
"Kita akan menginap disini malam ini?" tanya Ayunda, setengah tidak percaya waktu mobil yang mereka naiki berhenti didepan sebuah Hotel bintang lima, paling berkelas dikota Jakarta.
"Iya, malam ini kita akan menginap disini, lalu besok pagi kita akan pergi keBali untuk bulan madu selama 3 hari," terang Iman, dengan membantu Ayunda turun dari dalam mobil dan mengajaknya masuk kedalam hotel dengan menggandeng tangan perempuan itu erat.
Ayunda berjalan masuk kedalam Hotel dengan perasaan sedikit gugup dan sengaja menundukan wajahnya, karena khawatir orang orang akan menatap kearahnya, yang saat itu masih mengenakan kebaya pernikahan.
Iman yang melihat itu, mendekatkan wajahnya kearah Perempuan yang sudah menjadi istrinya lagi itu dan bicara dengan suara berbisik.
" mendekat kemari, kalau kamu gugup," perintah pria itu dengan memindahkan tangannya yang menggenggam tangan Ayunda, menjadi memeluk pinggang perempuan itu, dengan posesif.
Ayunda menuruti perintah Iman untuk mendekat, hingga membuat tubuh mereka berdua tidak lagi berjarak, waktu berjalan melintasi loby hotel. Menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci kamar milik mereka.
"Selamat siang tuan dan nyonya ada yang bisa kami bantu?" sapa resepsionis yang melayani mereka.
"Saya mau mengambil kunci kamar, atas nama tuan Sulaiman Alfarizi," terang pria itu dengan memberikan kartu identitasnya pada si resepsionis.
"Oh, sebentar akan saya periksa untuk anda tuan."
Iman mengangguk kearah si resepsionis.
"Anda memesan kamar suitroom untuk pasangan pengantin baru?" tanyanya, dengan menatap kearah Iman dan Ayunda yang masih berpenampilan baru saja melangsungkan pernikahannya.
"Iya," jawab Iman tegas.
Mendengar jawaban yang diberikan Iman, petugas resepsionis itu tersenyum sopan kearah mereka dengan menyerahkan kartu kamar milik mereka.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua tuan dan nyonya, silahkan menikmati bulan madunya," ucapnya, dengan menangkupkan kedua tangan didepan dada sopan, yang diangguki oleh Iman. Lalu berlalu dari tempat itu, menuju lift yang akan membawa mereka menuju suitroom, pesanan mereka.
__ADS_1
"Huffft.." dengus Ayunda, begitu mereka sudah berada dalam lift dan kebetulan hanya berdua saja saat itu.
" Kamu segitu gugupnya," celetuk Iman dengan tetap memelukkan tangannya, kepinggang perempuan cantik itu.
"Aku malu Bang, ini pertama kalinya aku datang keHotel.Lalu berpenampilan seperti ini lagi, kan ketahuan banget kalau kita ini baru aja nikah, kesini buat nginap dan pasti petugas resepsionis itu tau kalau kita akan menghabiskan malam pertama kita malam ini," balas perempuan cantik itu yang membuat Iman mau tidak mau tertawa mendengar apa yang dikatakannya barusan.
"Nggak papa lagi mereka berpikir kaya gitu Yank, kan itu memang benar," balas Iman didekat telinga Ayunda, yang langsung membuat wajah perempuan cantik itu langsung bersemu merah, jadinya.
"Abang,Ih! Kok malah sengaja menggoda aku," sungutnya kesal, yang dibalas Iman hanya dengan menaikkan sebelah alisnya mendengar nada suara kesal dari istri cantiknya itu yang terlihat semakin cantik dimata pria itu, membuat pria itu gemas dan rasanya ingin menyambar bibir merah perempuan cantik itu.
Tapi gagal, karena lift yang mereka naiki berhenti dan pintu liftnya sudah terbuka, membuat Iman terpaksa menunda dulu keinginannya barusan, lalu memilih mengajak Perempuan itu keluar dan berjalan, menuju kamar yang akan mereka tempati malam nanti.
"Ayo Yank."
Melihat pintu lift sudah terbuka, Ayunda mengikuti pria itu, masih dengan berjalan dalam pelukan erat pria itu, menuju kamar yang akan mereka tempati.
Iman membuka pintu kamar, dengan kartu kamar yang diterimanya tadi dari petugas resepsionis.
