Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
23.Setuju Tinggal Bersama.


__ADS_3

Bruk!


" Auwww!!".


"Sakit ya?",celetuk Iman saat melihat Ayunda jatuh terjerembab didepan pintu kamar karena kakinya tersandung tepi pintu saat dia berniat mengajak Ayunda kekamar tanpa lebih dulu melepas ciuman mereka.


"I..iya",jawab Ayunda dengan meringis karena merasa kakinya yang baru saja terbentur teras sangat ngilu dan perih..


"Coba gue periksa",ucap Iman dengan berjongkok dihadapan Ayunda dan terkejut karena ternyata tumit perempuan itu berdarah.sepertinya akibat tersangkut paku yang berada dibagian bawah pintu kamar rumah kontrakan itu.


"Ini berdarah dan kayanya karena paku itu deh",terang Iman merasa bersalah dengan membantu Ayunda bangun lalu membawanya keranjang yang ada didalam kamar.


"Nggak papa aja Bang nanti juga sembuh sendiri",jawab Ayunda dengan memeriksa lukanya yang terlihat cukup dalam.


"Nggak bisa begitu harus diobati supaya nggak infeksi Nanti Yun",balas Iman.


"Tapi kan nggak ada obat disini bang".


"Lo tunggu disini gue belikan sebentar ke Apotik dekat sini".


Ayunda hanya bisa mengangguk mendengar perintah Iman dan tidak menyangka ternyata pria itu perhatian padanya sampai kehal sekecil itu.


Tak berapa lama Iman kembali dengan membawa alkohol pembersih luka dan plester luka juga kapas.


"Sini gue bersihkan lukanya",ucapnya dengan berjongkok didepan Ayunda membuat Ayunda merasa malu karenanya dan bermaksud menolaknya dengan menarik kakinya yang dipegang Iman.


"Nggak usah bang.Aku bisa sendiri toh ini juga cuma luka kecil".


"Nggak papa gue yang bikin Lo terluka karena itu gue harus bertanggung jawab sekarang",balas Iman dengan mulai membersihkan luka Ayunda meski Ayunda sudah berusaha menolaknya.


"Aku kan cuma tergores paku masa Abang juga harus bertanggung jawab",celetuk Ayunda dengan menarik kakinya yang sudah selesai dipasang plester oleh Iman.


"Jadi Lo maunya gue tanggung jawab buat masalah besar aja",balas Iman dengan ikut duduk ditepi tempat tidur disamping Ayunda.


"Iya kan harusnya memang begitu".


"Lalu apa yang besar itu?",tanya Iman dengan menatap Ayunda

__ADS_1


''Misalnya tempat untuk tinggal nafkah istri lalu...".


"Kan udah, tapi gue nggak setuju prinsip pernikahan kaya gitu",potong Iman dengan menyandarkan kepalanya kebahu Ayunda.


"Kok! kenapa?", tanya Ayunda.


"Hal besar itu wajib tapi bukan yang paling penting percayalah saat kita memutuskan menikah terutama seorang pria dia bukan hanya harus bisa memberi Lo nafkah lahir atau batin tapi harus bisa lebih dari itu dan Lo tau nafkah lahir bukan hanya berupa uang belanja tempat tinggal melainkan juga memperhatikan istri dari hal yang penting sampai ke hal yang nggak penting menurut seorang pria tapi semua hal itu gue yakin membuat hubungan antara seorang perempuan dan pria bisa disebut pasangan".


"Abang ngomongnya lancar amat pernah bercinta cita jadi ustad dulu?",celetuk Ayunda yang membuat Iman menarik ujung hidung perempuan itu.


"Pernah percaya nggak?",balas Iman yang membuat Ayunda mengangguk.


"Lo percaya? Kok?!",tanya Iman tidak percaya dengan jawaban Ayunda.


"Kan cuma cita cita belum tentu benar benar bisa terwujud.Masa ada dari kita waktu kecil bercinta cita mau jadi penjahat pengemis koruptor kan nggak ada pasti cita cintanya mau jadi guru polisi dokter.Tqpi itu cuma cita cita belum tentu bisa terwujud",terang Ayunda yang membuat Iman tertawa lebar mendengarnya.


"Ternyata Lo cerdas ya?".


"Memang iya hanya kurang beruntung",balas Ayunda dengan sendu.


"Kenapa bisa kurang beruntung?".


"Itu tetap beruntung karena standar beruntung setiap orang itu berbeda",jelas Iman dengan menyentuh pipi Ayunda penuh perasaan.


"Lalu apa Abang merasa beruntung dengan kehidupan Abang sekarang?",tanya Ayunda yang langsung dijawab anggukan oleh Iman.


"Iya terutama setelah ketemu kamu".


"Ih gombal",ucap Ayunda dengan wajah memerah.


"Nggak aku serius kok dan menurutku kamu juga perempuan yang beruntung meski nggak bisa kuliah kaya keinginanmu tadi".


"Kok bisa?!".


"Karena aku pernah melihat perempuan yang sangat nggak beruntung itu meski dia hidup tidak kekurangan tapi batinnya nggak pernah tau apa itu bahagia".


"Omongan Abang kok dalam banget hari ini dan Abang juga jadi banyak ngomong sama aku kenapa?".

__ADS_1


"Karena kita suami istri".


Ayunda langsung terdiam dengan menatap kearah Adam.


"Mungkin saat pertama gue nikahin Lo,Lo pasti nggak percaya kalau gue serius Ama Lo. Sejujurnya gue juga nggak percaya kalau gue ngelakuin itu sama perempuan yang baru beberapa menit gue temui,tapi mungkin itu yang namanya rahasia jodoh dan Lo tau sejak itu meski gue belum bisa menuhin kewajiban gue sama Lo tapi gue tetep menganggap pernikahan yang kita jalani ini serius bukan sekedar main main.Lalu bagaimana dengan Lo ?",tanya Iman serius menatap kearah Ayunda.


"Ya...",jawab Ayunda.


"Maksud ya, apa?", tanya Iman.


"Serius sama kaya Abang meski Abang masih kata makhluk halus selama ini".


"Makhluk halus?Dasar terlalu",celetuk Iman dengan mencubit pipi Ayunda cukup keras hingga membuat Ayunda meringis.


"Abang sakit!",teriaknya kesal.


"Rasain salahnya berani sekali bilang suami sendiri makhluk halus".


"Salah Abang juga kaya jelangkung selama ini!",balas Ayunda lagi


"Beraninya kamu memberiku banyak julukan!".


"Kan emang benar.Apa Abang nggak merasa kaya gitu selama ini?".


Iman menggeleng" Kan udah ku kasih alasannya".


"Itu baru hari ini lalu yang sebelumnya?".


"Mengerjakan sesuatu yang penting makanya kalau mau kita saling kenal lebih dekat Lo harus setuju tinggal sama gue mulai sekarang bagaimana?".


"Ya udah ",jawab Ayunda.


"Maksudnya Iya Lo setuju?",tegas Iman yang dibalas anggukan oleh Ayunda.


"Ya....".


"Yes berhasil",celetuk Iman dengan reflek memeluk tubuh Ayunda membuat Ayunda terkejut dengan reaksi Iman mendengar persetujuannya bersedia tinggal bersama pria itu.

__ADS_1


Maaf hari ini kemaleman Upnya ya πŸ™πŸ™


__ADS_2