Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
85.Syok


__ADS_3

Bruk!


Ayunda terjatuh kelantai dibelakang standar jualannya dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasi membuat Widia yang melihatnya sangat terkejut dan langsung mendekatinya.


"Yun Lo kenapa?!."


Bukannya menjawab pertanyaan khawatir Widia Ayunda tiba tiba memeluk tubuh Widia dan menangis tersedu membuat Widia semakin bingung.


"Yun apa pak Bayu ngganggu Lo tadi didepan makanya Lo Sampai kaya gini .Bukannya udah gue bilang ,gue aja yang ngelanyani pria dangkotan itu nggak perlu Lo!".


"Bukan...Wid.. bukan...itu...Hiks...hiks...ta.. tapi...dia...dia..Hiks...hiks...Bang...Iman Wid...hiks", Ayunda tidak sanggup menyelesaikan perkataannya membuat Widia semakin bingung apa maksud ucapan sahabatnya itu yang bercampur tangis pilu saat itu.


"Tenang Yun semuanya baik baik aja Lo tenangin diri baru setelah itu Lo cerita apa yang terjadi sama gue sampai Lo kaya gini," hibur Widia dengan menepuk nepuk lembut punggung Ayunda menenangkan perempuan itu.


"Kak...ada apa?!," tanya Sabrin yang baru datang dan terkejut melihat Ayunda menangis dilantai dengan dipeluk oleh Widia.


"Nggak tau juga Brin tiba tiba dia udah kaya gini setelah melayani pak Bayu tadi," jawab Widia pada Sabrin yang membuat ekspresi pria muda itu langsung berubah marah mendengar keterangan Widia.


"Jadi gara gara Pak Bayu kak Ayunda nangis kaya gini?! Pantas aja tadi waktu berpapasan didepan ekspresinya aneh dan terlihat buru dengan memberiku uang buat membayar makannya tanpa minta kembalian lebih dulu," ucap Sabrin kesal.


"Pria dangkotan itu memang udah keterlaluan sikapnya sama Ayunda bikin aku kesal juga,lain kali biar aku aja yang ngelanyani dia supaya dia nggak ngganggu Lo lagi!."


Mendengar apa yang dikatakan mereka berdua Ayunda menggeleng disela sela isak tangisnya.


" Bu..bukan pak Bayu Wid tapi..... Aku melihat dia Wid....Hiks...hiks..Bang Iman Wid.Ada Bang Iman tadi didepan..hiks..hiks..." ucap nya dengan terbata bata dan tangis yang semakin keras membuat Widia dan Sabrin saling tatap takut sudah salah dengar barusan karen Ayunda bicara disela tangisnya.

__ADS_1


"Dia siapa kak?!," tanya Sabrin penasaran.


"Iya Yun bilang dia siapa, jangan bilang Lo baru ngeliat orang yang mirip laki Lo tadi lalu jadi kaya gini," bujuk Widia yang diangguki oleh Ayunda membuat Widia dan Sabrin kembali saling toleh.


"Yun jangan bercanda, Lo....serius ngeliat orang yang mirip sama..," Widia tidak melanjutkan ucapannya karena Ayunda sudah menjawabnya.


"Iya Wid..dia Bang Iman....tadi ada didepan duduk dikursi dan gue bisa nyentuh dia...lalu hiks...hiks...," mendengar itu Sabrin dan Widia lalu saling mengangguk sudah mengerti alasan yang membuat Ayunda histeris seperti itu sekarang.


"Gue sudah ngerti kenapa Lo jadi kaya gini Yun,sekarang sebaiknya kita pulang aja. Lo nenangin diri dirumah aja karena gue yakin Lo nggak akan bisa diajak ngapa ngapain hari ini melihat kondisi Lo sekarang."


Setelah mengatakan itu Widia menarik tubuh Ayunda dari lantai mengajaknya untuk berdiri dan pergi dari sana pulang kekontrakan mereka.


"Kak kalian mau pulang tapi warungnya gimana?," tanya Sabrin menatap bingung kearah dua perempuan itu juga ke stand jualan mereka.


Sabrin mengangguk dan membiarkan kedua perempuan itu pergi meninggalkannya.


Setelah mereka pergi Sabrin lalu membereskan semua jualan Ayunda dan Widia lalu menutupnya meski saat itu dagangannya belum habis.


