
"Yun, sekarang gue harus pulang kerumah emak gue .Adek gue kecelakaan dan masuk Rumah sakit," terang Widia, dengan wajah terlihat cemas, waktu mengatakannya.
"Ya udah lo pergi aja sana,apa yang lo tunggu," perintah Ayunda pada perempuan cantik teman dekatnya itu, yang masih belum beranjak dari tempatnya meski Ayunda sudah memerintahkannya pergi.
"Apa yang lo tunggu?" tanya Ayunda heran.
"Lo pulang ama siapa?" tanyanya terlihat tidak tega meninggalkan Ayunda pulang sendiri saat itu setelah apa yang dialami perempuan cantik itu sepanjang siang tadi.
"Gue, lo nggak usah mikir itu.Gue bisa naik ojek pulangnya, atau mungkin bareng orang," terang perempuan cantik itu.
"Siapa? Emang ada yang mau njemput lo pulang? Kalau ada, gue merasa lebih tenang, dari pada lo pulang naik ojek," ucap Widia.
Ayunda terdiam, dia terlihat ragu ingin mengatakan pada perempuan cantik yang merupakan teman baiknya itu, kalau tadi waktu perempuan itu sedang menerima telpon, Iman juga menelponnya mengajaknya untuk pulang bareng, tapi dia belum mengatakan setuju, karena dia berpikir akan pulang bersama Widia saja.
"E.. Itu." Ayunda baru berniat mengatakan siapa yang sudah mengajaknya pulang bersama tadi pada Widia, tapi belum sempat dia melakukannya, dia melihat sosok pria itu sedang berjalan kearah mereka.
"Jangan bilang lo mau pulang bareng Bang Iman sekarang Yun," ucap Widia karena dia juga melihat pria gagah itu, berjalan mendekat kearah mereka saat itu.
"Ya... sebenarnya tadi belum bilang iya sih, karena kita kan mau pulang bareng, tapi sekarang lo mau pergi, selain itu dia juga datang kemari, rasanya aneh kalau gue menolaknya dengan alasan mau naik ojek aja kan," ringis perempuan cantik itu dengan wajah serba salah.
Puk!
Tiba tiba Widia memukul keras bahu Ayunda membuat perempuan itu sampai terdorong kedepan karena pukulan Widia yang cukup keras dipundaknya.
__ADS_1
"Nggak usah banyak alasan, kalau lo memang mau pulang bareng dia pulang aja, ingat kesempatan nggak boleh dilewatkan," perempuan berambut pendek itu sengaja mengedipkan sebelah matanya saat bicara.Lalu sebelum Ayunda menjawabnya dia sudah berjalan menjauh dengan melambai kearah perempuan cantik itu.
"Gue pergi dulu ya, nggak langsung pulang juga nggak apa apa, da... "
Ayunda terpaksa hanya membalas semua perkataan perempuan berambut pendek teman baiknya itu dengan lambaian tangan juga tanpa mengatakan apa apa karena sosok Iman sudah dekat kearahnya.
"Lho, mau kemana si Widia? Kok tiba tiba pergi?" tanya Pria itu, waktu melihat Widia menghidupkan motor maticnya lalu melaju meninggalkan Ayunda tetap ditempat itu.
"Adeknya masuk rumah sakit, jadi dia harus kesana sekarang," terang Ayunda, dengan menoleh kearah Iman yang hanya diam, mendengar penjelasan Perempuan cantik dengan kerudung biru itu.
"Ngapain diam aja, ayo, katanya Abah mau nganterin aku pulang sekarang," ucap Ayunda, membuat pria itu langsung menatap kearah perempuan cantik didekatnya, yang sudah mulai berjalan pergi dari tempat itu.
"Bukannya tadi kamu bilang nggak perlu,lalu kenapa sekarang berubah pikiran?" tanya pria itu penasaran karena tiba tiba perempuan cantik itu berubah pikiran dengan mudahnya.
"Itu tadi waktu aku nggak tau kalau Adek Widia masuk Rumah sakit dan dia harus kesana. Tapi sekarangkan nggak bisa pulang bareng dia karena dia harus pergi, jadi pilihanku cuma dua, naik ojol atau menerima tawaran Abang," terang Ayunda, dengan terus berjalan bersama pria itu.
