
"Yyu...Yun!"
Ayunda yang sedang menghidupkan kompor untuk masak air panas terkejut mendengar panggilan Widia yang menampilkan wajah gugup dihadapannya.
"Apa Wid? Kenapa ekspresi Lo seperti baru aja lihat hantu," canda Ayunda yang tidak digubris oleh Widia, tapi tiba tiba menarik tangan perempuan itu supaya mengikutinya kedepan.
"Wid gue sibuk.Apaan sih Lo kok...."
"Tu,dia ada disana Yun nunggu Lo," ucap Widia dengan menunjuk kearah Iman yang saat itu sedang duduk disalah satu kursi dekat gerai jualan mereka.
Ayunda mengikuti arah telunjuk Widia dan reflek langsung menutup mulutnya dengan tangan saat melihat siapa yang sedang ditunjuk oleh Widia saat itu.
"Wid...dia... beneran itu dia?"
Ayunda seolah masih tidak percaya pada apa yang dilihatnya saat itu, tapi tidak bertahan lama karena Widia sudah mendorong tubuh Ayunda supaya segera menghampiri Iman yang saat itu sedang duduk sambil bermain dengan ponselnya.
"Samperin sekarang jangan ragu" perintah Widia yang membuat Ayunda terpaksa berjalan mendekat kearah Iman dengan berusaha mengatur ekspresi nya sebiasa mungkin meski saat itu dia merasa sangat gugup bahkan dia merasa hampir tidak seperti menginjak lantai yang dipijaknya saat itu.
Ayunda menghampiri pria yang tidak pernah hilang dari pikirannya selama hampir 5 tahun ini, setelah sampai dihadapan Iman Ayunda hanya berdiri diam sampai pria itu mendongak kearahnya karena merasakan kehadirannya.
"Oh, maaf tadi aku nggak tau kamu sudah datang," ucapnya dengan tersenyum ramah kearah Ayunda yang dibalasnya dengan diam tidak bergeming.
Melihat ekspresi yang ditunjukan Ayunda saat itu,Iman berpikir kalau perempuan cantik dengan kerudung warna hitam dihadapannya itu pasti masih marah karena kejadian yang terjadi seminggu yang lalu ditempat itu dengannya.
"Aku nggak akan lama kok ngganggu waktu Mbak...."
__ADS_1
"Ayunda," ucap Ayunda yang membuat Iman langsung kembali tersenyum pada perempuan cantik itu yang masih saja berekspresi digin padanya saat itu.
"Ya Mbak Ayunda," ralatnya.
"Cuma Ayunda aja," ralat Ayunda yang membuat Iman jadi merasa tidak nyaman karena sepertinya perempuan muda dihadapannya terganggu dengan embel embel panggilan yang dipakainya barusan.
"Oh baik, hanya Ayunda karena kamu pasti lebih muda beberapa tahun dari aku kan," ucapnya dengan kembali tersenyum kearah Ayunda yang membuat perasaan Ayunda semakin sakit melihat itu sampai dia harus mengepalkan kedua tangannya sebagai penguat dirinya saat itu.
"Bisa kamu duduk sebentar ada yang mau aku bicarakan denganmu Yun," pinta Iman yang masih diam tidak bereaksi mendengar apa yang baru saja diminta pria itu karena masih merasa syok saat itu.
"Yun,apa kamu keberatan untuk bicara denganku meski hanya sebentar.Aku janji nggak akan lama mengganggu waktumu jadi .."
"Baik," jawab Ayunda akhirnya memutuskan duduk dihadapan Iman karena dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menopang berat badannya saat itu.
"Em...begini Yun sebenarnya...." Iman sengaja bicara pelan dengan menelisik ekspresi Ayunda,karena takut kalau dia salah bicara Ayunda akan langsung pergi dari hadapannya seperti waktu itu.
"Katakan aja Abang mau ngomong apa sekarang jangan berbelit belit kaya gini! " ucap Ayunda berusaha menguatkan hatinya yang cemas supaya sanggup mendengar apa yang akan disampaikan pria dihadapannya itu.
