Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
50. Berdebat Dengan Hafiz.


__ADS_3

"Tentu saja Aisyah cantik,tapi perlu kau tau Man kecantikannya bukan hanya dilahirnya saja melainkan juga bathinnya dan aku merasa sangat beruntung bisa menikah dengannya".


Hafiz mengatakan semua itu dengan nada pongah sengaja ingin menyombong dihadapan Iman saat itu yang hanya diam saat mendengar nya.


Meski sebenarnya ada masalah yang sedang membuat hubungan pernikahan mereka sekarang dalam masalah yaitu keturunan.


Sudah hampir 10 tahun Aisyah dan Hafiz menikah tapi mereka belum juga diberi seorang anak pun dan itu membuat hubungan mereka mulai sedikit renggang karena keluarganya terutama Umi dan Abinya terus saja menuntut hal itu bahkan sudah berkali kali sang Abi menyarankan ke Hafiz untuk menikah lagi agar mereka bisa mempunyai anak seperti yang dilakukan oleh Abinya dulu.


Awalnya Hafiz menolak hal itu karena dia sangat mencintai Aisyah tapi sejak bertemu dengan Ayunda entah mengapa hatinya mulai goyah karena itu dia meminta Umi dan Abinya datang kesini untuk membujuk Aisyah agar bersedia dimadu dengan Ayunda,itulah niat awalnya karena sampai detik ini Aisyah masih menolah hal itu meski demi alasan mempunyai anak.


Iman tersenyum miring mendengar apa yang dikatakan Hafiz.


"Syukurlah aku senang mendengarnya karena aku akan sangat marah pada dirimu kalau kau sampai tidak membahagiakan dia setelah merebutnya dariku dulu".


"Kau masih saja berpikir aku merebut Aisyah darimu padahal kau tau dalam agama kita tidak ada yang namanya merebut selama dia belum sah menjadi istri mu".


"Ternyata kau masih banyak ingat apa yang diajarkan para guru kita disekolah dulu pada kita".


"Tentu saja Man.Aku ini seorang Imam untuk istriku jadi aku harus tau banyak soal agama agar....".


"Berusahalah jadi Imam yang baik kalau begitu dan jangan contoh apa yang sudah para orang tua kita lakukan.Kita hidup bukan dizaman mereka".


"Apa maksud ucapanmu sebenarnya dan apa tujuanmu menemuiku sekarang?!",tanya Hafiz kesal.


"Kau masih saja bersikap pongah karena statusmu adalah anak dari istri pertama tuan Alfarizi".


"Bagaimana bisa kau menyebut Abi hanya dengan nama seperti itu kau benar benar anak tak tau diri Man!".

__ADS_1


"Kalian selalu menganggap aku seperti itu sejak dulu sampai sekarang, tapi perlu kau tau sebenarnya statusku sama seperti dirimu hanya saja aku kurang beruntung karena berasal dari ibu yang hanya seorang Perempuan biasa itu saja ,selebihnya aku tetap anak sah dari tuan Alfarizi sama sepertimu".


"Tapi kenapa kau lancang memanggil Abi dengan nama!Apa sebenarnya maumu menemuiku tiba tiba seperti ini!".


Hafiz benar benar merasa sangat kesal sekarang karena Iman bisa bersikap begitu tenang dihadapannya setelah muncul tiba tiba dan membicarakan istrinya dengan begitu tidak merasa bersalah.


"Kalian yang selalu ingin aku menganggapnya seperti itu bukan.Dan tujuan ku menemuimu sekarang adalah jangan menggangguku kalau kau tidak ingin kuganggu",ucap Iman yang membuat Hafiz terdiam mendengar ucapan bernada ancaman itu.


"Aku sudah pergi jauh dari kehidupan kalian agar kalian merasa tenang tapi kalian seolah sengaja mendekat ke tempat ku dan hidupku jadi bisa kalian terutama kau jangan masuk kedalam wilayahku!",ucapnya lagi yang membuat perasaan Hafiz tiba tiba merasa tidak enak mendengarnya.


"Kau...Apa artinya semua ini?",tanya Hafiz dengan perasaan berdebar debar tidak karuan antara takut dan juga cemas.


