Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
36.Berenang Yang Gagal.


__ADS_3

"Ayo kita belajar berenang sekarang".



Ayunda langsung menoleh begitu mendengar suara Iman dan tanpa sadar langsung menelan ludahnya saat melihat penampilan Iman yang hanya mengenakan celana pendek tanpa baju hingga membuat deretan otot ototnya tampak terlihat jelas membuat wajah Ayunda langsung merah padam dan dia buru buru memalingkan wajahnya ketempat lain berharap Iman tidak menyadari sikapnya barusan meski sebenarnya Iman sudah tau.


Melihat bagaimana Ayunda menatapnya barusan Iman mengulum senyumnya dan sengaja berjalan mendekat dengan sangat pelan kearah gadis itu yang terus saja membuang wajahnya.


Ayunda sangat terkejut saat tiba tiba Iman sudah memeluknya dari belakang dengan sangat erat hingga otot keras pria itu sangat terasa dipunggungnya yang langsung membuat darahnya berdesir meski ini bukan kedekatan pertama mereka tapi debaran nya tetap sama.


"Ayo kita berenang sekarang",ucap Iman tepat ditelinga Ayunda dengan setengah berbisik yang membuat Ayunda tanpa sadar memejamkan matanya untuk menahan gejolak desiran yang muncul akibat mendengar suara Iman barusan.


"Atau kita tunda saja nanti..dan sekarang ayo kita melakukan hal yang lainnya..",bisik Iman lagi dengan sengaja menjilat cuping telinga Ayunda yang sudah sangat sensitif saat itu hingga perbuatan ringan yang dilakukan Iman membuatnya tanpa sadar mengeluarkan suara erangan kecil dari tenggorokannya.


"Emmh...".


"Itu tandanya kamu setuju kan Yun..",bisik Iman lagi dengan kembali menjilat dan mengigit cuping telinga Ayunda secara nyata bukan hanya menyapukan lidahnya seperti yang pertama tadi.

__ADS_1


Isi kepala Ayunda perlahan kosong dan kedua tangannya yang semula masih berada disamping tubuhnya tanpa sadar mencengkram lengan Iman yang ada diperutnya saat pria itu mengulum cuping telinganya dengan rakus karena Ayunda merasa geli juga....


"Bang..",desisnya dengan tanpa sadar menggerakkan kepalanya kesamping agar Iman melepaskan bibirnya dari cuping telinganya.


Tapi begitu Ayunda memiringkan kepalanya Iman langsung berganti menyambar bibir gadis itu dan menahan kepalanya dengan salah satu tangannya agar dia bisa mencium Ayunda lebih dalam.


Ayunda memejamkan matanya menikmati permainan lidah Iman yang mengobrak Abrik rongga mulutnya dengan sangat liar.


"Emmh...".


Lagi lagi suara era*an meluncur dari sela bibir Ayunda membuat Iman menjadi semakin bergairah dan secara perlahan satu tangannya yang berada diperut Ayunda menelusup masuk kedalam kaos yang dipakai gadis itu untuk bisa menyentuh langsung kulit Ayunda yang terasa panas ditelapak tangannya karena gairah.


"Yun kita pindah kedalam ya?",ajak Iman pada Ayunda yang sudah dalam kondisi setengah sadar dan hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Mendapat lampu hijau Iman tidak menyia nyiakan kesempatannya.Dia langsung berdiri dengan membopong tubuh Ayunda dalam gendongannya dan langsung mengarahkan langkahnya menuju ranjang.


Meski gairahnya sudah hampir berada diubun ubun Iman tetap berusaha memperlakukan Ayunda dengan lembut meski sebenarnya Ayunda juga tidak keberatan kalau Iman tidak berusaha menahan diri saat itu karena jujur saja dia juga merasa tidak sabar untuk melanjutkan apa yang tadi sudah mereka lakukan diteras Cottage karena itu saat Iman baru menurunkannya keranjang Ayunda reflek menarik kepala Iman mendekat dan berusaha memagut bibir pria itu meski sempat gagal karena terburu buru.

