Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
82. Ketemu Demit


__ADS_3

Pletak!


Lagi lagi Widia menjitak kepala Sabrin saat mendengar apa yang dikatakan pemuda itu.


"Lo ngomong apaan sih Brin! siang bolong kaya gini ada setan, ngaco lo," gerutu Widia kesal.


"Be..benar kak ada setan Bos....Iman. didepan tadi ...,"ucapnya dengan wajah ketakutan yang tidak pura pura.


Reflek Ayunda dan Widia saling pandang mendengar itu dan hampir saja ketawa tapi mereka tahan karena tidak tega melihat ekspresi Sabrin saat itu.


"Yun liat sana gih benar ada setan laki Lo nggak diluar,kalau ada tangkap aja Yun jangan dilepasin lalu kita kurung dalam kandang ayam yang ada dibelakang rumah kos kita nanti.Lalu kita kasih mantra supaya nggak bisa kabur lagi selamanya dari dekat Lo," celetuk Widia yang diangguki oleh Ayunda.


"Brin ambil karung tu dipojokan buat kupakai nangkap setan nya Bang Iman biar aku bisa ngasih perhitungan ama dia, masa jadi setan sampai 5 tahun nggak nemu juga jalan pulang nya kerumah kebangetan banget," Ayunda mengatakan itu dengan berjalan kedepan diikuti Sabrin dari samping masih dengan menggenggam lengannya yang berusaha ditepis Ayunda tapi pemuda itu menolaknya jadi dengan terpaksa mereka keluar dengan bergandengan.


Begitu sampai diluar Ayunda langsung mengedarkan pandangannya keseluruh area kantin yang masih sepi hanya ada beberapa orang yang seperti Mahasiswa juga Dosen yang membeli sarapan disana tapi tidak melihat orang yang dikatakan Sabrin mirip Iman tadi.


"Mana Brin? Nggak ada kamu ngaco kan!," ucap Ayunda kesal dengan menyentak tangan Sabrin dari lengannya.


"Tadi ada kok Kak beneran sumpah demi Allah aku lihat dia berdiri disitu," tunjuk Sabrin ketempat yang dimaksud yang saat itu kosong.


"Nggak ada,jangan macam macam deh Brin kalau memang dia Bang Iman dia bakalan nyamperin kamu atau Bang Fahri tapi buktinya nggak ada kan? berarti dia bukan Bang Iman dan kalau dia hantu Bang Iman bukan Lo yang ditemuinya tapi aku," Sabrin menggeleng masih tidak terima dibilang dia salah lihat tadi tapi sekarang ditempat yang ditunjuknya itu memang kosong.


"Ya udah aku mau kebelakang dulu kamu disini aja nunggu kalau tu setan balik lagi.


Tapi belum sempat Ayunda berbalik tiba tiba ada yang datang menegurnya.


"Bu ..Eh..mbak cantik to yang jualan,pesan nasi campur nya 2 sama teh panasnya 2 gelas ya nggak usah terlalu manis soalnya yang jualan sudah manis banget takut diabetes aku nanti,"

__ADS_1


"Ehem! Pak Bayu selamat pagi," reflek pria berusia diawal 40 tahun dengan pakaian rapi itu menoleh kearah Sabrin.


"Kamu! Ngapain kamu disini?!," tanyanya dengan nada tidak suka pada Sabrin.


"Ini Kakak saya pak saya bantu bantu disini juga jaga jaga kalau ada yang mengganggu kakak saya yang cantik kaya bidadari ini nanti," jawabnya dengan tersenyum sopan dipaksakan oleh Sabrin membuat Ayunda geleng geleng kepala.


"dimakan disini apa dibungkus pak?," tanyanya sopan.


"Oh satu dimakan disini dan satu dibungkus aja Mbak...siapa namanya?," tanyanya dengan tersenyum semanis mungkin pada Ayunda.


"Ayunda pak," jawab Ayunda ramah.


"Bapak belinya banyak banget buat siapa satunya pak?Buat istri atau anak Bapak dirumah ya atau anak Bapak yang SD itu ikut Bapak keKampus hari ini?," tanya Sabrin dengan sengaja yang membuat wajah pria yang dipanggil pak Bayu oleh Sabrin itu berubah kesal.


