Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
95. Berniat Bicara Dengan Sabrin.


__ADS_3

"Maksud Kakak,lupa bagaimana?" Sabrin terdengar bingung, mendengar apa yang baru saja dikatakan Ayunda padanya.


Ayunda menoleh kearah Sabrin,lalu mengajak pemuda itu duduk,setelah mereka berdua duduk dikursi plastik yang ada disana.Ayunda mengambil kartu nama yang ada ditangan Sabrin, memeriksa nomor ponsel Iman yang tertulis disana,sudah berubah,bukan nomor ponsel yang dulu dan itu semakin menguatkan keyakinannya kalau Iman memang sudah melupakannya dan harapannya bersama pria itu seolah sudah pupus sekarang.


Selain itu kartu nama itu diberikan Iman untuk Sabrin, bukan untuknya.


Jadi apa lagi yang diharapkannya pada pria yang dulu, sampai detik ini masih mengisi hatinya itu, melupakan, ya itu yang harus dilakukannya,sama dengan yang dilakukan pria itu padanya.


Ayunda mengembalikan lagi kartu nama milik Iman, yang tadi diambilnya dari tangan Sabrin.


Lalu menatap Sabrin dengan senyum pasrah.


"Dia nggak ingat aku lagi Brin," jawabnya berusaha tetap berekspresi biasa, meski hatinya terasa sangat nyeri waktu mengatakannya.


"Kakak serius?! Tapi bagaimana bisa? Kalau lupa padaku atau kak Widia,itu mungkin, tapi dengan kak Ayunda.Aku rasa itu nggak mungkin,kecuali sesuatu sudah terjadi sama Bos Iman kak.Aku lebih lama bersama Bos Iman dan aku tau bagaimana sikapnya,baik itu berkaitan dengan kelompok yang dipimpinnya,dengan aku juga Bang Fahri.Jadi rasanya nggak mungkin dia melupakan kakak tanpa sebab.Apalagi baru muncul setelah bertahun tahun."


"Tapi itu kenyataannya Brin,meski tidak mau, aku tetap harus menerimanya," jelas Ayunda, berusaha membuat Sabrin mengerti dan mau menerima kalau Iman, memang bukan Iman yang dulu lagi, sekarang.


"Pokoknya aku nggak percaya! Aku akan tanya langsung sama Bos Iman,apa benar dia sudah lupa sama kita semua dan kalau benar,apa alasannya.Dia nggak bisa melupakan kita semua begitu aja Kak."


Setelah mengatakan itu, Sabrin bangun dari duduknya, Ayunda hanya melihat saja, saat pria muda itu berjalan keluar dengan langkah lebar meninggalkannya.


Sampai didepan Sabrin berpapasan dengan Widia, yang langsung ditegur oleh perempuan itu.


"Kemana lo?" tanya Widia heran melihat ekspresi Sabrin yang terlihat muram, saat itu.


"Mau ketemu Bos Iman," terangnya dengan melangkah pergi,tapi sebelum dia menjauh Widia buru buru mencekal lengannya, untuk mencegah langkahnya.


"Tunggu! Emang lo, udah ketemu Iman tadi?" tanyanya,yang diangguki oleh Sabrin.


"Dimana?" tanyanya penasaran.


"Nggak sengaja waktu dilorong Kampus," terang Sabrin.

__ADS_1


Mendengar itu Widia semakin penasaran dan sengaja mencekal tangan Sabrin kuat.


"Dia ngomong apa? Lalu, lo udah kasih tau Ayunda belum?" tanya Widia yang dijawab anggukan oleh Sabrin.


"Udah,tapi... kak Ayunda nggak mau,karenanya aku aja yang cari tau sendiri, kenapa Bos Iman sikapnya berubah."


Widia tercenung mendengar perkataan Sabrin, ternyata bukan hanya perasaannya saja kalau sikap Iman memang aneh, karena nggak bisa mengenali mereka, terutama Ayunda istrinya sendiri.


"Ya udah kak Wid, aku balik dulu.Aku masih ada kuliah satu pak hari ini,setelah itu baru aku mau ketemu Bos Iman," terang Sabrin, yang diangguki oleh Widia.


Setelah Sabrin pergi Widia berjalan masuk kebelakang, berniat menemui Ayunda dan bertanya.Tapi rencananya gagal begitu mendengar perkataan yang diucapkan Ayunda, saat tau ada dirinya.


"Jangan menanyakan apapun yang berkaitan dengan Bang Iman, karena gue nggak berniat membahas masalah itu lagi hari ini."


