Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
96. Mencoba Mencari Tau.


__ADS_3

Iman sengaja menghentikan mobilnya didekat warung, yang letaknya sedikit jauh dari bengkel yang dikatakan Sabrin padanya, dipesan.


Dia turun lalu berjalan kearah warung sederhana itu, berniat bertanya dengan alasan membeli rokok pada sipenjual.Bukannya dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sabrin, padanya, hanya saja semenjak dia bertemu dengan mereka semua, dia merasa perasaan yang aneh, mereka semua seolah sudah mengenal dirinya, sementara dia sama sekali tidak ingat pada mereka.


Lalu alasannya berhenti diwarung dekat bengkel yang disebutkan Sabrin, karena warung itu terlihat sudah cukup lama berdiri, dia berpikir, mungkin saja selain mereka ada orang lain juga yang mengenalnya disini. Dia ingin mencari tau tentang masalalu yang sudah dilupakannya dulu, dari berbagai sumber.


"Permisi Bu," Seorang perempuan bertubuh berisi berusia diatas 40 tahun keluar dari dalam warung dan berjalan mendekat kearahnya.


"Iya Mas," jawabnya, dengan mengamati penampilan Iman, saat itu, terlihat sekali kalau dia bekerja diKampus yang berada tidak jauh dari warung miliknya.Apalagi saat dia melihat keluar, dilihatnya sebuah mobil terparkir tidak jauh dari warung miliknya, yang diyakininya pasti milik pria dihadapannya itu.


"Beli rokoknya sebungkus, Bu," pinta Iman, dengan menyebutkan merek rokok yang ingin dibelinya.


"Ini rokoknya, harganya 30 ribu Mas," Iman lalu mengeluarkan uang sejumlah yang disebutkan pemilik warung dan memberikannya pada yang bersangkutan.


"Ini uangnya, korek ada Bu?" tanyanya sengaja berusaha mengulur waktu, dengan berniat menyalakan rokok yang baru dibelinya, untuk memancing pembicaraan, dengan perempuan pemilik warung itu.


"Ini, Masnya kerja diKampus itu ya?" tanya sipemilik warung dengan menyerahkan korek yang diminta Iman, yang langsung digunakan Iman untuk menghidupi rokok ditangannya, sebelum menjawab pertanyaan dari sipemilik warung.


"Iya, baru sekitar satu bulan," terangnya dengan mengembalikan korek yang tadi dipinjamnya, lalu menghisap rokok ditangannya, sebelum berniat mulai bertanya tentang orang orang yang berada dibengkel, yang akan ditujunya nanti.


"Didepan itu bengkel ya Bu?" tanyanya menunjuk kearah bengkel tempat Sabrin.


"Itu, iya, itu bengkel Mas, Masnya mau ngapain?" tanyanya, dengan kembali melihat mobil yang terparkir diluar warungnya.


"Mau tambah angin mobil saya, bisa nggak ya?" tanyanya.


"Bisa, tambal ban juga bisa, bahkan sekarang servis motor juga bisa," terang sipemilik warung, bicara seperti promisi.

__ADS_1


"Tapi saya nggak pakai motor Bu," balas Iman yang membuat si Ibu tersenyum meringis mendegarnya.


"Hehehe, Masnya benar," Iman ikut tersenyum supaya perempuan itu tidak merasa malu.


"Sudah lama warung ibu ini ada?" tanyanya, dengan pura pura mengamati warung milik perempuan bertubuh tambun itu.


"Sudah, bahkan lebih lama dari bengkel si Fahri itu, Mas," terangnya dengan menunjuk kearah bengkel yang akan Iman datangi.


"Oh, jadi pemiliknya, namanya Fahri?" tanya Iman, yang diangguki oleh pemilik warung itu.


"Iya sekarang, tapi dulu bukan Fahri Mas, si Fahri sama Sabrin itu cuma melanjutkan aja, karena suami pemilik bengkel itu mati, lima tahun yang lalu," cerita Ibu pemilik Warung dengan nada suara setengah berbisik, seolah dia khawatir akan ada yang mendengar apa yang baru saja dikatakannya tadi pada Iman.


Iman yang mendengar apa yang diceritakan sipemilik warung sedikit terkejut dan semakin penasaran, ingin mendengar kelanjutan cerita dari si pemilik warung, yang juga terlihat antusias menceritakan hal itu padanya, terutama dibagian pemilik bengkel yang dulu,yang tadi dikatakannya sudah meninggal yang membuat Iman terkejut dan tiba tiba perasaanya menjadi tidak nyaman.


