku langsung balik kebelakang sebelum sempat bertanya apapun sama pria itu," terang Sabrin penuh semangat.


"Tapi masalahnya sekarang bukan itu Brin melainkan dimana kita mencari dia buat memastikan dia itu Iman suami Ayunda atau bukan," terang Widia dengan menarik nafas keras membuat Sabrin juga ikut melakukannya.


"Aku akan coba cari tau mulai dari sekitar Kampus apakah ada orang yang mirip itu atau minimal namanya yang sama dengan Bos Iman kak.Nanti kalau sudah tau akan aku beritau pada kakak," jelas Sabrin yang diangguki oleh Widia.


"Ya lakukan, tapi usahakan jangan terlalu lama ya Brin karena gue nggak mau Ayunda merasa terpuruk lagi kaya dulu dan gue yakin Lo juga nggak mau kan?," tanya Widia yang diangguki oleh Sabrin.


"Ya udah kalau begitu aku pulang dulu kak,salam aja buat kak Ayunda."


Setelah mengatakan itu Sabrin keluar dari kamar Widia dan meninggalkan Rumah kontrakan itu.


Setelah dari Rumah Ayunda dan Widia Sabrin berniat langsung kebengkel untuk menemui Bang Fahri dan ingin menceritakan soal itu supaya Bang Fahri bisa membantunya mencari kan solusi apa yang sebaiknya dilakukan nya untuk membantu Ayunda mencari keberadaan pria yang mirip Iman itu.


Meski sebenarnya saat mendengar cerita Ayunda tadi Sabrin kurang yakin kalau itu adalah Iman karena kalau itu Iman suami Ayunda kenapa dia nggak mengenali Ayunda saat mereka bertemu muka tadi.

__ADS_1


Tapi kalau bukan kenapa orang itu sangat mirip dengan Iman.


Pikiran itu membuat Sabrin tidak bisa memikirkannya jadi memutuskan pergi saja dari sana untuk keBengkel menemui Bang Fahri dengan sepeda motor CBR miliknya yang tadi dipakainya keRumah Ayunda dan Widia.


__ADS_2