
"Kak Ayun!"
Ayunda langsung menoleh kearah Sabrin yang berjalan tergopoh gopoh menghampiri dirinya saat itu yang sedang melayani pelanggan.
" Ada apa Brin? Kamu tergesa gesa seperti itu? Apa adalah penting yang mau kamu katakan padaku? " tanya Ayunda heran melihat sikap pemuda itu dengan berjalan masuk kedalam yang diikuti Sabrin dengan berjalan menjajari langkahnya.
" Dia benar benar ada! " Ucap Sabrin yang membuat Ayunda langsung menoleh kearah pemuda itu yang menatap kearah Ayunda dengan wajah serius.
"Dosen yang baru bekerja sebulan yang lalu diKampus ini namanya sama dengan nama Bos Iman kak." Terang Sabrin membuat Ayunda langsung terdiam mendengar nya dan menatap Sabrin dengan tatapan campur aduk antara bahagia senang dan tidak percaya jadi satu.
"Lalu,apa kamu sudah bertemu dan bicara dengannya Brin?" tanya Ayunda dengan wajah penasaran yang langsung dijawab gelengan oleh Sabrin.
"Nggak kak," jawabnya dengan wajah muram membuat Ayunda langsung mengerutkan kening mendengarnya.
"Kenapa?Bukannya kamu bilang dia ada disini barusan dan bekerja menjadi Dosenmu. Jadi seharusnya kamu nggak kesulitan buat menemuinya Brin." Ucap Ayunda kecewa karena ternyata Sabrin belum menemui langsung pria itu untuk bertanya.
"Itu benar Kak, tapi sekarang dia sedang nggak ada diKampus," ternag Sabrin dengan wajah tertunduk karena tidak tega melihat wajah kecewa Ayunda sementara tadi sempat terlihat sangat senang.
"Kemana dia? Apa hari ini nggak datang keKampus Brin?" tanyanya penasaran yang dijawab anggukan oleh Sabrin.
" Iya kak karena dia sedang ikut Workshop ke Surabaya selama 1 minggu jadi meski nama mereka sama tapi aku belum bisa memastikan apakah dia adalah orang yang kita maksud atau bukan," terang Sabrin yang membuat Ayunda terdiam mendengarnya.
Melihat ekspresi Ayunda Sabrin segera mendekat lalu menyentuh bahu Ayunda untuk memberikan dukungannya.
__ADS_1
"Kak Ayun jangan khawatir, nanti begitu dia kembali dari Surabaya aku akan menemuinya dan langsung menanyakan padanya apakah dia Bos Iman atau hanya orang yang mirip saja, atau perlu aku cari tau alamatnya jadi kita bisa menemuinya dirumahnya," ucapnya dengan penuh keyakinan berharap dengan seperti Ayunda tidak merasa sedih lagi seperti sebelum sebelumnya.
"Nggak perlu Brin ...lakukan saja seperti yang kamu katakan dan jangan mencari alamat nya karena kita belum yakin itu dia Brin jangan sampai rasa penasaran kita membuat kita nanti dalam masalah ?" Ucap Ayunda yang diangguki oleh Sabrin.
"Ya udah sekarang aku mau kuliah dulu Kakak jangan sedih atau berkecil hati ya.Cuma seminggu nggak lama kok lalu kita akan tau siapa dia sebenarnya," bujuk Sabrin yang diangguki oleh Ayunda dengan menyuruh pemuda itu pergi dari warungnya.
"Sampai nanti kak," Lambainya pada Ayunda yang dibalas Ayunda lalu berniat melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena bicara dengan Sabrin barusan.
"Apa kata bocah itu Yun?"
Ayunda menoleh begitu mendengar suara Widia yang baru datang dari luar karena ada yang dibelinya dipasar.
"Siapa, Sabrin?" tanya Ayunda yang diangguki oleh Widia.
"Apa katanya?" tanya Widia penasaran dengan mendekat kearah Ayunda, ingin mendengar apa yang sudah diceritakan Sabrin tentang Iman pada Ayunda barusan.