"Meninggal? Kenapa?" tanyanya reflek, yang langsung diangguki oleh pemilik warung itu.


"Iya, udah lama Mas,sekitar 5 tahun yang lalu matinya dan sampai sekarang si Ayunda itu masih Janda.Nggak tau kenapa dia itu betah sekali menjanda, padahal kan jadi janda kan nggak enak meski peninggalan mantan suaminya cukup banyak, tapi udah 5 tahun kecuali sebenarnya...."


"Memangnya dulu siapa yang punya, Bu?"


Pemilik warung tercenung berusaha mengingat nama pemilik bengkel itu dulu, sebelum menjawab pertanyaan Iman.


"Kalau saya nggak salah ingat, namanya Iman,"


Deg!


Iman sedikit terkejut mendengar nya, meski dia yakini, dia bukan satu satunya pria bernama itu didunia yang luas ini.

__ADS_1


"Orangnya gagah,ganteng,kayak ...wajahnya kalau nggak salah mirip Masnya, cuma dia lebih hitam, tapi ganteng banget, sumpah Mas, pokoknya dia terkenal banget kok.Pelanggannya banyak sejak dia pertama kali membuka bengkel itu, dan sebagian besar perempuan Mas,"


Perasaan Iman semakin tidak karuan mendengar apa yang baru saja dikatakan ibu pemilik warung itu tentang pemilik bengkel yang dulu, membuatnya jadi berpikir apakah karena itu mereka semua bersikap aneh padanya waktu bertemu.


" Tapi ternyata umurnya nggak panjang, Mas, kasihan banget," wajah pemilik warung terlihat berubah muram begitu mengatakan itu, membuat Iman semakin penasaran ingin tau dan perlahan dia mulai paham, dengan keanehan sikap orang orang itu padanya.


"Ibu berarti, kenal sekali dengan, pemiliknya yang dulu, juga istrinya dan yang menggantikannya sekarang, kalau begitu?" tanya Iman, merasa semakin ingin tau semua orang yang berkaitan dengan bengkel itu.


"Iya,kenal sekali. Istri si Iman yang aku bilang sudah mati itu, sekarang dia, buka warung diKantin Kampus, Mas pasti pernah ketemu sama dia kan?" tanya si Ibu penuh selidik.


"Entahlah, saya kan baru disana dan..."


Iman belum sempat menyelesaikan ucapannya, sipemilik warung sudah buru buru memotongnya.


"Ayunda, nama istrinya Mas.Dia jualan diKantin Kampus, masih muda, juga cantik, meski sudah ditinggal mati suaminya selama 5 tahun dia masih betah sendiri,"


Ibu pemilik warung itu, terus saja bicara, menceritakan tentang perempuan bernama Ayunda yang diyakini Iman, sebagai Ayunda yang dikenalnya itu.


Membuat perasaannya semakin tidak nyaman mendengarnya, karena semakin lama cerita yang didengarnya semakin terdengar memojokkan si Ayunda, karena status nya yang seorang janda muda.


"Bu makasih rokoknya, saya permisi," lalu Iman pergi meninggalkan warung itu, naik kedalam mobilnya dan menjalankannya pergi kearah bengkel Sabrin, tujuan awalnya, untuk bertemu pemuda itu.


Karena ternyata mencari tau tentang mereka pada orang lain malah membuat perasaannya semakin tidak karuan.


Jarak warung dan bengkel hanya sekitar beberapa puluh meter, jadi sekejap Iman sudah sampai didepan bengkel.


Sampai disana dia sengaja memarkir mobilnya didepan bengkel supaya Sabrin melihat kedatangannya. Tapi ternyata begitu mobilnya berhenti, Pria muda itu langsung keluar dari dalam bengkel dengan pakaian kerjanya. Sepertinya dia tau kalau itu adalah dirinya, dilihat dari ekspresi wajahnya saat itu, meski dia belum membuat kaca jendela mobilnya setelah berhenti

__ADS_1


Setelah memarkirkan dengan benar, Iman mematikan mesin mobil, baru membuka pintu mobil, ternyata kedatangannya sudah sangat ditunggu oleh pria muda itu dan seorang pria berusia diatas 45 tahun yang terlihat sehat,yang diduga Iman dia pria bernama Fahri, pengelola bengkel itu.


"Bos," panggil Sabrin begitu dia menginjakkan kakinya turun kejalan aspal, yang langsung membuat dada Iman berdesir mendengar panggilan itu, tiba tiba kepalanya langsung berdenyut nyeri, membuat Iman harus mengernyit, untuk menahan sakit kepala yang tiba tiba dirasakannya saat itu.


__ADS_2