Mendengar itu, Widia mengedikkan bahu, lalu berjalan keluar dari dapur, memilih membiarkan Ayunda sendiri dibelakang, yang sedang pura pura sibuk.


***


Iman baru saja keluar dari kelas terakhir mengajarnya hari ini,saat sebuah pesan masuk keponselnya.


Setelah membaca pesan yang dikirim Sabrin,Iman langsung membalasnya.


"Bisa, dimana kamu sekarang?" balasnya, pada Sabrin.


"Saya dibengkel yang berada didepan Kampus kita, bisa Bapak menemui saya disana. Soalnya, saya sekarang sedang bekerja," balas pemuda itu lagi, yang langsung dibalas lagi oleh Iman.


"Baik, nanti aku menemui mu disana, setelah urusanku diKampus selesai."


"Baik pak."


Lalu berbalas pesan mereka berakhir dan Iman kembali meletakkan ponselnya didalam saku celananya lagi.


Karena tugas mengajarnya hari itu sudah selesai,sampai diruang dosen dia menuju mejanya untuk membereskan sisa pekerjaannya terlebih dulu.Sekitar 1 jam kemudian,setelah dirasa semua apa yang harus dikerjakannya hari ini selesai, Iman mengambil tas kerjanya,berdiri, lalu berjalan keluar dari ruangan dosen.

__ADS_1


Di depan pintu dia berpapasan dengan dosen Bayu, yang menyapanya sebagai basa basi dan dibalasnya, lalu dia berjalan pergi meninggalkan ruang dosen, menuju area parkir.


Sampai disana dia sudah akan masuk kedalam mobilnya, untuk pergi menemui pemuda bernama Sabrin saat ponselnya tiba tiba berdering.


Masuk kedalam mobil, menutup pintu,lalu memeriksa siapa yang menghubunginya saat itu.


Iman berniat meletakkan ponselnya begitu saja, melihat nama dosen Rianti dilayar ponselnya, tapi sebelum dia melakukannya ponselnya kembali berdering, membuatnya memaki kesal dan terpaksa menjawab panggilan itu.


"Ya Bu Rianti, ada apa?" tanyanya, dengan nada ketus yang pasti bisa didengar jelas dari seberang telpon oleh perempuan itu.


"Pak Sulaiman, maaf sudah mengganggu Bapak," ucap perempuan itu diseberang telpon.


"Katakan saja ada apa? Karena sekarang saya sedang terburu buru," jawab Iman, tidak merubah nada suaranya.


"Saya ingin minta tolong sama Bapak buat ikut pulang, bisa nggak pak.Soalnya ojek langganan saya sekarang nggak bisa njemput ,karena..."


"Kali ini nggak bisa Bu, karena saya punya urusan penting yang harus saya lakukan.Sebaiknya ibu naik taksi aja hari ini, buat ongkosnya biar nanti saya ganti, kalau ibu merasa kemahalan."


Setelah mengatakan itu kepada dosen Rianti, Iman langsung mematikan panggilan mereka dan tidak perduli kalau perempuan itu menjadi kesal nanti.


Iman meletakkan ponselnya,dengan sebelumnya sengaja memasang mode senyap tidak ingin diganggu,baru setelah itu menghidupkan mesin mobilnya,lalu melajukannya meninggalkan tempat parkir, dibawah tatapan marah dari seorang perempuan yang beberapa menit lalu ditolaknya.


"Dasar pria brengsek!" makinya geram, karena selalu saja diabaikan oleh Iman, meski dia sudah secara terang terangan menunjukan ketertarikannya pada pria itu.


"Memaki nggak bisa buat pak Sulaiman memutar balikkan mobilnya Bu Rianti, dari pada kesal seperti itu, lebih baik ayo ikut saya main," dosen Rianti langsung menoleh mendengar perkataan dosen Bayu.


"Main? Main apa, maksud pak Bayu?" tanyanya merasa curiga.


"Main, main biasa, buat menghilangkan stres, karena masalah hidup dan pekerjaan, yang menumpuk. Bu Rianti mau nggak? Dijamin setelahnya ibu nggak kesal kaya gini lagi."


Dosen Bayu mengatakannya dengan sengaja mengedipkan sebelah matanya, membuat dosen Rianti bergidik dibuatnya.


"Nggak, saya mau pulang aja, sampai jumpa besok pak Bayu." Lalu dia melambai dan meninggalkan dosen Bayu, yang membalas lambaian dosen Rianti dengan tersenyum licik melihat kepergian perempuan itu.

__ADS_1


"Sok jual mahal," gumamnya lalu melangkah pergi menuju mobilnya.


__ADS_2