Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Membawa Putri


__ADS_3

"Tunggu Sin, ada apa? Utarakan saja, jangan merasa ngga enak dengan kita." ucap Byan.


"Aduh, andai saja bukan masalah uang yang masuk aku ngga bakalan ganggu mereka, ya ampun pak Byan benar-benar sangat romantis.


"Tuh kan mas, jadi mbak Sindy nya mau balik lagi." ucap Putri.


"Udah diam sayang." bisik Byan.


"Ada apa mbak?" tanya Putri yang masih tetap setia duduk di atas pangkuan Byan.


"Saya hanya mau tanya saja, ngga apa-apa nanti saja." jawab Sindy.


"Ngga apa-apa mbak, ayo duduk saja." ucap Putri.


Sindy pun pasrah lalu menghampiri Byan dan Putri lalu duduk di depan mereka.


"Ada apa Sin? Apa ada yang harus saya tanda tangani?" tanya Byan sambil menghirup rambut Putri tanpa melihat ke arah Sindy.


"Ya ampun, bahagia sekali mereka berdua ini, aku jadi iri melihat nya." gumam bathin Sindy.


"Em, ini pak, saya hanya mau tanya, tadi ada notif di ponsel saya dari m bangking, dan ada dana masuk sebesar sepuluh juta dari perusahaan ini, dan saya mau balikin, karena saya ngga berhak untuk menerima nya." jawab Sindy.


"Mbak berhak kok menerima nya, karena itu memang sudah rezeki mbak." ucap Putri sambil tersenyum.


"Tapi saya baru bekerja satu hari di sini, ngga mungkin kan saya langsung dapat uang sebesar itu, atau," Sindy pun menggantung kalimat nya.


"Atau apa mbak?" tanya Putri.


"Apa saya di pecat pak, karena sudah menyukai bapak?" tanya Sindy dengan wajah pucat pasi.


Sindy ngga mau kalau sampai dirinya kehilangan pekerjaan lagi, apalagi ini di perusahaan ternama dan tentu nya gaji nya pun ngga main-main.


"Ngga kok, itu uang dari istri saya buat kamu, katanya buat biaya pengobatan ibu kamu." jawab Byan yang masih ngga mengalihkan pandangan nya.


"Apa! Bu, apa benar yang di bilang pak Byan?" tanya Sindy dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Iya mbak, jadi uang itu ambil saja, itu sudah menjadi milik mbak, dan jangan lupa gunakan untuk biaya pengobatan ibu nya mbak." jawab Putri.


"Ya Allah bu, walaupun usia ibu masih muda, tapi ibu penuh pengertian dan peduli akan sesama, bukan hanya cantik luar nya saja, tapi ibu cantik dalam nya juga, pantas pak Byan terlihat sangat mencintai ibu." ucap Sindy sambil menghapus air mata nya.

__ADS_1


Putri hanya tersenyum mendengar ucapan dari Sindy.


"Kamu yang giat kerja nya, tunjukan prestasi kamu dalam bekerja." ucap Byan yang tanpa sadar mencium leher nya Putri.


Putri merasa geli dan takut hasrat nya naik, maka dari itu Putri sedikit menjauh kan kepala nya.


"Mas, ini masih di kantor, ada mbak Sindy lagi." ucap Putri dengan suara pelan, tapi Sindy pun mendengar nya.


"Baik pak, saya akan giat bekerja semampu saya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak buat bapak dan ibu, semoga bapak, ibu dan adik bayi yang sedang di kandung selalu dalam keadaan sehat, dan ibu juga lancar persalinan nya nanti," ucap Sindy yang merasa ngga enak karena sudah mengganggu kemesraan mereka.


"Aamiin, semoga ibu mbak nya juga sehat." ucap Putri.


"Aamiin, makasih ya bu, kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya." pamit Sindy lalu pergi meninggalkan ruangan Byan.


"Mas stop, ini masih di kantor, geli." ucap Putri yang masih bisa di dengar oleh Sindy.