Ayunda menolah kearah Pria itu.
"Hanya mengambil kesempatan yang ada," jawabnya membuat Iman langsung menaikkan kedua alisnya mendengar itu.
"Kupikir kamu akan terus bersikap tarik ulur denganku," balas pria itu dengan nada terdengar lega karena ternyata perempuan cantik itu tidak lagi bersikap sarkas dan dingin terus padanya, seperti yang terlihat tadi siang.
Mendengar apa yang dikatakan Iman Ayunda menghela nafas cukup keras sebelum kembali bicara.
__ADS_1
" Kalau mengikuti rasa marahku, aku memang ingin melakukannya, tapi mengingat lagi apa yang sudah aku lalui selama ini karena sendiri dalam ketidak pastian soal khabar dan keberadaan Abang. Aku ingin mengambil resiko memberikan kesempatan pada diriku untuk dekat lagi dengan Abang dan semoga saja dengan begitu ingatan Abang juga bisa segera pulih lagi," terang Ayunda.
Mendengar perkataan Perempuan cantik itu kini Iman yang menghela nafas, karena perasaan bersalah itu kembali, dirasakannya.
"Maaf," ucapnya dengan menatap kearah Ayunda, yang hanya tersenyum tipis mendengar permintaan pria itu, yang dalam sehari ini sudah berkali kali diucapkan padanya.
"Sudah kubilang, aku sudah memaafkan Abang, tapi aku bukan hanya butuh kata itu melainkan.."
pria itu menghentikan langkahnya lalu meraih tangan Ayunda, hingga reflek perempuan itu juga ikut berhenti melangkah.
"Aku tau, tapi perasaan bersalah yang aku rasakan itu nggak bisa hilang, sebelum aku bisa mengingat bagaimana diriku dulu memperlakukan mu. Meski, aku harap aku dulu suami yang cukup baik untukmu Yun," balas Iman serius.
"Abang memang suami yang cukup baik kok dulu bahkan sikap Abang juga baik dengan yang lain kecuali...." Ayunda tiba tiba tidak meneruskan perkataannya karena ingat kejadian hari terakhir antara dirinya Iman dan Hafiz juga keluarganya , sebelum pria itu menghilang dan tidak kembali lagi.
"Apa ada sikapku yang menyakitimu dulu sebelum aku mengalami musibah itu Yun?" tanya Iman karena merasa apa yang akan dikatakan Ayunda sekarang berkaitan dengan itu.
Ayunda terdiam dan wajahnya tiba tiba berubah muram lagi setelah mendengar pertanyaan pria itu.
"Itu...bisa kita membicarakan ini lain kali saja.Hari ini aku sudah cukup lelah dengan semua yang terjadi pada kita jadi..."
" Baiklah, aku mengerti.Lain kali lagi kita bicarakan ini. Kita lakukan pelan pelan saja dan sekarang ayo kuantar kamu pulang," ajak Iman, yang diangguki oleh perempuan cantik itu dengan perasaan lega, karena Iman tidak memaksanya untuk menceritakan masalah yang pernah terjadi dimasalalu mereka sekaligus
"Sampai ditempat mobil pria itu terparkir.Iman membantu Ayunda naik kedalam mobilnya baru setelah itu pria itu masuk, lalu menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Abang sudah berapa lama kembali kemari?" tanya Ayunda memulai percakapan ringan mereka didalam mobil, agar Suasana diantara mereka tidak kaku.
"Lebih dari sebulan yang lalu, selama kurang lebih 5 tahun aku tinggal di Singapura, selain untuk berobat aku juga bekerja dan melanjutkan pendidikan ku disana, karena saat itu aku berpikir tidak ada orang yang menungguku kembali kemari, tapi ternyata aku salah dan kalau boleh jujur aku menyesali 5 tahunku yang tidak berusaha untuk pulang kemari Yun", jawab pria itu dengan nada suara terdengar muram.Membuat Ayunda reflek menyentuh tangan Iman dengan maksud untuk menghibur pria itu.