"Kau pasti tau apa artinya itu karena kita punya darah yang sama dan kau adalah orang yang paling mengenalku diantara semua anggota keluarga kita",balas Iman dengan menatap dingin kearah Hafiz yang tanpa sadar menyentuh tengkuknya yang terasa meremang mendengar perkataan Iman.


Suasana tegang itu semakin terasa meski Iman tidak melakukan apa apa pada Hafiz tapi Hafiz cukup bisa merasakan rasa intimidasi yang ditunjukan Iman padanya sama seperti dulu saat mereka masih muda pria itu selalu menatapnya seperti itu kalau dia marah pada Hafiz,lebih mengerikan dari pada saat dia berteriak keras atau mengamuk .


Tapi pertanyaan Hafiz tidak sempat dijawab oleh Iman karena tiba tiba ponsel pria itu berbunyi dan pria itu langsung mengambil ponsel disakunya lalu mengangkatnya begitu melihat nama sipenelpon dengan nada suara yang langsung berubah lembut sama saat dulu dia bicara dengan Aisyah atau Uminya itu yang diingat Hafiz.


"Ya Yank".


"Abang dimana?",tanya sipenelpon yang bisa didengar samar oleh Hafiz yang diyakininya pasti seorang perempuan dari nada awal Iman menjawab barusan.


"Ini diluar sebentar lagi aku balik ada apa?Atau kamu mau dibelikan sesuatu sebelum aku pulang kerumah?", tawar Iman dengan nada yang semakin lembut.


"Enggak,aku mau Abang cepet pulang aja",balas sipenelpon yang didengar Hafiz seolah kenal dengan suara perempuan itu tapi karena tidak jelas jadi dia tidak bisa memastikannya siapa perempuan itu.


"Ya aku balik sekarang kalau gitu".

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Iman mengakhiri panggilannya dengan perempuan ditelpon tadi lalu kembali menatap kearah Hafiz yang juga masih menatapnya tajam.


"Dia.... perempuan?".


"Istriku",jawab Iman dengan nada dingin pada Hafiz yang dibalas Hafiz dengan anggukan kecil.


"Jadi...kau sudah menikah ternyata.Kenapa kau tidak memberi khabar pada kami soal pernikahanmu ini aku yakin Abi dan Umi pasti akan senang mendengarnya".


"Aku tidak berniat mengajak istriku menjadi bagian dari keluarga kita",balas Iman yang membuat Hafiz mengerutkan keningnya mendengar itu.


"Kenapa?",tanya Hafiz penasaran.


"Karena aku tidak ingin dia mengalami apa yang Umiku alami dulu".


"Maksudmu?".


"Tidak ada. Keluarga Alfarizi itu menjadi tanggung jawab mu sampai akhir sejak aku memutuskan keluar dari rumah kalian karena itu aku dan istriku tidak punya tanggung jawab lagi ikut tradisi gila keluarga kalian yang mengorbankan perasaan perempuan yang kita nikahi hanya agar bisa tetap meneruskan garis keturunan keluarga kau mengerti apa maksudku bukan".


"Tapi bagaimana sebuah keluarga bisa bertahan tanpa seorang anak kau gila Man!",hardik Hafiz.


"Kau bisa berpikir begitu karena kau tidak pernah mencoba berada diposisi perempuan yang kalian semua korbankan demi nama Alfarizi tetap ada".


"Kami tidak bisa mengerti jalan pikiranmu dari dulu sampai sekarang.Apa itu berkaitan dengan siapa ibumu sebenarnya?!".


Iman mengepalkan tangannya mendengar hal itu lalu mendekat kearah Hafiz.


"Seharusnya kau tetap bersikap hormat pada Umiku meski dia bukan perempuan yang melahirkan mu karena dia adalah istri Abimu begitu juga aku yang selalu bersikap hormat pada Ibumu dan juga istrimu jadi lakukan hal yang sama pada anggota keluargaku meski silsilah ibu dan istri kita berbeda.Bukankah kau bilang kau seorang Imam yang berarti kau seorang pemimpin bukan,camkan itu".

__ADS_1


__ADS_2