Jodohku Babang Preman

Jodohku Babang Preman
98. Bertengkar Dengan Sabrin.


__ADS_3

"Bos dulu, sudah menikah. "


Iman langsung terdiam, terkejut, juga bingung, mendengar perkataan Sabrin tentang status dirinya sebelum sempat hilang ingatan Karena musibah yang terjadi padanya 5 tahun lalu.


"Lalu,apa kalian tau siapa istriku?" tanya pria tampan itu, pada Sabrin juga Bang Fahri,


yang menjadi saling pandang, mendengar pertanyaan Balik yang diajukan Iman, pada mereka.


"Jangan bilang Bos juga lupa, dengan istri Bos ?" tanya Sabrin, masih tidak percaya. Kalau Iman sampai tidak bisa mengingat, hal sepenting itu selama ini.


Iman terdiam, wajahnya tertunduk setelah mendengar pertanyaan pemuda itu, membuat Bang Fahri juga Sabrin kembali saling pandang sebelum kembali menatap kepria berkulit bersih, wajah tampan, yang duduk dihadapan mereka saat itu.


"Bos," panggil Sabrin karena Iman terlalu terdiam.


"Aku juga lupa soal itu," jawabnya lirih seolah merasa sangat bersalah, waktu mengatakan soal itu pada dua pria yang duduk menghadapinya saat itu.


Sabrin dan Bang Fahri terdiam begitu mendengar jawaban Iman,tidak tau bagaimana harus menanggapi masalah ini sekarang.


"Jadi....kalau kalian tidak keberatan, maukah kalian berdua mengatakan, siapa perempuan yang sudah menikah denganku dulu. Lalu, apa aku sudah punya anak dengannya?" tanya Iman, pada kedua pria beda usia, yang sedang duduk dihadapan dirinya saat itu.


"Apa hanya itu yang ingin Bos ketahui? Lalu kalau Bos sudah tau, apa yang ingin Bos lakukan padanya?!" tanya Sabrin dengan geram, karena ingat bagaimana penderitaan Ayunda, selama 5 tahun Iman menghilang.


"Brin!" tegur Bang Fahri, waktu melihat emosi pada wajah pemuda berusia 22 tahun itu terhadap Iman.


"Apa aku nggak boleh marah pada Bos Iman, karena nggak pernah berusaha mencari tau tentang kita, bukan, tapi tentang kak Ayunda, Bang!" ucapnya marah.


"Boleh, hanya saja.Apa kamu lupa dengan keterangan Iman barusan, kalau selama ini dia mengalami lupa ingatan!"


"Abang percaya pada semua perkataannya?!" tunjuk Sabrin kewajah Iman, tanpa perduli kalau pria itu akan marah padanya.

__ADS_1


"Kenapa aku nggak percaya! Bukankah dia sudah menjelaskan alasannya tadi pada kita, jadi..."


"Aku nggak menyalahkan kemarahanmu, padaku, Brin.Tapi bisakah kamu tetap mengatakan padaku, siapa perempuan yang dulu sudah aku nikahi, juga..."


"Bukannya, aku sudah menyebutkan namanya tadi! Apa Bos juga nggak bisa mendengarnya!" bentak Sabrin, penuh emosi kepada Iman, dengan bangkit dari kursi yang didudukinya dan langsung melayangkan pukulannya kearah pria dihadapannya itu.


Bang Fahri sangat terkejut melihat, apa yang dilakukan pemuda jangkung itu, pada Iman.Dia berniat mencegahnya,tapi gagal dan hanya bisa berteriak keras waktu melihat dua pria beda usia itu mulai bergumul.


" Sabrin! Hentikan! Lo udah gila ya, berniat mukul Bos Iman! Lo lupa kalau.."


teriakan pria berusia diatas 45 tahun itu terhenti, begitu juga pergumulan mereka berdua, waktu mendengar suara pintu Bengkel dibuka keras dari luar.


Brak!


Sabrin dan Iman langsung bangun dari lantai bengkel, menatap kearah pintu yang terbuka. Dimana, disana tampak Ayunda dan Sukron sedang berdiri, menatap balik kearah mereka semua dengan tatapan terkejut,terutama Sukron waktu melihat siapa yang sudah bergumul dilantai barusan dengan, Sabrin.


"Bos," panggil Sukron,kepada pria berusia 35 tahun yang terlihat makin tampan dan matang itu, tanpa mengindahkan wajah mereka semua yang tegang saat itu.


