
"Putri, Dira, terima kasih ya, berkat kalian aku bisa bebas dari sini, maaf kan aku yang sudah berbuat tidak pantas sama kalian berdua, aku mohon setelah ini kalian ngga benci sama aku." ucap Cintya lalu memeluk mereka secara bergantian.
"Iya kak, kita ngga bakal membenci kakak kok." ucap Dira sambil tersenyum.
Bu Lasmi yang sudah sadar dari pingsan nya pun kini sudah bisa tersenyum kembali dan mengucapkan terima kasih kepada keluarga Fadil dan Raka.
Setelah Fadil memaafkan dan mencabut laporan nya kasus ini di tutup dan mereka berempat pun di bebaskan.
"Putri, Dira." teriak Dela, Resi dan Caca sambil berlari menghampiri nya lalu mereka memeluk Putri dan Dira sambil menangis.
"Maafkan kami semua ya Put, Dir." ucap Caca dengan linangan air mata nya.
"Iya kak, kita berdua sudah memaafkan kakak kok." jawab Putri dan Dira sambil melepaskan pelukan nya.
"Yan, maafkan aku ya? mulai saat ini aku akan melupakan kamu," ucap Caca.
"Iya Ca, aku harap kamu berubah dan lupakan aku, semoga kamu dapat pria yang baik yang mencintai kamu, kamu jangan selalu memaksakan hati orang lain, karena itu tidak baik." ucap Byan.
"Iya Yan, tapi masih boleh kan kalau kita berteman?" tanya Caca.
"Boleh kok, asal jangan macam-macam saja." ucap Byan.
"Ngga, aku ngga bakalan macama-macam lagi." jawab Caca.
"Nat, sekali lagi maaf kan aku ya? Aku janji ngga bakalan ganggu kalian berdua lagi, tapi aku mohon sama kalian jangan membenci aku ya." ucap Cintya.
"Oke Cin, tapi kalau sekali lagi kamu buat calon istri ku ini terluka, maka tiada maaf lagi buat kamu." ucap Nathan dengan serius.
"Emang nya gue setuju, lo jadi suami nya adik gue?" goda Byan.
"Kalau ngga di setujui aku akan menculik nya." jawab Nathan.
"Sebelum kamu culik Dira, saya pastikan kamu dan keluarga kamu hancur." ucap Raka yang ikut menggoda Nathan.
"Maaf om, ngga deh aku ngga bakalan culik anak om." ucap Nathan dengan kedua telapak tangan yang di satukan.
Mereka pun tertawa melihat wajah Nathan yang sedikit ketakutan dengan ancaman dari Raka.
"Yan, Put, terima kasih banyak pokok nya, atas kebaikan kalian dan keluarga kalian semua nya, tapi boleh ngga aku meminta pertolongan satu lagi." ucap Dela.
__ADS_1
"Apa kak." jawab Putri.
"Bisa ngga kalian membebaskan Sandi juga?" tanya Dela pelan.
"Kalau untuk Sandi tidak bisa kita bebaskan, tapi kalau Sandi nya menjalankan hukuman ini dengan baik dan tidak membuat keributan nanti nya ada pemotongan masa tahanan." jawab Farel yang mendengar permintaan dari Dela.
"Maaf ya Del, bukan kita ngga mau membebaskan kak Sandi, tapi mungkin laporan nya sudah masuk jadi ngga bisa kita bebaskan lagi." ucap Putri.
"Ya sudah ngga apa-apa, tapi atas nama Sandi aku minta maaf yang sebesar-besar nya atas apa yang telah di lakukan oleh Sandi." ucap Dela.
"Iya kak, kita juga sudah memaafkan nya kok, tapi kalau masalah hukum itu di luar kemampuan kita." jawab Putri.
"Om, Tante, makasih banyak ya sudah mau memaafkan dan membebaskan kami semua." ucap mereka satu persatu sambil mencium telapak tangan orang tua Putri, orang tua Dira dan orang tua Cintya.
