
Bruk!
Widia terkejut, waktu melihat Ayunda menabrak kursi plastik yang ada didekat pintu penghubung antara dapur dan depan.
"Yun,kok lo udah balik kemari? Emang udah kelar masalahnya?" tegur Widia heran dan semakin heran begitu melihat ekspresi wajah Ayunda saat itu yang muram,lalu tiba tiba memaki cukup keras.
"Dasar pria brengsek!" makinya penuh emosi,yang diyakini Widia makiannya itu ditujukannya pada Iman.Karena sebelum bicara dengan pria itu emosi Ayunda terlihat baik baik aja,lalu tiba tiba sekarang berubah muram dan marah.
Melihat perubahan Susana hati Ayunda,Widia berusaha bertanya
"Yun, sebenarnya ada apa? Kenapa lo jadi kesal seperti sekarang? Apa sudah terjadi sesuatu barusan?" tanyanya dengan mendekat kearah perempuan itu yang dibalas gelengan lemah,juga Isak tertahan, membuat Widia tidak meneruskan niatnya untuk bertanya tapi berusaha memberi ruang bagi Ayunda, untuk menata emosinya yang sedang buruk saat itu.
"Lo tenangin diri dulu,gue jaga didepan ya,nanti kalau lo udah tenang dan pengen cerita,lo panggil aja gue," ucap Widia yang dibalas anggukan oleh Ayunda.
Setelah mengatakan itu, Widia kedepan karena khawatir kalau ada yang beli jualan mereka, tapi begitu berada disana, dia terkejut karena ternyata Iman belum pergi dan begitu melihat dirinya, Iman langsung berjalan mendekatinya, lalu menegurnya dengan menyerahkan sebuah paperbag padanya.
"Ini oleh oleh dari Surabaya buat Ayunda, tolong bilang sama dia, aku minta maaf secara tulus untuk kejadian seminggu yang lalu dengan Bu Rianti disini waktu itu."
Widia menerima paperbag yang diulurkan Iman, lalu mengangguk.
Meski sejujurnya bingung dengan sikap pria itu yang terlihat tidak mengenalinya lagi sekarang ,membuat Widia berpikir,apakah itu karena mereka sudah lebih 5 tahun tidak pernah bertemu lagi kalau karena itu,dia merasa wajar,tapi dengan Ayunda .Kenapa sikap Iman sekarang seolah dirinya dan Ayunda bukan seperti pasangan.Ada apa dengan pria dihadapannya ini?.
Pikiran Widia terasa kusut, memikirkan perubahan sikap Iman yang terlihat sangat nyata itu dan mulai mengerti kenapa ekspresi Ayunda tadi kembali muram setelah bicara dengan Iman berdua.
Iman sudah hampir berbalik setelah memberikan paperbag berisi kerudung yang dibelinya waktu diSurabaya kemarin pada Widia, karena sepertinya perempuan bernama Ayunda itu tidak mungkin mau bicara lagi dengannya sekarang,terlihat dari sikap yang ditunjukan ya sebelum dia meninggalkannya tadi.
__ADS_1
Tapi sebelum dia melangkah tiba tiba lengannya ditahan oleh Widia,membuat Iman cukup terkejut dan hampir menepisnya, lalu diurungkannya begitu mendengar apa yang dikatakan Perempuan bernama Widia itu.
"Tunggu!"
Iman langsung menoleh kembali kearah Widia dengan ekspresi berusaha biasa,meski tidak suka saat perempuan itu mencekal lengannya.
"Ya,apa ada yang mau Mbak nya sampaikan?" tanyanya dengan nada sopan.
"Siapa nama Bapak?" tanya Widia, dengan menatap kearah Iman penasaran, khawatir kalau sebenarnya sekarang mereka sedang mengenali orang yang salah, karena itu sikap Iman terlihat aneh sejak pertama kali bertemu dengannya juga Ayunda.
"Oh...kita belum kenalan, meski sudah ngobrol cukup banyak" balasnya,dengan sengaja tersenyum ramah kearah Widia, yang dibalas anggukan oleh perempuan itu.
"Aku Sulaiman Yazid dosen disini," jawabnya, dengan berusaha menelisik ekspresi Widia saat itu.
"Oh,lalu kalau boleh tau, apa kita sebelumnya pernah bertemu?" tanya Widia lagi, dengan menatap lekat kearah Iman berusaha memastikan, apakah pria dihadapannya ini benar benar Iman, pria yang pernah menikahi Ayunda dulu atau bukan.