"Kamu!," Pria itu menunjuk kearah Sabrin berniat memaki tapi batal saat mendengar Ayunda bicara.


"Maaf pak adik saya memang orangnya ceplas ceplos kalau ngomong,ini pesanan Bapak dan ini yang dibungkus sudah saya pisah sayurnya sama sambelnya," terang Ayunda dengan tersenyum seramah mungkin pada pria itu


"Dicampur juga nggak papa Yun."


Sabrin reflek menoleh mendengar pak Bayu memanggil Ayunda dengan akrab seperti itu dan berniat menegur tapi lagi lagi urung waktu melihat tatapan Ayunda yang menyuruhnya membiarkan saja.


"Takut nggak enak lagi kalau mau dimakan nanti," terang Ayunda dengan suara ramah.


"Ini langsung dimakan juga sama yang punya nanti dikantor paling soalnya tadi dia yang ngajakin aku kesini,pas aku sampai dia malah keluar bilang ada urusan dan minta aku mesankan buatnya," terang pria itu dengan menyendok makanan kemulutnya.


"Oh tadi sebelum Bapak ada temen Bapak kesini mau pesen ya,tapi nggak jadi karena kami nggak dengar begitu?."

__ADS_1


"Kayanya sih,soalnya dia dosen baru disini baru mulai ngajar hari ini jadi belum kenal siapa siapa."


"Oh begitu kalau begitu bilang sama teman Bapak maaf ya tadi kami nggak ada yang dengar waktu dia manggil mau beli karena ini juga hari pertama kami buka," terang Ayunda.


"Oh pantes...Aku tadi agak kaget waktu yang keluar bidadari surga, sebelumnya kan yang jualan disini Bu Minah," terang pria itu sambil terus mengunyah makan dimulutnya.


"Kami mengganti tempat beliau pak,silahkan dinikmati makanannya saya mau kebelakang dulu," ucap Ayunda berniat meninggalkan pria itu tapi sedikit tertahan saat mendengar perkataan terakhir pria bernama Bayu itu.


"Dik Ayunda lain kali jangan manggil Bapak lagi ya panggil Mas aja supaya enak didengar soalnya aku belum tua masih pantas kok jadi pendamping mu."


"Ehem! Ehem! Tapi kakak saya sudah punya pendamping sendiri pak," celetuk Sabrin dengan tatapan tidak suka pada pria itu.


"Maksudnya.."


" Nggak usah didengarkan Mas adek saya memang begitu,silahkan mas lanjutkan makannya saya masih banyak kerjaan dibelakang dan kamu Brin sana keKampus sekarang nanti terlambat kalau kamu terlambat dan nggak lulus aku cabut biaya kuliah kamu," ancam Ayunda lirih ditelinga Sabrin yang membuat Sabrin langsung berjalan menjauh.


"Kak aku pamit dulu Assalamualaikum," pamitnya lalu kabur dari hadapan Ayunda.


"Saya tinggal kebelakang dulu Mas," Ayunda juga berpamitan dengan pria itu dan sampai didalam dia langsung mengambil air es dari kulkas lalu meminum langsung dari botolnya membuat Widia heran melihat nya.


"Kenapa Lo?Beneran habis liat setan?," tegurnya yang dijawab gelengan oleh Ayunda.


"Bukan setan tapi dedemit Gendruwo," balasnya dengan kesal.


"Hah Serius Lo?!."


"Kalau nggak percaya periksa aja kedepan dan gue mau tetap dibelakang sampai tu orang pergi. Lo yang harus hadapi dia," pinta Ayunda yang dibalas cebikan oleh Widia tapi tidak menolak untuk kedepan melayani pembeli yang tadi dikatakan Ayunda dan begitu melihat orang yang dimaksud, Widia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ini memang dedemit hidup,pantes aja Ayunda kabur," gumamnya lalu mulai melayani pembeli saat ada lagi yang membeli ditempat mereka.


__ADS_2