Begitu pintu terbuka dia langsung mengajak Ayunda untuk masuk kedalam, Ayunda langsung ternganga, karena takjub, begitu melihat suasana dalam kamar hotel, yang akan mereka tempati malam itu.
"Bagaimana kamu suka nggak Yank?" tanya Iman dengan ikut masuk, lalu menutup pintunya dibelakang mereka.
"Bang, Ini...malam ini kita beneran akan nginap disini?" tanyanya tidak percaya.
"Iya, ini kamar pengantin kita Yank, kamu suka nggak sama kamarnya?" tanya pria itu dengan memeluk tubuh Ayunda dari belakang .
"Su..suka, tapi apa ini nggak terlalu berlebihan .Ini mewah banget Bang, pasti harga sewanya mahal," celetuknya yang membuat Iman menjadi gemas mendengar apa yang diucapkan perempuan cantik itu barusan dan juga, menjadi merasa bersalah karena berpikir dulu dia tidak pernah mengajak istrinya itu pergi ketempat bagus.
__ADS_1
"Nggak kok, Yank.Bahkan ini bukan apa apa, karena seharusnya aku mengajakmu menginap dihotel yang lebih bagus dari ini juga bulan tempat bulan madunya harusnya bukan hanya ke Bali, tapi keluar negeri," jawab pria itu dengan menyerusukkan, kepalanya keceruk leher Ayunda yang masih berbalut kerudung itu.
Mendengar jawaban Iman, Ayunda langsung menolehkan kepalanya kearah pria itu.
"Kok Abang ngomong kaya gitu? Aku suka banget kok sama kamar ini, juga tempat bulan madu kita di Bali besok," terangnya jujur.
Iman sedikit melonggarkan pelukannya dari tubuh Ayunda, lalu memutar tubuh perempuan itu, supaya menghadap kearahnya.
"Mulai sekarang, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu Yank.Aku akan berusaha menebus waktu kita yang terlewat selama ini, karena aku sudah pergi meninggalkanmu," ucap Iman penuh keseriusan, yang membuat Ayunda merasa terharu mendengarnya.
Karena dia tau semua yang dikatakan pria dihadapannya ini benar.
Semua sudah dibuktikan dengan keseriusannya dan kegigihannya untuk meyakinkan dirinya, meski Pria itu masih belum mengingat kenangan masalalu mereka.
"Iya aku percaya sama Abang. Kalau aku tidak percaya sama Abang aku nggak mungkin setuju menerima pinangan Abang lagi, di kondisi Abang yang belum ingat padaku seperti sekarang," balas Ayunda.
" makasih Yank," ucap Iman, dengan mengecup lama dahi sang istri penuh perasaan, lalu perlahan turun ke kedua mata Ayunda yang terpejam, lalu ke pipinya, puncak hidungnya dan....Kruyuk....
Seketika Iman menghentikan apa yang dilakukannya, begitu mendengar suara perut sang istri dan menatap kearah Ayunda, yang langsung memalingkan wajahnya, karena merasa malu Iman harus mendengar suara perutnya yang lapar, disaat saat romantis mereka.
"Aku pesankan makan siang dulu atau kamu mau kita makan di Restoran bawah," tawar pria itu, berusaha menahan tawanya waktu bicara agar sang istri tidak semakin merasa malu.
"Kita makan diluar aja deh, sekalian cari udara segar," jawab Ayunda cepat dengan menyingkir dari hadapan sang suami sebelum pria itu melihat wajah merahnya meski sebenarnya Iman sudah tau.
"Ya udah kalau kaya gitu, kamu ganti baju aja dulu dengan yang lebih nyaman sebelum kita turun," perintah pria itu, yang dibalas anggukan oleh Ayunda, dengan segera mencari baju dari kopernya.
Begitu sudah mendapatkannya dia segera pergi kekamar mandi, berniat mengganti bajunya disana, supaya Iman tidak bisa melihatnya waktu dia melepas baju.
__ADS_1
Jujur saja, dia masih merasa malu kalau harus menggantinya didepan pria itu, meski dulu pria itu sudah pernah melihatnya, tapi tetap saja rasanya ini seperti yang pertama baginya, karena mereka sudah berpisah selama bertahun tahun dan pria itu juga lupa padanya.