"Iya nak, sama-sama, setelah ini kalian jangan berulah lagi, jadikan ini sebagai pembelajaran." ucap Ayu.
"Iya tan." jawab mereka semua nya.
"Beruntung kalian mendapat dukungan dari keluarga Putri dan Dira, kalau tidak, kalian tidak bisa bebas hari ini, dan kalian akan mendekam beberapa tahun ke depan." ucap pak Dimas.
"Maaf kan kami om." ucap mereka bersamaan.
"Iya pak, kami siap lapor." jawab mereka serempak seperti lagi paduan suara.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita pulang ke rumah masing-masing, dan jangan di ulangi lagi." ucap Raka.
"Iya om." kembali paduan suara menjawab.
"Pak, boleh ngga aku bertemu dulu sama Sandi sebentar saja." ucap Dela pada pak Rizal.
"Ya sudah ayo." ajak pak Rizal.
"Sebentar ya, saya cuma mau pamit aja kok." ucap Dela, mereka semua pun mengangguk kan kepala nya tanda setuju.
Dela pun mengikuti langkah pak Rizal dan masuk ke ruang khusus menjenguk yang sebelah nya lalu duduk, sedangkan pak Rizal pergi memanggil Sandi ke ruang tahanan.
"Del." panggil Sandi yang kaget melihat Dela yang sedang duduk di ruang jenguk.
"Sayang." teriak Dela lalu memeluk erat tubuh Sandi sambil menangis.
__ADS_1
"Kamu kenapa Yang?" tanya Sandi.
"Aku bebas, keluarga Putri dan Dira sudah memaafkan dan mencabut laporan nya." jawab Dela.
"Kamu beruntung yang bisa langsung bebas, sedangkan aku, mereka ngga akan memaafkan kesalahan yang fatal yang telah aku lakukan." ucap Sandi.
"Kata siapa?" teriak Byan dan Putri sambil masuk dengan tangan yang bergandengan.
"Byan, Putri." gumam Sandi sambil melepaskan pelukan nya.
"Yan maafkan gue ya, gue salah dan gue menyesal dengan semua ini, mungkin ini juga teguran buat gue pribadi." ucap Sandi dengan wajah menyesal nya.
"Tenang saja bro, kita berdua sudah memaafkan kalian kok, cuma kalau masalah hukum, itu bukan hak gue." ucap Byan sambil menepuk bahu Sandi.
"Iya ngga apa-apa, ini konsekuensi yang harus gue terima, kapan kalian ngadain resepsi?" tanya Sandi.
"Nanti kalau udah waktu nya kita undang kalian kok." jawab Byan.
"Tapi gue masih lama di sini." ucap Sandi.
"Kamu ngga akan lama kok Yang, asal kamu berperilaku baik di sini pasti akan mendapatkan potongan masa tahanan." ucap Dela.
"Benar yang di katakan Dela, kalian bertiga sudah di tunggu di luar." ucap pak Rizal.
"Ya sudah kita balik ya." ucap Byan.
"Iya Yan, sekali lagi terima kasih kalian berdua sudah memaafkan kesalahan gue." ucap Sandi.
"Santai saja, ayo sayang kita pulang." ajak Byan pada Putri.
"Aku pulang ya Yang? Besok aku kesini lagi sambil bawain kamu makanan." ucap Dela.
"Hati-hati ya sayang." ucap Sandi sambil memeluk dan mencium kening Dela.
Sandi pun menatap kepergian Dela dengan tatapan sendu nya, lalu masuk kembali ke ruang tahanan.
Mereka pun kini sedang dalam perjalanan pulang, Caca, Resi dan Dela di antar oleh sopir nya Fadil, sedangkan Nisa ikut dengan Fadil.
Cintya ikut dengan mobil orang tua nya, sepanjang perjalanan Cintya terus meminta maaf sambil memeluk ibu nya.
__ADS_1
Putri dan Dira masing-masing pulang bersama pasangan nya naik motor, dan membuat ke empat wanita itu iri melihat kemesraan mereka.