Iman langsung mengerutkan keningnya setelah mendengar panggilan yang disematkan Ayunda untuknya karena panggilan itu terasa familiar ditelinganya.
"Abang?" celetuk Iman tiba tiba membuat Ayunda langsung menatap kearah Iman karena merasa aneh dengan celetukan pria itu.
"Oh... apa aku salah?" tanyanya balik Ayunda yang dibalas gelengan oleh Iman.
" Nggak aku suka kok, karena usia kita kan memang jauh berbeda.Aku hanya merasa sedikit asing dengan panggilan barusan ," terangnya dengan tersenyum lembut kearah Ayunda yang masih berekspresi seperti semula.
__ADS_1
"Oh iya, sebenarnya aku menemuimu karena aku ingin minta maaf padamu Yun atas..."
"Lupakan saja!" ucap Ayunda tiba tiba membuat Iman heran dan berpikir kalau Perempuan muda dihadapannya ini pasti masih merasa sangat marah karena itu nada suara dan sikapnya sedikit sarkas padanya sekarang, tapi itu tidak membuat dia mundur untuk meninta maaf pada perempuan muda itu sekarang.
"Tapi aku nggak bisa melupakannya Yun karena itu aku.."
" Kalau begitu kenapa Abang nggak datang menemuiku dari dulu kalau memang nggak bisa melupakan dan malah membuat aku terus menunggu Abang selama ini seperti orang gila?! Apa Abang memang suka melakukan itu! Abang tau Abang sangat kejam pada ku!!! Jadi sebaiknya lupakan saja semuanya karena...."
"Maaf tapi aku nggak bisa Yun karena apa yang terjadi waktu itu sampai sekarang masih mengganggu pikiranku dan membuat aku merasa sangat bersalah padamu jadi aku sengaja datang sekarang untuk minta maaf padamu atas apa yang terjadi hari itu."
"Aku bilang lupakan!! Toh itu sudah lama, anggap aja kita nggak pernah saling kenal seperti yang Abang lakukan selama ini padaku!!!" teriaknya cukup keras saat mengatakannya membuat Iman semakin merasa bersalah pada perempuan muda dihadapannya itu sekarang.
"Yun....Aku tau apa yang dikatakan Bu Rianti padamu seminggu yang lalu itu memang keterlaluan dan wajar saja kalau kamu masih marah sampai sekarang.Sebenarnya aku berniat menemui mu dari sejak Minggu lalu tapi tiba tiba aku harus mengikuti Workshop selama seminggu ke Surabaya lalu kemarin aku baru kembali kemari, jadi pagi ini aku sengaja datang kesini untuk meminta maaf secara pribadi padamu karena masalah itu tapi sepertinya kamu.."
"Abang sedang ngomongin apa?" tanya Ayunda tiba tiba dengan wajah berubah bingung menatap kearah Iman yang tak kalah bingungnya saat itu.
"Soal masalah dengan dosen Rianti," jelasnya.
"Kenapa masalah itu? Bukannya seharusnya Abang menjelaskan kenapa Abang baru menemuiku sekarang setelah selama ini pergi tanpa khabar."
"Aku baru saja bilang kalau selama seminggu ini aku harus pergi Workshop ke..."
" Bukan itu?! Apa Abang nggak ingat sama aku?!" tanyanya dengan menunjuk kearah dirinya dan menatap Iman tajam dengan mata mulai berkaca kaca yang membuat ekspresi Iman semakin bingung saat itu karena mulai merasa pembicaraan mereka berdua ini sepertinya bukan sedang membahas masalah yang sama.
"Sepertinya kita berdua sekarang sedang bicara masalah yang berbeda , benar begitu bukan Yun."
__ADS_1
perlahan Ayunda menurunkan jarinya yang baru saja menunjuk kearah wajahnya lalu menyapu air mata yang sudah mengalir dipipinya saat itu.
"Abang berubah.Abang sudah lupa denganku kan?" ucapnya lalu tiba tiba berdiri dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Iman yang terdiam ditempatnya dengan dada terasa nyeri mendengar kalimat terakhir yang baru saja dikatakan Ayunda.