"Ya ampun kalian berdua itu pasangan yang sempurna, pak Byan yang tampan dan bu Putri yang cantik, kalian berdua sangat romantis membuat yang melihat nya iri termasuk aku sendiri, tapi aku sadar siapa aku." gumam bathin Sindy sambil tersenyum lalu menutup pintu ruangan Byan.


Sindy pun sangat bahagia sekali untuk hari ini, sudahlah dia bahagia karena mendapatkan pekerjaan, di tambah lagi sekarang dapat uang sepuluh juta.


"Terima kasih ya Allah, engkau mendengar semua do*a-do*a ku, aku berjanji akan mengabdi pada perusahaan ini dan aku akan melindungi pak Byan dari para pelakor, karena pak Byan hanya untuk ibu Putri seorang." gumam Sindy.


"Mas, ini sudah selesai." ucap Putri sambil memperlihatkan berkas-berkas nya.


""Ya sudah ayo mas." ucap Putri sambil berdiri dari pangkuan Byan.


*


*


Waktu pun terus berlalu, tak terasa kehamilan Putri pun sudah mendekati kelahiran nya.


"Mas, perutku sakit." teriak Putri sambil menggoyangkan tubuh Byan yang sedang terlelap di samping nya.


"Kenapa sayang? Apa kamu mau melahirkan?" teriak Byan yang langsung terbangun dari tidur nya begitu mendengar teriakan Putri.


"Seperti nya iya deh mas, soalnya perut ku sakit ini, ah." teriak Putri sambil menyentuh bagian perut nya.


"Sebentar Yang aku mencari pertolongan dulu." ucap Byan yang langsung turun dari tempat tidur nya lalu berlari ke kamar orang tua nya.

__ADS_1


"Mah, bangun, Putri mau melahir kan." teriak Byan sambil terus mengetuk pintu kamar Raka dengan begitu keras.


"Ada apa sih berisik sekali." ucap Raka dengan mata terpejam nya.


"Ngga tahu, sebentar mamah lihat dulu." jawab Ayu lalu menghampiri dan membuka pintu kamar nya.


"Ada apa nak?" tanya Ayu sambil menguap.


"Mah, Putri mau melahirkan." teriak Byan.


"Apa! Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit." teriak Ayu yang langsung berlari ke kamar nya Byan.


"Aduh mana minum nya habis lagi, ah males banget bawa minum, tapi aku sangat haus sekali." gumam bathin Dira.


"Sudahlah gue bawa minum dulu." gumam nya sambil turun dari tempat tidur nya.


Dira pun berjalan dengan gontai karena rasa ngantuk yang mendera, sayup-sayup terdengar keributan membuat Dira menajamkan pendengaran nya.


"Ada apa sih ribut-ribut, seperti nya dari kamar tamu deh." gumam Dira sambil menghampiri kamar tamu yang di tempati Byan dan Putri untuk sementara waktu.


"Mah, kak, ada apa." teriak Dira.


"Kakak kamu mau melahirkan, tolong kamu siapkan mobil." teriak Ayu.


Dira pun yang awal nya ngantuk langsung melotot lalu dengan secepat kilat dia berlari keluar dan langsung menyiapkan mobil nya.


"Mah sakit mah." teriak Putri.


"Sabar ya nak, ayo sekarang kita ke rumah sakit." ucap Ayu.


Byan yang merasa khawatir dengan keadaan istri nya pun dengan spontan menggendong Putri ala bridal style.


"Mah, tolong ambilkan semua peralatan bayi nya ya." teriak Byan.


"Yang mana sayang?" tanya Ayu.


"Yang koper warna biru." ucap Byan sambil terus melangkah membawa Putri.


Ayu pun langsung mengambil koper yang di maksud Byan.

__ADS_1


"Ini dia koper nya." gumam Ayu sambil mengambil koper yang berwarna biru.


Mereka pun membawa Putri ke rumah sakit dan tanpa sadar kalau Raka masih tertinggal di rumah.


__ADS_2