
"Bos."
Iman terdiam ditempatnya, begitu mendengar Sabrin memanggilnya dengan sebutan itu.
Sabrin berjalan mendekat kearah Iman yang tidak meneruskan langkahnya lagi dan terlihat sedikit terhuyung.Andai tubuhnya tidak segera diraih Sabrin mungkin Iman akan jatuh saat itu.
Bang Fahri yang melihat hal itu, bergegas ikut menghampiri Iman, untuk membantu Sabrin menopang tubuh Iman dan membawanya masuk kedalam bengkel.
"Duduk Bos," ajak Sabrin, dengan mendudukkan tubuh Iman dikursi kayu, yang ada didalam bengkel.
"Brin ambil air mineral diluar, kurasa Bos Iman butuh itu sekarang," perintah Bang Fahri yang langsung dituruti Sabrin, dengan berjalan keluar mengambil satu botol air mineral, yang dikhususkan untuk tamu yang servis dibengkel mereka.
"Ini, Bos minum dulu," saran Sabrin, dengan mengangsurkan botol itu kearah Iman, yang diraih oleh Bang Fahri.
"Kenapa nggak lo bantu, buka? Apa lo nggak liat gimana kondisi Bos, sekarang," omel Bang Fahri, berniat membukakan botol air mineral supaya bisa diminum Iman, tapi sebelum dia melakukanya, Iman mengambil botol itu dari tangan, Bang Fahri.
"Biar kubuka sendiri," pintanya, mengambil botol itu, membukanya, lalu meminum airnya, dengan diamati oleh Sabrin dan Bang Fahri yang tidak berkedip, melihat bagaimana cara Iman waktu meminum air dari botol ditangannya, karena kebiasaan itu, tidak berubah sama sekali.
"Makasih minumannya," ucap Iman, lalu meletakkan botol itu didekatnya, setelah itu baru dia menatap kearah Sabrin dan Bang Fahri yang juga sedang menatap dirinya, saat itu.
"Jadi,apa sekarang Bos sudah ingat lagi sama aku?" tanya Sabrin penasaran, juga kecewa waktu Iman menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala.
"Bagaimana bisa,sementara aku langsung mengenali bos, begitu melihat bos. Meski penampilan bos sekarang jauh berbeda dengan 5 tahun lalu," ucapnya muram.
"Kurasa wajar aja kalau Bos lupa sama lo, Brin, itu udah 5 tahun.Selain itu, dulu lo masih bocah ingusan, sementara sekarang lo udah besar.Tapi, kalau sama aku Bos nggak mungkin lupa kan?" tanya Bang Fahri penuh keyakinan, yang harus kecewa sama seperti Sabrin, saat lagi lagi Iman menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Apa?! Bos jangan bercanda! Aku Fahri! Gimana Bos bisa lupa sama aku, meski ini sudah 5 tahun, Bos..." Suara Bang Fahri terdengar lebih kecewa dibanding Sabrin tadi, waktu tau Iman bilang tidak ingat dengan dirinya.
__ADS_1
Melihat bagaimana reaksi kedua orang itu, begitu melihat dirinya dan mendengar apa yang baru saja mereka katakan, Iman bisa menyimpulkan kalau mereka berdua itu, benar benar mengenalnya dulu.
"Begini, mungkin kalian kecewa karena aku tidak kenal dengan kalian sekarang."
"Nada bicara bos juga berubah, aku nggak suka," ucap Sabrin, bernada penuh kecewa.
"Lo bener Brin, apa ini karena profesi Bos udah berubah, karenanya cara bicaranya juga beda," balas Bang Fahri, dengan nada yang sama dan ekspresi wajah sama seperti, Fahri.
"Apa aku dulu nggak seperti ini?" tanya Iman, mulai penasaran dengan dirinya yang dulu, yang dilupakannya.
Sabrin dan Bang Fahri menggeleng secara bersama padanya.
"Nggak, apa sudah terjadi sesuatu sama Bos, waktu Bos menghilang dan nggak bisa kami temukan saat itu?" tanya Bang Fahri penasaran.
Iman menghela nafas, sebelum dia menjawab pertanyaan mereka berdua, yang sangat ingin mendengar apa yang sudah terjadi pada dirinya selama ini.Itu, terlihat jelas dari ekspresi wajah mereka berdua, sekarang.
Bruk!