__ADS_1


"Bang..",rengek Ayunda yang dipahami oleh Iman dengan mengambil alih kendali seperti sebelumnya dan membiarkan Ayunda untuk kembali menikmati cumbuannya dulu saat ini seperti biasa yang mereka lakukan dirumah karena dia berniat akan dinikmati kebersamaan mereka selama mungkin.


"Sabar sayang..",bisiknya dengan kembali ******* cuping telinga Ayunda karena dia tau itu salah satu titik sensitif gadis itu yang reflek akan membuat Ayunda lupa diri karena itu dia selalu berusaha mencegah Iman lama lama melakukan itu tapi kali ini dia memang ingin membuat Ayunda lupa diri dan dia juga tidak berniat lagi menahan diri seperti biasanya.Dia ingin melepaskan gairah yang sudah ditahannya selama ini, meski ini sedikit diluar rencana.


Rencana awalnya dia ingin mengajak Ayunda jalan jalan lebih dulu sepanjang siang untuk menikmati pemandangan dikepulauan Seribu ini lalu mengajak gadis itu untuk makan siang yang enak juga makan malam romantis serta memberinya hadiah yang sudah disiapkannya untuk gadis itu setelah melakukan makan malam romantis yang tempatnya sudah dipesannya sebelumnya


baru setelah itu dia akan mengajak Ayunda untuk bercinta.


Tapi dia sudah hampir tidak bisa menahan diri sejak melihat Ayunda hanya mengenakan hotpant dan kaos yang melekat dibadannya tadi.


Puas dengan mempermainkan salah satu titik sensitif gadis itu yang sudah membuat Ayunda beberapa kali mengeluarkan era*annya Iman menurunkan ciumannya keleher jenjang istri kecil nya dengan sesekali meninggalkan jejak kepemilikannya dengan bebas tidak menahannya lagi seperti malam malam sebelumnya karena tidak ingin Ayunda malu kalau ada yang melihat tanda merah dibagian lehernya.


Sementara bibirnya sibuk berwisata di tubuh bagian atas kedua tangannya memilih bergerilya ditempat yang masih tertutup kain yang sebenarnya ingin ditarik paksa oleh Iman agar tidak ada lagi yang menghalangi mata bibir juga tangannya untuk menikmati ciptaan Tuhan yang diberikan padanya melalui jalur sah.


"Bang...",er*ang Ayunda lagi dengan tatapan sayu dan nafas memburu karena gairah menatap kearah Iman yang juga mengalami hal yang sama bedanya kesadaran Iman masih tersisa beberapa persen saat itu karena dia masih bisa meminta persetujuan Ayunda saat ingin melepaskan pakaian yang dipakai gadis itu.


"Yun bajunya dilepas..",pintanya yang diangguki oleh Ayunda dengan anggukan setengah sadar.

__ADS_1


Hanya berselang dalam hitungan detik setelah mendapat persetujuan Ayunda baju yang dipakai gadis itu sudah menghilang semua hanya menyisakan segitiganya saja yang sengaja disisakan Iman karena kalau sampai itu juga dilepaskannya Iman khawatir saat itu juga dia akan langsung menerkam Ayunda dan dia tidak berniat melakukannya. Dia ingin percintaan pertama mereka ini menjadi pengalaman paling berkesan bagi mereka berdua yang akan membuat hubungan pernikahan mereka semakin mesra dan harmonis kedepannya nanti itulah kenapa dia masih terus menahan diri selama ini meski mereka sudah tinggal bersama dan tidur diatas ranjang yang sama tapi Iman sengaja masih membatasi dirinya untuk tidak meminta haknya sebagai seorang suami pada gadis itu meski Ayunda tidak menolaknya atau lebih tepatnya tidak bisa menolaknya karena Iman selalu bisa membuainya selama ini.


__ADS_2