Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
101. Mengantar Kembali Kewarung.


__ADS_3

"Aku pikirkan dulu," jawab Ayunda, lalu berdiri dari duduknya, berniat keluar dari dalam bengkel meninggalkan Iman.


Tapi sebelum dia melangkah pria itu sudah lebih dulu meraih tangannya, membuat perempuan cantik itu terkejut dan sudah hampir mengeluarkan protes penolakannya, tapi urung, begitu mendengar ucapan Iman.


"Baik, kita pelan pelan aja, kamu pasti merasa nggak nyaman, karena aku belum ingat padamu, tapi kuminta biarkan aku berusaha meyakinkanmu, kalau aku serius, berniat memulai hubungan denganmu."


"Hubungan seperti apa? karena aku sudah bilang, kalau sekarang aku nggak mau menikah dengan Abang hanya karena dulu kita pernah menikah.tu sudah sangat lama selain itu Abang juga lupa denganku, jadi..."


"Meski sekarang kamu nggak setuju menikah lagi denganku, tapi jangan halangi aku untuk mengambil hatimu dan untuk bagaimana caranya aku meyakinkanmu, nanti.Itu biar aku yang menentukannya ,kamu nikmati aja setiap prosesnya, ya Yun," pinta Iman, penuh keyakinan waktu mengatakannya, membuat Ayunda memilih mengangkat bahunya tidak ingin lagi menolak karena dia yakin percuma.Iman memang lupa ingatan tapi sikap dan kebiasaannya yang tidak bisa ditolak Ayunda yakin masih tetap sama, dilihat dari bagaimana gigihnya dia, dari tadi terus saja berusaha menjelaskan dan meyakinkan dirinya, supaya dia percaya dan mau memberi pria itu kesempatan untuk bersamanya.


"Terserah saja, yang penting jangan membuatku semakin merasa kesal dengan kelakuan Abang," balasnya pasrah.

__ADS_1


"Kurasa nggak akan, meski aku masih nggak bisa ingat bagaimana dulu hubungan kita, tapi dilihat dari bagaimana sikap mu padaku sekarang dan diawal kita bertemu , kurasa selama menikah hubungan kita pasti sangat baik iya kan Yun," ucap pria itu menatap kearah Ayunda yang tiba tiba langsung bangkit dari duduknya bermaksud pergi dari sana.


"Aku harus kembali kewarung sekarang.Kasihan Widia terlalu lama aku tinggal," Ucap Ayunda cepat, supaya pria itu tidak bisa melihat rona merah diwajahnya, karena malu.Akibat mendengar ucapan pria itu, tentang bagaimana hubungan mereka dulunya yang membuatnya kembali teringat bagaimana sikap Iman padanya, selama mereka menikah dulu.


"Oh baiklah, ayo aku antar kesana," balas Iman, dengan mengajak Ayunda keluar bersama dari dalam bengkel tanpa melepaskan genggamannya.


Ayunda berniat menarik tangannya yang masih berada digenggaman pria itu tapi ditolak Iman.


Bahkan Iman terus saja melakukannya dihadapan Sabrin, Bang Fahri, Juga Sukron, yang ternyata duduk diluar, menunggu mereka selesai bicara tadi.


"Aku akan mengantar Ayunda dulu kembali kewarung sekarang, setelah itu mari kita bicara lagi nanti," pinta Iman, yang dibalas anggukan oleh Sukron dan Bang Fahri, sementara Sabrin hanya diam, dengan terus menatap tajam kearah Iman, karena masih merasa kesal.

__ADS_1


Melihat bagaimana ekspresi, yang ditunjukan Sabrin padanya, Iman hanya menatap sekilas kearah pemuda itu, lalu berlalu pergi dengan menarik tangan Ayunda, menuju kearah mobil miliknya, lalu membantu perempuan itu naik kedalam.


"Ayo Yun," ajak Iman, yang dengan terpaksa dituruti oleh perempuan cantik itu, karena tidak ingin berdebat dibawah tatapan yang lainnya.


"Setelah mengantarku sampai parkiran Kampus, sebaiknya Abang jangan turun,langsung pulang aja. Aku nggak masalah kalau dengan Bang Fahri juga yang lainnya.Tapi, kalau harus digosipkan dilingkungan Kampus karena kita punya hubungan spesial apalagi beberapa hari yang lalu kita sempat ribut, jujur saja aku belum siap.Ingat, Abang tadi juga sudah berjanji kalau tidak akan memaksaku, bukan," tegas Ayunda sebelum Iman menghentikan mobilnya diarea parkir khusus untuk dosen diKampus itu.


"Iya, aku masih ingat, jangan khawatir Yun, aku nggak akan melewati batasku padamu, sampai kita menikah lagi nanti, tapi sekarang aku lapar karena belum sempat makan sejak tadi pagi.Jadi kurasa kalau berjalan bersamaku karena menuju kewarung milikmu untuk makan disana, nggak masalahkan," jawab Pria itu dengan wajah tanpa dosa, membuat Ayunda tidak bisa bilang tidak, diberi alasan seperti itu oleh Iman.


"Dasar modus."


Iman hanya tersenyum smrik, mendengar makian yang diucapkan perempuan cantik itu untuknya, karena sebenarnya dia memang hanya beralasan, supaya bisa lebih lama lagi bersama dengan perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2