Sabrin terjatuh dari kursi yang didudukinya, begitu mendengar apa yang dikatakan Iman.Sementara Bang Fahri terdiam dengan wajah bingung,dia pernah mendengar Soal itu dari cerita sinetron ditelevisi yang biasa ditonton istrinya dirumah, tapi tidak pernah tau kalau itu benar bisa terjadi pada orang sungguhan.
"Bos, ini beneran? Bos nggak sedang bercanda kan?" tanya Sabrin, masih tidak percaya, dengan apa yang dikatakan Iman barusan dan sejujurnya tidak ingin percaya, karena ini terasa menyakitkan untuknya, waktu mendengarnya langsung, lalu bagaimana kalau Ayunda sampai tau Soal ini, nanti,pikir Sabrin, sedih.
"Sayangnya ini benar terjadi.Jadi, 5 tahun yang lalu aku mengalami luka parah, yang menurut keterangan, dari dokter, juga orang yang menolongku saat itu, itu terjadi karena aku dikeroyok orang orang jahat, lalu ditinggalkan begitu saja oleh mereka."
"Itu benar, Bos dan karena perbuatan mereka kami semua kehilangan Bos. Jadi, siapa orang yang sudah menolong Bos dan apa yang sudah terjadi pada Bos, setelah itu?" tanya Sabrin, dengan wajah muram.
"5 tahun lalu, kondisiku sangat parah, dengan beberapa luka mematikan dibeberapa bagian tubuh, juga ada dibagian kepala, yang menurut keterangan dokter itu sebagai pemicu aku sampai bisa kehilangan ingatanku, selain itu juga karena trauma."
__ADS_1
"Trauma? trauma,apa Bos?" tanya Bang Fahri tidak mengerti.
"Mungkin saja itu trauma, yang disebabkan karena aku dihajar oleh para penjahat, itu menurut psikiater yang menanganiku, waktu di Singapura dulu."
"Singapura?! Jangan bilang selama ini Bos tinggal, diSingapura?!" tanya Sabrin terkejut dan mulai bisa mengerti, kenapa mereka sama sekali tidak bisa menemukan jejak Iman selama ini, karena ternyata selama ini pria itu tinggal diLuarnegeri.
"Iya, aku menjalani pengobatan disana selama ini dan baru kembali sekitar 1 bulan yang lalu, kemari." terang Iman, membuat Sabrin dan Bang Fahri hanya bisa terdiam karena tidak tau bagaimana harus menanggapi, semua cerita Iman barusan.
"Lalu..apa Bos, sama sekali nggak bisa ingat apapun, misalnya pekerjaan Bos sebelum mengalami kecelakaan, atau tempat tinggal Bos sebelum, itu terjadi?"
Iman hanya menggeleng sebagai jawabannya, membuat wajah Sabrin dan Bang Fahri, semakin muram karenanya.
"Bagaimana dengan status Bos?" tanya Bang Fahri penasaran, yang lagi lagi dijawab gelengan oleh Iman.
"Itu juga aku lupa."
Mendengar itu Sabrin dan Bang Fahri tanpa sadar menarik nafas keras secara bersamaan.
"Aku sudah berusaha untuk mengembalikan ingatanku yang hilang itu selama ini, dengan menemui banyak psikiater di Singapura, tapi hasilnya nihil," terang Iman, pada mereka berdua, dengan wajah sama muramnya seperti mereka, saat itu.
"Kalau memang kalian kenal diriku, sebelum aku mengalami kejadian tragis itu, bisa kalian membantuku, dengan menceritakan apa yang kalian ketahui tentang diriku yang sudah aku lupakan, mungkin dengan begitu perlahan aku bisa mengembalikan lagi ingatanku yang hilang."
"Bagian mana, yang ingin lebih dulu Bos Iman ketahui dari kami?" tanya Sabrin.
"Bagaimana, kalau mulai dengan statusku, sebelum mengalami kecelakaan itu.Kurasa itu juga sangat penting karena aku..."
"Bos sudah menikah, waktu itu."
__ADS_1
Iman langsung terdiam, mendengar perkataan Sabrin dan lupa dengan apa yang ingin dikatakannya barusan, pada mereka berdua,dia cukup syok mengetahui hal itu. Dia jadi teringat lagi, percakapannya dengan pemilik warung tempatnya membeli rokok tadi.