Sambil melakukan pekerjaannya Ayunda lalu menceritakan apa yang sudah dikatakannya Sabrin padanya tanpa menutupi nya sedikit pun yang membuat wajah Widia yang semula antusias ingin tau berubah menjadi kecewa.
"Cuma itu doang?!" tanya Widia dengan nada tidak puas setelah Ayunda selesai mengatakan semuanya yang dibalas anggukan oleh Ayunda.
"Ya cuma itu,lalu Lo mau apa lagi Wid? Orangnya sekarang sedang nggak ada disini jadi nggak mungkinkan memaksa orang diKampus ini mengatakan apa dia Iman yang kita cari atau bukan," terang Ayunda yang langsung membuat wajah Widia berubah terlihat kecewa karenanya.
"Yah berarti kita harus menunggu sampai Minggu depan dong buat memastikannya," gumam Widia dengan nada suara kecewa yang membuat Ayunda hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya melihat sikap Widia.
__ADS_1
***
Di Surabaya***
"Pak Sulaiman!"
Iman langsung menoleh kearah Dosen Rianti begitu mendengar Perempuan itu memanggilnya saat dia sedang berjalan menuju loby ruang tempat Workshop tadi diadakan.
"Ya Bu Rianti," jawabnya dengan menatap Perempuan itu yang sedang berjalan cepat menghampirinya.
"Ini hari terakhir Workshop kita,mau nggak pergi dengan saya kalau pak Sulaiman nggak punya rencana setelah ini ketempat yang banyak menjual oleh oleh buat dibawa pulang ke Jakarta besok pagi. Karena saya kurang familiar dengan kita ini pak," ucapnya dengan wajah penuh harap Iman bersedia melakukannya.
Iman terdiam sedang berusaha mempertimbangkan ajakan perempuan didepannya ini sekarang. Dia memang punya janji untuk mengajak Kanza jalan jalan sebelum hari ini sebelum besok pagi harus kembali ke Jakarta,tapi itu nanti sore karena sekarang gadis kecil itu masih sekolah sementara sekarang baru pukul 2 siang masih ada beberapa jam sebelum waktu janjiannya dengan gadis kecil itu.
Kalau harus menolak bukannya dia tidak bisa tapi setelah dipikir nya ulang rasanya tidak ada salahnya dia pergi dengan perempuan itu.Anggap saja memperbaiki hubungan sebagai rekan kerja karena masalah beberapa hari yang lalu itu, toh mereka hanya mencari oleh oleh bersama hal yang wajar dilakukan oleh rekan kerja pikirnya,lalu mengangguk pada Dosen Rianti.
"Baiklah nggak masalah.Kebetulan sekarang aku juga nggak mau pergi kemana mana," terangnya yang membuat Dosen Rianti senang mendengarnya.
"Jadi...kita harus kemana untuk mencari oleh oleh disini pak Sulaiman?" tanyanya penuh antusias karena Iman sudah setuju pergi dengannya setelah beberapa hari ini sikap pria itu sempat dingin padanya dan ini bisa dianggap angin segar yang tidak akan disia-siakan nya.
"Sebenarnya saya juga kurang tau Bu Rianti karena saya sudah lama tidak datang kemari," terang Iman yang membuat Dosen Rianti lalu menoleh kearah pria itu dan membuatnya langsung berasumsi sendiri dengan berpikir kalau mungkin saja hubungan pria didepannya ini dan keluarganya sedang dalam masalah atau malah sudah berpisah karena setelah hari dimana dirinya melihat Iman bersama seorang perempuan dan anak kecil saat itu dia tidak terlihat sama sekali menemui perempuan itu meski sempat beberapa kali dia mendengar Iman menerima telpon dari seorang bocah yang diduganya sebagai bocah kecil saat itu.
"Oh... kalau begitu bagaimana kalau kita pergi ketempat yang umum saja seperti Mall pak Sulaiman supaya tidak kesulitan," saran Dosen Rianti yang diangguki oleh Iman karena merasa usulan Perempuan itu wajar.
__ADS_1
"Baiklah kita ke Mall karena kebetulan ada yang ingin saya beli disana sebelum nanti sore bertemu dengan putri saya," terang Iman yang membuat ekspresi Dosen Rianti langsung berubah seketika.