***


Sementara itu ditempat lain.


"Pak Sulaiman tunggu! Kita perlu bicara dulu untuk masalah di Kantin tadi!," pinta Dosen Rianti yang saat itu sedang berusaha mengejar langkah Iman yang terus saja berjalan tanpa menoleh kearahnya sejak kejadian memalukan yang terjadi diKantin dengan Ayunda.


Perempuan itu masih terus saja mengikutinya sampai didalam ruangan dosen karena sepanjang jalan sejak mereka keluar dari Kantin Iman sama sekali tidak memperdulikannya membuatnya menjadi marah karenanya padahal tapi dia melakukan semua itu dengan maksud untuk membelanya.

__ADS_1


"Apa yang mau Bu Rianti bicarakan dengan saya?!," Iman membalikkan badannya lalu menatap tajam keperempuan yang rekan kerja nya itu membuat Dosen Rianti terkejut dan jadi tergagap menerima reaksi Iman.


"Itu ..A..apa yang terjadi diKantin Kampus tadi saya minta maaf,saya nggak punya maksud bicara keras juga kasar seperti itu dihadapan Bapak.Saya hanya kesal karena...." Perkataan Dosen Rianti langsung terhenti begitu melihat raut wajah Iman saat itu yang berubah menjadi sangat dingin kearahnya, membuat bulu kuduknya meremang karena Iman menatapnya seperti seekor hewan buas yang berniat menerkam dan mencabiknya hingga tanpa sadar membuat Dosen Rianti memundurkan tubuhnya kebelakang sampai jarak mereka cukup jauh.


"Aku.... Tidak dirugikan apapun! Tapi Bu Rianti sudah membuat perempuan tadi sangat malu. Jadi! Jangan minta maaf pada saya, tapi lakukan itu padanya kalau memang anda merasa bersalah Bu!."


Dosen Rianti semakin tergagap mendengar nada suara dingin penuh penekanan yang keluar dari mulut Iman saat itu hingga membuat keringat dingin mengalir dibalik baju kerja yang dikenakannya saat itu.


"D ..dia... yang keterlaluan karena sudah teledor hingga membuat celana pak Sulaiman basah."


"Apa saya mempermasalahkan hal tadi dengannya?Tidak bukan dan saya juga sama sekali tidak merasa dirugikan karena perbuatan tidak sengaja yang dilakukannya tapi anda! Anda membentaknya keras juga kasar .Jadi kalau anda memang merasa bersalah kembalilah kesana dan minta maaf secara benar padanya dan sekali lagi saya tekankan bukan dengan saya tapi dengan perempuan yang sudah ibu buat sakit hati itu!. Sekarang pergilah Bu Rianti bereskan masalah yang sudah anda buat tadi."


Setelah mengatakan itu Iman membereskan barang miliknya dimeja lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan meninggalkan Dosen Rianti yang syok ditempatnya mendengar dan melihat sikap yang baru saja ditunjukan oleh Iman padanya.


"Pak Sulaiman mau pulang?," tegur dosen Bayu saat melihat Iman keluar dengan membawa tas ditangannya.


"Iya,mata kuliah saya sudah habis hari ini.Saya permisi lebih dulu pak Bayu," lalu Iman pergi dari ruang Dosen itu tanpa menoleh lagi kebelakang.


"Bu Rianti,ada apa? Apa ibu baik baik saja sepertinya pak Sulaiman sangat marah tadi.Apa dia juga memarahi ibu barusan?," tegur dosen Bayu saat melihat ekspresi Dosen Rianti saat itu.


"Pak Bayu,menurut Bapak apa saya salah sudah bicara begitu pada pelayan diKantin Kampus tadi?!," tanya Dosen Rianti masih tidak terima karena sudah disalahkan oleh Iman barusan karena dia menegur Ayunda keras.


Dosen Bayu menatap kearah Dosen Rianti sebelum bicara melihat bagaimana ekspresi Perempuan cantik berusia 27 tahun itu.


"Menurut saya ibu sudah sangat keterlaluan wajar kalau pak Sulaiman marah dengan ibu karena saya juga merasakan hal yang sama pada Ibu saat mendengar apa yang tadi ibu katakan pada Dik Ayunda."

__ADS_1


__ADS_2