"Bos," panggil Sukron lagi, pada Iman, karena panggilan pertamanya barusan tidak mendapat tanggapan dari pria dihadapannya tersebut.


"Nggak usah Bang Sukron panggil dia kaya gitu, percuma!" jawab Sabrin dengan nada ketus melirik kearah Iman, yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


"Apa maksudmu,Brin? Sebenarnya ada apa ini kenapa..."


"Dia, dia lupa sama kita semua!" teriak Sabrin, dengan menunjuk kearah Iman, membuat semua orang yang ada ditempat, itu, terutama dua orang yang baru masuk, yaitu Ayunda dan Sukron terkejut, mendengar apa yang baru saja dikatakan Sabrin, pada mereka.


"Lupa? Apa maksudmu lupa? Jelaskan Brin?!" tanya Ayunda berjalan masuk kedalam bengkel menghampiri mereka semua, yang terdiam termasuk Sabrin sendiri.


Tapi tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Iman, seolah sedang menyuruh pria itu untuk menjelaskan sendiri masalahnya ini.

__ADS_1


"Aku akan menjelaskan pada kalian, tapi sebelum itu ada yang ingin aku tanyakan pada kalian, terutama kalian berdua yang tadi sudah sempat bicara denganku," ucap Iman dengan mengedarkan tatapannya kearah mereka semua.


"Apa itu Bos, katakan," jawab Bang Fahri selaku penengah diantara mereka yang terlihat tegang saat itu.


"Apa dia perempuan yang pernah aku nikahi?" tanya Iman menunjuk kearah Ayunda, yang terdiam mendengar pertanyaan frontal Iman.


"Buat apa menanyakan itu! Percuma!" bentak Sabrin masih penuh emosi membuat Bang Fahri memutuskan untuk membawa pemuda jangkung itu keluar saja dari dalam bengkel dan membiarkan Sukron serta Ayunda yang bicara dengan Iman saat itu.


"Bos, aku akan membawa dia keluar kalian bicarakan bertiga. Dia, Sukron, orang yang tau banyak tentang apa yang sudah terjadi pada Bos, sebelum Bos kehilangan ingatan," terang Bang Fahri, dengan menarik tubuh Sabrin pergi dari sana, meski pemuda jangkung itu berusaha menolak pergi.


Setelah Sabrin dan Fahri keluar dari bengkel,Iman kembali duduk ditempatnya diikuti oleh Sukron, sementara Ayunda tetap memilih berdiri dengan menatap kearah Iman.


"Jadi..Apa yang dikatakan, Bang Fahri barusan.Apa itu benar, Bos?" tanya Sukron memulai percakapan mereka.


Iman melirik kearah Ayunda yang masih terus menatap kearahnya dingin.


Sebelum menjawab pertanyaan pria bertubuh gempal dengan beberapa tato terlihat jelas ditubuhnya yang saat itu hanya memakai kaos oblong tanpa lengan.


Iman menelisik penampilan pria dihadapannya itu, terlihat cukup sangar, tapi sepertinya Ayunda sama sekali tidak merasa takut pada pria itu, bahkan mereka terkesan akrab, dilihat dari gestur tubuh mereka.


" Itu benar, dan sampai sekarang aku masih belum bisa mengingatnya.Terutama di bagian, sebelum aku mengalami musibah itu," terang Iman, kembali melirik kearah Ayunda yang masih tetap diam.


"Tapi, itu sudah sangat lama.Apa itu benar? Atau hanya alasan Abang aja,supaya kami disini nggak bertanya macam macam pada Abang, kenapa menghilang selama ini dan baru muncul sekarang?" tanya Ayunda sinis.


Kali ini Iman tidak lagi melirik kearah Ayunda Tapi menatap lekat kearah perempuan cantik, yang sedang memasang wajah marah padanya itu.


"Sukron,namamu Sukron bukan?" tanya Iman tiba tiba pada Sukron yang diangguki oleh pria itu.


"Iya Bang," jawab Pria bertubuh gempal itu, mengangguk.

__ADS_1


"Bisakah kamu memberiku waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi padaku, pada Ayunda secara pribadi," pinta Iman, yang diangguki oleh Sukron, dengan bangun dari duduknya saat itu.


"Tentu saja.Bos bicara aja berdua sama istri Bos sepuasnya.Aku akan menunggu diluar, bersama Sabrin dan Bang Fahri."


__ADS_2