"E..bukan denganku,tapi dengan Ayunda.Apakah kalian pernah bertemu sebelumnya atau nggak?" tanya ulang Widia sangat penasaran, dengan jawaban yang akan diberikan Iman untuk pertanyaannya barusan,tapi sebelum Iman menjawab, tiba tiba Ayunda keluar lagi kedepan. Karena dari dapur dia bisa mendengar obrolan Iman dan Widia secara samar, yang membuatnya menjadi penasaran, meski tadi sempat merasa sangat marah karena sikap Iman yang seolah tidak mengenali dirinya sama sekali.
Ayunda menghampiri mereka berdua yang sedang bicara saat itu, dengan wajah terlihat sembab karena baru berhenti menangis.
Iman langsung mendongak begitu melihat Ayunda keluar dari belakang dan langsung merasa hatinya seperti tercubit,begitu melihat wajah sembab Ayunda.
"Bapak belum pergi juga dari sini?!" tanyanya sengaja bicara dengan nada suara sarkas pada Iman.
Widia langsung menoleh kearah Ayunda saat mendengar nada suara yang ditujukan Ayunda pada Iman.Dia sedikit terkejut dan berusaha menegur supaya Ayunda jangan bicara seperti itu dan ingin meminta Perempuan itu agar mau mendengarkan penjelasan Iman.
__ADS_1
"Yun," tegurnya, yang langsung mendapat reaksi tatapan tajam dari Ayunda,yang seolah mengatakan' jangan ikut campur' .
Sadar dengan hal itu, Widia lalu memutuskan untuk kembali saja kebelakang dan meninggalkan mereka hanya berdua untuk bicara, tanpa campur tangannya lagi.
"Yun, ini oleh oleh dari pak Iman, buat lo," Widia mengangkat paperbag ditangannya kearah Ayunda, yang hanya dilihat sekilas oleh perempuan itu, tanpa perduli kalau orang yang memberi masih berada dihadapannya dan sedang menatap kearahnya dengan ekspresi kecewa yang berusaha ditutupi Iman dihadapan dua perempuan itu.
"Taro aja dibelakang Wid," perintah Ayunda, yang diangguki oleh Widia dengan berjalan kebelakang meninggalkan mereka berdua yang akhirnya kembali berhadapan seperti sebelumnya,tapi kali ini ekspresi wajah Ayunda terlihat sangat dingin saat menatapnya membuat dada Iman terasa nyeri.
"Maaf, Yun," ucap Iman dengan suara setulus mungkin berharap dengan begitu Ayunda akan luluh dan bersedia memaafkan nya kali ini.
"Buat apa?!" balas Ayunda,dengan suara terdengar sinis, karena ternyata hanya itu yang keluar dari mulut Iman setelah bertahun tahun meninggalkannya dalam kondisi tidak jelas.
Iman berusaha tidak perduli pada ekspresi sinis yang ditunjukan Ayunda padanya meski itu membuat hatinya terasa sakit lagi.
"Karena..." ucapan Iman terhenti karena Ayunda langsung memotongnya dengan nada suara tetap sinis.
"Sudah kukatakan lupakan saja! Sebaiknya sekarang, Bapak pergi aja dari sini, karena keberadaan Bapak disini cukup mengganggu orang yang ingin beli diwarung saya," Iman merasa hatinya semakin sakit mendengar apa yang baru saja dikatakan Ayunda padanya.Iman menarik nafas cukup keras,lalu mengedikkan bahunya tanda pasrah.
"Baiklah, aku pergi sekarang.Lain kali kita bicara lagi, karena sepertinya sekarang dirimu masih sangat marah padaku,Yun."
Lalu setelah mengatakan itu, Iman membalikkan tubuhnya,melangkah pergi meninggalkan Ayunda yang masih terus berdiri ditempatnya menatap lekat punggung Iman, sampai pria itu pergi dari Kantin.
Ayunda memejamkan matanya berusaha menenangkan perasaannya yang seperti tercabik cabik saat itu,bukan ini yang diinginkannya setelah penantian panjangnya selama bertahun tahun tapi,apakah dia salah kalau dia merasa marah karena sikap Iman yang seolah sudah tidak mengenalinya lagi tadi.
"Seharusnya lo tahan emosi lo Yun."
__ADS_1
Ayunda menoleh menatap kearah Widia, yang juga menatap kearahnya dengan tatapan tidak tega.